Krisis Iran: AS siap untuk negosiasi serius dengan Teheran

Kamis, 09 Januari 2020 | 14:39 WIB Sumber: BBC,Reuters
Krisis Iran: AS siap untuk negosiasi serius dengan Teheran

ILUSTRASI. Salah satu anggota pasukan militer AS. (Dok. REUTERS)


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat mengatakan, pihaknya siap untuk terlibat tanpa prasyarat dalam negosiasi serius dengan Iran menyusul pertukaran tawanan antar kedua negara tersebut.

Dalam sebuah surat kepada PBB, AS membenarkan keputusannya untuk membunuh Jenderal Iran Qasem Soleimani sebagai tindakan membela diri.

Iran telah membalas dengan menembakkan rudal ke pangkalan udara yang menampung pasukan AS di Irak tanpa menimbulkan korban. Iran juga mengatakan kepada PBB bahwa itu adalah tindakan membela diri.

Jenderal Soleimani secara luas dianggap sebagai pejabat senior kedua Iran.

Baca Juga: Ini lima poin pidato Trump soal rudal Iran: Salahkan Obama hingga kritik NATO

Sebagai kepala Pasukan Quds elit Pengawal Revolusi, ia merupakan arsitek kebijakan Iran di wilayah tersebut.

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menggambarkan serangan rudal itu sebagai "tamparan di muka" bagi AS dan menyerukan diakhirinya kehadiran Amerika di Timur Tengah.

Serangan AS terhadap Soleimani juga membunuh anggota milisi Irak yang didukung Iran, yang juga bersumpah akan membalas dendam.

Baca Juga: Dunia mulai meragukan legalitas serangan drone AS yang tewaskan Soleimani

Namun, Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan kepada CBS News bahwa "intelijen" mengindikasikan bahwa Iran telah meminta milisi sekutunya untuk tidak menyerang sasaran AS.

Dewan Perwakilan Rakyat AS telah menjadwalkan pemungutan suara hari Kamis dengan tujuan  membatasi kemampuan Presiden Donald Trump untuk berperang melawan Iran tanpa persetujuan khusus dari Kongres.

Dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada Dewan Keamanan PBB, Duta Besar AS untuk PBB Kelly Craft mengatakan bahwa AS siap untuk bernegosiasi dengan tujuan mencegah rusaknya perdamaian dan keamanan internasional lebih lanjut atau eskalasi oleh rezim Iran.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru