Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Freeport-McMoRan mencatatkan laba kuartal III 2026 yang melampaui estimasi analis Wall Street. Kenaikan harga tembaga berhasil mengimbangi penurunan produksi di kompleks tambang Grasberg, Indonesia, yang masih dalam tahap pemulihan pasca-insiden aliran lumpur pada September 2025.
Gangguan pasokan tambang serta permintaan yang kuat dari China —konsumen tembaga terbesar di dunia—mendorong rata-rata harga tembaga di London Metal Exchange naik 43% di kuartal III 2026 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sementara itu, harga jual rata-rata tembaga yang direalisasikan oleh Freeport meningkat sekitar 40% menjadi US$ 6,54 per pon.
Produsen tembaga terbesar di dunia yang melantai di bursa saham ini melaporkan laba kuartalan yang disesuaikan sebesar 88 sen per saham, mengungguli estimasi rata-rata analis sebesar 81 sen, menurut data LSEG yang dikutip Reuters, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga: AS Rampungkan Pinjaman US$ 5,1 Miliar ke Alliant Energy untuk Pembangkit Listrik
Capaian ini diraih meskipun produksi tembaga turun 9% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 832 juta pon. Penurunan ini terutama disebabkan oleh tingkat operasional yang lebih rendah di Grasberg, salah satu kompleks tambang tembaga dan emas terbesar di dunia.
Tambang tersebut, yang sebagian besar sahamnya dimiliki Pemerintah Indonesia dan dioperasikan oleh Freeport, sempat dilanda aliran lumpur besar pada September tahun lalu. Insiden itu menewaskan tujuh pekerja dan menghentikan operasional selama hampir satu bulan.
Freeport terus berupaya melakukan perbaikan di lokasi tambang tersebut. Operasional diperkirakan akan mencapai 80% dari kapasitas pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.
Penjualan emas juga terdampak oleh waktu pengiriman dan proses pemurnian di Indonesia, dengan penurunan sebesar 68,7% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 105.000 ons.
Kendati demikian, berkat harga tembaga yang lebih tinggi, Freeport mencatatkan laba bersih sebesar US$ 1,2 miliar di kuartal III 2026, melonjak 74% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Freeport menyatakan tengah mengupayakan pertumbuhan dari aset-aset yang ada di luar Indonesia.
Freeport berencana untuk mengambil keputusan investasi pada kuartal keempat terkait usulan perluasan tambang Bagdad miliknya di Arizona, yang berpotensi menambah produksi tembaga tahunan sebesar 200 juta hingga 250 juta pon dengan perkiraan biaya modal sebesar US$ 4,5 miliar.
Baca Juga: Raksasa Barang Konsumsi Dunia Bersiap Naikkan Harga














