kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.531.000   5.000   0,20%
  • USD/IDR 18.153   -6,00   -0,03%
  • IDX 5.097   39,78   0,79%
  • KOMPAS100 657   5,57   0,85%
  • LQ45 518   2,72   0,53%
  • ISSI 170   0,84   0,50%
  • IDX30 291   1,43   0,49%
  • IDXHIDIV20 391   -0,27   -0,07%
  • IDX80 76   0,57   0,76%
  • IDXV30 109   -0,28   -0,25%
  • IDXQ30 97   -0,51   -0,52%

Manufaktur Asia Melambat, Tekanan Biaya Meningkat


Senin, 02 November 2026 / 16:23 WIB
Manufaktur Asia Melambat, Tekanan Biaya Meningkat
ILUSTRASI. Nanjing-Port (CFOTO via Reuters Connect/CFOTO)


Sumber: Reuters | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Mesin manufaktur Asia mulai kehilangan tenaga. Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok sama-sama mencatat perlambatan aktivitas industri pada Oktober 2026. Pelemahan pesanan baru dan produksi menjadi penekan, sementara kenaikan biaya serta persaingan harga membayangi prospek industri kawasan.

Di Jepang, pertumbuhan sektor manufaktur melambat ke level terendah dalam tujuh bulan. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Jepang yang dirilis S&P Global turun menjadi 53,3 pada Oktober dari 54,1 pada September.

Meski masih berada di zona ekspansi, perlambatan terjadi pada pertumbuhan output dan pesanan baru. Keduanya masih meningkat selama 10 bulan berturut-turut, tetapi laju pertumbuhannya menjadi yang terlemah dalam tujuh bulan terakhir.

Permintaan semikonduktor dan produk terkait kecerdasan buatan (AI) masih menjadi penopang industri Jepang. Permintaan dari sejumlah pasar luar negeri, termasuk Asia, Amerika Utara, Afrika, dan Timur Tengah, juga tetap memberikan dukungan meski pertumbuhan pesanan ekspor melemah.

Melansir Reuters (2/11/2026), Associate Director Ekonomi S&P Global Market Intelligence Phil Smith mengatakan, pertumbuhan produksi dan pesanan baru Jepang memang tidak sekuat awal tahun. Namun, ekspansi manufaktur pada awal kuartal IV-2026 masih tergolong cukup baik dibandingkan standar historis.

Tekanan biaya justru meningkat. Inflasi harga bahan baku naik pada Oktober, sementara kenaikan harga jual melambat ke level terendah dalam enam bulan. Untuk mengantisipasi kenaikan biaya lebih lanjut, perusahaan meningkatkan persediaan bahan baku dengan laju tercepat dalam hampir empat tahun.

Perlambatan lebih tajam terjadi di Korea Selatan. PMI manufaktur negara tersebut turun dari 53,9 pada September menjadi 51,3 pada Oktober, sekaligus menjadi level terendah sejak Februari 2026. Meski demikian, indeks masih bertahan di atas ambang batas 50 selama 11 bulan berturut-turut.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti menyebut, pelemahan permintaan, keterbatasan pasokan bahan baku, dan tingginya biaya menjadi faktor yang menekan kinerja manufaktur Korea Selatan. Pertumbuhan output bahkan mencapai titik terendah dalam 10 bulan, sedangkan pesanan baru melambat, terutama dari sektor otomotif.

Baca Juga: Binance Dibobol US$ 6,3 Miliar, Picu Kekhawatiran Investor Kripto

Masih tangguh

Di sisi lain, industri manufaktur Tiongkok masih menunjukkan ketahanan. PMI manufaktur yang disusun S&P Global turun tipis menjadi 52 pada Oktober dari 52,1 pada September. Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 51,6 dan masih menunjukkan ekspansi.

Produksi manufaktur Tiongkok bahkan tumbuh dengan laju tercepat dalam enam bulan. Namun, pertumbuhan pesanan ekspor melambat ke level terendah dalam tiga bulan. Persaingan bisnis yang semakin ketat juga mendorong produsen memangkas harga jual untuk mempertahankan penjualan.

Kondisi tersebut tercermin dari penurunan harga output setelah sempat meningkat pada September. Harga ekspor Tiongkok juga turun untuk pertama kalinya sejak November 2025. Sementara itu, tumpukan pekerjaan terus meningkat selama sembilan bulan berturut-turut, menandakan beban kerja yang semakin besar di tengah keterbatasan kapasitas produksi.

Berbeda dengan Jepang yang mencatatkan peningkatan optimisme, keyakinan bisnis manufaktur Tiongkok justru turun ke level terendah dalam sembilan bulan. Tingginya harga bahan baku dan persaingan yang semakin ketat menjadi kekhawatiran pelaku industri.

Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur Asia masih berada di jalur ekspansi, tetapi mulai kehilangan tenaga. Permintaan AI dan semikonduktor menjadi penopang penting, sementara pelemahan pesanan ekspor, kenaikan biaya produksi, serta persaingan harga masih membayangi prospek industri kawasan.

Baca Juga: Bos Minyak Ini Ingatkan Cadangan Penyangga Pasokan Energi Dunia Telah Terkuras




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×