kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Libur Paskah Australia Sepi, Kenaikan Harga BBM Bikin Warga Batal Liburan


Jumat, 03 April 2026 / 14:13 WIB
Libur Paskah Australia Sepi, Kenaikan Harga BBM Bikin Warga Batal Liburan
ILUSTRASI. Sydney Australia (REUTERS/Hollie Adams)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Tradisi liburan panjang saat Paskah yang biasanya ramai di Australia tahun ini mulai sepi. Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik Iran memaksa banyak warga membatalkan rencana perjalanan mereka.

Salah satunya adalah pensiunan asal Sydney, Elsa Ulcak (67), yang setiap tahun biasanya bepergian ke pedesaan bersama suaminya. Namun kali ini, ia memilih tetap di rumah karena biaya bensin yang dianggap terlalu mahal.

“Kami biasanya pergi ke pedesaan, tapi karena situasi bensin, kami memutuskan untuk tinggal di rumah tahun ini,” ujar Elsa. Ia menambahkan, perjalanan selama enam hingga tujuh jam akan menghabiskan banyak biaya dan bahan bakar.

Menurut Ulcak, penggunaan BBM juga perlu diprioritaskan bagi mereka yang masih bekerja. “Kami sudah pensiun, jadi bisa tinggal di rumah. Semua teman yang biasanya ikut juga membatalkan,” katanya.

Padahal, akhir pekan panjang Paskah biasanya menjadi salah satu periode perjalanan tersibuk di Australia. Pada 2025, lebih dari 4,5 juta orang diperkirakan bepergian dengan total pengeluaran mencapai 11,1 miliar dollar Australia, menurut lembaga riset Roy Morgan.

Namun tahun ini, rencana tersebut terganggu oleh pecahnya konflik Iran sejak 28 Februari serta blokade di Selat Hormuz yang menghambat pasokan energi global.

Australia yang mengimpor sekitar 90% kebutuhan bahan bakarnya kini mengalami kelangkaan di beberapa wilayah. Harga pun melonjak tajam diesel sempat menembus lebih dari 3 dolar Australia per liter dan bensin di atas 2,50 dolar Australia, sebelum pemerintah memangkas pajak BBM untuk meredam kenaikan.

Warga lain, Rachel Abbott (27), juga membatalkan rencana mudik ke Victoria timur laut. Ia menilai biaya perjalanan, baik dengan mobil maupun pesawat, terlalu mahal.

“Pekerjaan sedang sibuk dan harga tiket pesawat sangat mahal. Kalau menyetir juga jelas jauh lebih mahal,” ujarnya.

Sementara itu, pekerja kemanusiaan Stav Zotalis (59) tetap tidak berencana bepergian seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun ia merasakan suasana tahun ini berbeda karena situasi global yang tidak menentu.

“Rasanya dunia sedang goyah, tidak bisa diprediksi. Saya merasa kita tidak tahu ke mana arah situasi ini,” katanya.

Meski merasakan dampak kenaikan harga di pom bensin dan supermarket, Zotalis mengaku lebih khawatir pada masyarakat yang berada di wilayah konflik.

“Saya sudah 25 tahun bekerja di bantuan luar negeri dan tinggal lama di Asia. Saya tahu orang-orang yang lebih dekat dengan konflik bahkan harus mengorbankan kebutuhan makanan, bukan sekadar liburan seperti kita di Australia,” ujarnya.

Lonjakan harga energi global kini tidak hanya menekan ekonomi, tetapi juga mengubah kebiasaan masyarakat, termasuk tradisi liburan tahunan yang biasanya dinanti-nantikan.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×