kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

kspansi Keuangan Global Bergeser, Asia Pasifik Makin Diminati Investor


Rabu, 01 Juli 2026 / 03:00 WIB
kspansi Keuangan Global Bergeser, Asia Pasifik Makin Diminati Investor
ILUSTRASI. GLOBAL-FOREX/ (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - MUMBAI. Peta ekspansi perusahaan jasa keuangan global di Asia mulai bergeser. Jika sebelumnya China menjadi magnet utama investasi, kini Korea Selatan justru muncul sebagai tujuan yang semakin diminati. Sebaliknya, perusahaan global mengambil langkah lebih hati-hati dalam mengembangkan bisnis di China maupun India.

Melansir Reuters (30/6), temuan tersebut terungkap dalam survei yang dilakukan Asia Securities Industry & Financial Markets Association (ASIFMA) bersama KPMG terhadap 34 perusahaan jasa keuangan global.

Hasil survei menunjukkan sekitar dua pertiga responden berencana memperluas bisnis mereka di kawasan Asia-Pasifik dalam tiga tahun ke depan. Namun, strategi ekspansi kini lebih selektif. Perusahaan memilih memperbesar bisnis yang sudah ada dan menambah lini produk di pasar-pasar tertentu, ketimbang berekspansi secara luas.

Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, China, Jepang, India, dan Taiwan menjadi tujuan yang paling banyak dipertimbangkan. Namun, Korea Selatan mencatat lonjakan minat paling signifikan.

Chief Executive ASIFMA Peter Stein mengatakan, persaingan antarnegara di Asia dalam menarik modal asing kini semakin ketat. Menurutnya, dominasi China sebagai tujuan utama investasi global mulai memudar.

"Persaingan di Asia telah meningkat. Lima tahun lalu, China menjadi tujuan utama modal asing. Kini semakin banyak negara di Asia yang bersaing untuk memperoleh porsi arus modal global kelas satu," ujar Stein.

Baca Juga: China Bergerak Lagi! PBOC Tambah Reverse Repo Overnight untuk Jaga Pasar Keuangan

Minat ekspansi ke Korea Selatan melonjak menjadi sekitar 50% dari total responden, naik tajam dari hanya 21% pada survei tahun lalu.

Stein menilai Korea Selatan selama ini cenderung kurang mendapat perhatian investor global. Namun, sentimen terhadap negara tersebut kini berubah sangat positif, tidak hanya di pasar saham tetapi juga di pasar obligasi.

Ia menyebut ekspektasi meningkatnya aktivitas pasar obligasi didukung oleh peta jalan pemerintah Korea Selatan untuk masuk ke dalam World Government Bond Index (WGBI).

Sementara itu, Singapura tetap menjadi salah satu tujuan utama ekspansi. ASIFMA menilai daya tarik negara tersebut didukung posisi geopolitiknya yang relatif netral karena tidak berpihak kepada China, Amerika Serikat maupun blok ASEAN tertentu.

Di sisi lain, perusahaan global semakin berhati-hati terhadap dua pasar terbesar Asia, yakni China dan India.

Di China, kekhawatiran utama berkaitan dengan ketegangan geopolitik, aturan pengelolaan data, serta kebijakan pengendalian arus modal. Minat ekspansi ke negara tersebut kini bertahan di kisaran 40%, lebih rendah dibandingkan puncaknya pada beberapa tahun lalu.

ASIFMA juga mencatat daya tarik relokasi bisnis ke China daratan terus melemah karena perusahaan semakin ragu terhadap prospek eksposur bisnis jangka panjang di negara tersebut.

Sementara di India, tantangan lebih banyak berasal dari regulasi domestik dan hambatan operasional. Meski peringkat kemudahan berbisnis India naik ke posisi kelima dari sebelumnya peringkat kedelapan, perusahaan menilai aturan bisnis justru semakin kompleks sehingga minat ekspansi mulai melandai.

Menurut ASIFMA, pemerintah India memang berupaya menyederhanakan proses bisnis. Namun, sejumlah kendala seperti penerapan standar know-your-customer (KYC) dan pembatasan transaksi non-deliverable forwards (NDF) masih menjadi hambatan bagi pelaku industri.

ASIFMA menyimpulkan bahwa perusahaan jasa keuangan global tetap melihat peluang besar di China dan India. Namun, kompleksitas regulasi membuat mereka kini lebih memilih pasar yang menawarkan kepastian kebijakan dan iklim investasi yang lebih kondusif, seperti Korea Selatan dan Singapura.

Baca Juga: Bank Sentral Selandia Baru: Sistem Keuangan Tetap Tangguh di Tengah Risiko Global


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×