Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur di sejumlah negara Asia kembali tumbuh pada September 2026, didorong kuatnya permintaan global terhadap semikonduktor dan produk yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).
Survei swasta yang dirilis Kamis (1/10/2026) menunjukkan, negara-negara dengan basis ekspor besar seperti Jepang, Korea Selatan dan Taiwan mencatat ekspansi aktivitas manufaktur.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Nomor 2 Tercepat di G20, Ungguli China dan AS
Kondisi tersebut memberikan sedikit kelegaan bagi pembuat kebijakan di tengah meningkatnya tekanan biaya akibat kenaikan harga energi.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu risiko terhadap prospek ekonomi global, terutama di tengah ketegangan akibat perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Korea Selatan menjadi salah satu negara dengan penguatan aktivitas manufaktur paling signifikan. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Korea Selatan yang dirilis S&P Global naik menjadi 53,9 pada September dari 52,3 pada Agustus.
Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Mei dan tetap berada di atas level 50 yang menandai ekspansi aktivitas manufaktur. PMI Korea Selatan juga tercatat berada di zona ekspansi selama 10 bulan berturut-turut.
Pertumbuhan aktivitas pabrik Korea Selatan pada September menjadi yang tercepat dalam empat bulan. Permintaan ekspor bahkan meningkat pada laju tercepat dalam 15,5 tahun.
"Pertumbuhan pesanan baru dan produksi mencapai level tertinggi dalam sekitar lima setengah tahun. Bukti dari pelaku usaha sering mengaitkan ekspansi tersebut dengan kekuatan gabungan sektor semikonduktor dan otomotif," kata Usamah Bhatti, ekonom S&P Global Market Intelligence.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Usai September Berat Kamis (1/10), Yield Obligasi AS Jadi Sorotan
Taiwan Ikut Didorong Boom AI
Taiwan juga menikmati manfaat dari meningkatnya investasi global di sektor AI. PMI manufaktur Taiwan naik menjadi 56,7 pada September dari 54,7 pada Agustus.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur Taiwan semakin kuat di tengah tingginya permintaan chip dan produk yang mendukung pengembangan infrastruktur AI global.
Taiwan merupakan salah satu pusat utama produksi semikonduktor dunia, sehingga peningkatan investasi AI turut mendorong permintaan terhadap produk manufakturnya.
Baca Juga: Manufaktur Korea Selatan Tumbuh Tercepat 4 Bulan, Pesanan Ekspor Melonjak
Sementara itu, aktivitas manufaktur Jepang masih mencatat ekspansi meski dengan laju yang lebih lambat.
PMI manufaktur Jepang versi S&P Global berada di level 54,1 pada September, turun dari 54,9 pada Agustus. Angka tersebut menjadi laju ekspansi paling lemah dalam enam bulan terakhir.
Perlambatan terjadi seiring pertumbuhan produksi dan pesanan baru yang melambat. Namun, permintaan dari luar negeri tetap kuat.
Pesanan ekspor baru Jepang meningkat selama sembilan bulan berturut-turut, didorong permintaan yang kuat dari kawasan Asia serta membaiknya penjualan ke Amerika Serikat.
Tekanan Biaya Masih Membayangi
Di tengah ekspansi aktivitas manufaktur, tekanan biaya masih menjadi perhatian. Survei PMI Jepang menunjukkan perusahaan masih menaikkan harga jual dengan laju yang termasuk paling tajam sejak akhir 2022.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan aktivitas manufaktur Asia belum sepenuhnya lepas dari risiko inflasi, terutama jika kenaikan harga energi berlanjut.
Sementara itu, perkembangan aktivitas manufaktur di negara Asia lainnya masih beragam.
Baca Juga: Ekspor Korea Selatan Tembus US$120 Miliar untuk Pertama Kali, Ditopang Chip AI
Indonesia dan Vietnam mencatat ekspansi aktivitas pabrik pada September. Sebaliknya, aktivitas manufaktur di Filipina dan Malaysia mengalami kontraksi.
China juga mencatat ekspansi aktivitas manufaktur pada September. Aktivitas pabrik kembali meningkat setelah gangguan cuaca mereda dan memungkinkan perusahaan melanjutkan operasional.
Secara keseluruhan, penguatan manufaktur Asia memberikan dukungan terhadap prospek ekonomi kawasan. Namun, kenaikan harga energi dan tekanan biaya tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan oleh pelaku usaha dan pembuat kebijakan.














