Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - China memanfaatkan masa gencatan dagang dengan Amerika Serikat untuk memperluas pengaruh hukumnya, memperketat kontrol rantai pasok serta teknologi strategis, sekaligus menambah daftar langkah balasan ekonomi menjelang pertemuan puncak kedua negara bulan depan.
Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump menandatangani kesepakatan di Busan, Korea Selatan, pada Oktober lalu untuk meredakan perang dagang. Namun, gencatan dagang yang rapuh ini dijadwalkan berakhir pada November 2026.
Mengutip Reuters, berikut langkah-langkah balasan baru yang diumumkan Beijing sejak kesepakatan tersebut diteken:
15 April 2026
Pejabat China menggelar pembicaraan awal dengan pemasok peralatan produksi panel surya, seiring pertimbangan untuk membatasi ekspor teknologi paling maju ke Amerika Serikat. China diperkirakan memproduksi lebih dari 80% komponen panel surya dunia.
13 April 2026
Dewan Negara (State Council) China menerbitkan regulasi baru yang memberi kewenangan untuk melakukan tindakan balasan terhadap negara asing yang dianggap menerapkan “yurisdiksi ekstrateritorial ilegal.”
Media pemerintah Xinhua menyebut aturan ini dapat digunakan untuk melawan negara yang menerapkan sanksi sekunder, atau efek meluas dari kontrol ekspor, misalnya terkait penerapan aturan ambang batas seperti de minimis.
7 April 2026
Dewan Negara China menerbitkan regulasi baru terkait keamanan industri dan rantai pasok. Aturan ini memberi kewenangan kepada otoritas China untuk menyelidiki dan mengambil tindakan terhadap negara asing, perusahaan, atau organisasi internasional yang dianggap menerapkan langkah diskriminatif yang merusak industri dan rantai pasok China.
Baca Juga: Diam-Diam, China Siapkan Senjata Ekonomi Baru Hadapi AS, Ini Buktinya!
24 Februari 2026
Kementerian Perdagangan China, dalam eskalasi konflik dengan Tokyo, melarang ekspor barang penggunaan ganda (dual-use) kepada 20 entitas Jepang yang disebut memasok kebutuhan militer Jepang. Termasuk di antaranya rare earth penting yang digunakan dalam mobil, elektronik konsumen, hingga persenjataan.
14 Januari 2026
Otoritas China meminta perusahaan domestik menghentikan penggunaan perangkat lunak keamanan siber buatan lebih dari selusin perusahaan asal AS dan Israel karena alasan keamanan nasional.
9 Januari 2026
China mulai membatasi ekspor rare earth “berat” dan magnet berkekuatan tinggi yang mengandung mineral tersebut kepada perusahaan Jepang.
30 Desember 2025
China mewajibkan produsen chip memakai minimal 50% peralatan buatan dalam negeri untuk ekspansi kapasitas baru, sejalan dengan upaya membangun rantai pasok semikonduktor yang mandiri.
8 November 2025
Kontrol ekspor China atas beberapa baterai lithium-ion kelas tinggi, katoda, material anoda grafit, serta pengetahuan teknologi terkait mulai berlaku.
5 November 2025
China mengeluarkan panduan agar proyek pusat data (data center) baru yang menerima dana negara hanya menggunakan chip kecerdasan buatan (AI) buatan dalam negeri.
30 Oktober 2025
Xi dan Trump bertemu di Busan dan menandatangani kesepakatan untuk meredakan perang dagang. Trump setuju memangkas tarif terhadap China sebagai imbalan Beijing menindak perdagangan ilegal fentanyl, melanjutkan pembelian kedelai dari AS, serta menjaga ekspor rare earth tetap mengalir.
Tonton: BEI Keluarkan BREN dan DSSA dari Indeks LQ45, Ini Daftar Saham Penggantinya
9 Oktober 2025
Menjelang perundingan Xi-Trump, China memperluas kontrol ekspor rare earth secara besar-besaran dengan menambahkan lima elemen baru: holmium, erbium, thulium, europium, dan ytterbium, serta memperketat pengawasan untuk sektor semikonduktor.
China sebagai produsen rare earth terbesar dunia juga memasukkan puluhan teknologi pemurnian ke dalam daftar kontrol, serta mengumumkan aturan yang mewajibkan produsen rare earth asing yang memakai bahan baku China untuk mematuhi regulasi Beijing.













