Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Aktivitas manufaktur India kembali menunjukkan taringnya di awal tahun. Survei terbaru memperlihatkan sektor pabrik India mencatat ekspansi tercepat dalam empat bulan pada Februari 2026, ditopang derasnya permintaan domestik. Namun di balik penguatan itu, laju ekspor justru melambat ke titik terendah dalam hampir satu setengah tahun.
Mengutip Reuters (2/3), data Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur HSBC India yang disusun S&P Global naik ke level 56,9 pada Februari, dari 55,4 pada Januari. Angka ini lebih rendah dari estimasi awal 57,5, tetapi tetap solid di atas ambang 50 yang menandakan ekspansi.
Kinerja ini mengindikasikan ekonomi India masih cukup tangguh. Pada kuartal Oktober–Desember, ekonomi India tumbuh 7,8% secara tahunan, ditopang lonjakan sektor manufaktur sebesar 13,3%. Sepanjang tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, ekonomi terbesar ketiga di Asia ini diperkirakan tumbuh 7,6%.
“PMI manufaktur final India mencerminkan percepatan aktivitas manufaktur pada Februari. Output meningkat lebih cepat untuk bulan kedua berturut-turut, didukung oleh pesanan domestik yang lebih kuat,” ujar Pranjul Bhandari, Kepala Ekonom India di HSBC.
Baca Juga: Meski ada Tarif Trump, PDB India di Kuartal IV 2025 Mampu Lampaui Ekspektasi Pasar
Permintaan domestik menjadi penopang utama. Pesanan baru melonjak pada laju terkuat sejak Oktober, sementara volume produksi meningkat paling cepat dalam empat bulan. Pelaku usaha menyebut efisiensi yang lebih baik, permintaan yang solid, serta investasi teknologi sebagai faktor pendorong.
Namun, cerita berbeda datang dari sektor eksternal. Pertumbuhan pesanan ekspor baru tercatat paling lambat dalam 17 bulan. “Pertumbuhan pesanan ekspor baru terus melambat sejak pertengahan 2025, yang sedikit membatasi penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur,” kata Bhandari.
Perlambatan ini mencerminkan ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda. Meski tarif Amerika Serikat atas barang-barang India telah dipangkas dari 50% menjadi 18%, pelaku usaha masih berhati-hati. Apalagi, Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengumumkan tarif global baru setelah Mahkamah Agung membatalkan sebagian pungutan sebelumnya. Ketidakpastian kebijakan dagang masih menjadi bayang-bayang bagi eksportir.
Dari sisi biaya, tekanan inflasi input relatif moderat dan tidak berubah dibanding Januari. Meski begitu, produsen menaikkan harga jual pada laju tercepat dalam empat bulan. Kuatnya permintaan domestik memberi ruang bagi perusahaan untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Sementara itu, penciptaan lapangan kerja belum sepenuhnya pulih. Tingkat ketenagakerjaan memang naik ke posisi tertinggi dalam empat bulan, tetapi peningkatannya tipis. Hanya sekitar 4% perusahaan yang melaporkan penambahan tenaga kerja.
Ke depan, optimisme pelaku usaha terhadap prospek satu tahun mendatang meningkat ke level tertinggi dalam empat bulan. Artinya, selama konsumsi domestik tetap kuat, ekonomi India berpeluang menjaga momentumnya. Tantangannya ada pada permintaan global yang masih rapuh dan arah kebijakan perdagangan internasional yang belum sepenuhnya pasti.
Baca Juga: Ekspansi Agresif Hyatt Bidik Ledakan Wisata India













