Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Departemen Energi AS mengungkapkan, AS dan Arab Saudi telah mencapai kesepakatan tentang tenaga nuklir sipil. Sebuah kesepakatan yang memungkinkan kerajaan tersebut untuk membangun reaktor nuklir menggunakan teknologi Amerika dan untuk memperkaya uranium.
Mengutip Reuters, Kamis (23/7/2026), kesepakatan nuklir sipil dengan Arab Saudi telah diupayakan selama bertahun-tahun, baik selama pemerintahan pertama Presiden Donald Trump maupun mantan Presiden Joe Biden. Tidak seperti rencana Biden, kesepakatan saat ini tidak mencakup protokol tambahan yang memungkinkan Badan Energi Atom Internasional PBB untuk melakukan inspeksi mendadak yang invasif.
Kesepakatan itu juga akan memungkinkan Arab Saudi untuk memperkaya uranium dan mengolah kembali limbah nuklir, yang keduanya merupakan jalur potensial untuk membuat senjata nuklir.
UEA setuju untuk mengesampingkan keduanya ketika menandatangani kesepakatan serupa dengan AS pada tahun 2009.
Baca Juga: Yield Treasury AS Sentuh Level Tertinggi 2 Bulan, Antisipasi The Fed Kembali Hawkish
Menteri Energi AS Chris Wright dan mitranya Pangeran Abdulaziz bin Salman menandatangani pakta tersebut, yang dikenal sebagai Perjanjian 123, bersamaan dengan perjanjian pengamanan bilateral, kata Departemen Energi AS dalam sebuah rilis.
Pemerintah mengatakan kesepakatan itu juga mematuhi perjanjian nonproliferasi dalam Undang-Undang Energi Atom AS, yang merupakan salah satu yang terkuat di dunia.
Arab Saudi telah lama mengatakan jika tidak bermitra dengan AS, mereka dapat bermitra dengan China atau Rusia yang memiliki standar proliferasi yang berbeda.
Departemen energi mengatakan kesepakatan itu sekarang akan diajukan ke Kongres. Kecuali Kongres meningkatkan suara untuk menolak kesepakatan tersebut dalam waktu 90 hari sidang, kesepakatan itu akan berlaku.
Tetapi Kongres membutuhkan mayoritas dua pertiga untuk mengesampingkan veto presiden. Beberapa anggota parlemen Demokrat telah menyatakan kekhawatiran bahwa kesepakatan itu dapat memicu perlombaan senjata di Timur Tengah.
Baca Juga: Gelombang Panas di Prancis Sebabkan 5.764 Kematian Berlebih dalam Dua Pekan
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman telah berulang kali mengatakan bahwa ia tidak ingin kerajaan itu membangun senjata nuklir, tetapi akan melakukannya jika Iran melakukannya.
"Mereka membiarkan Arab Saudi, negara yang agresif dan otoriter, mengembangkan teknologi senjata nuklir sambil memulai perang dengan Iran dengan dalih mencegah bom nuklir Iran," kata Senator Edward Markey, seorang Demokrat.
"Kesepakatan ini akan membuat kita semua kurang aman."













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
