Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - RIYADH. Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengatakan telah menyerang stasiun pemompaan minyak mentah East-West Arab Saudi dan bandara Riyadh, karena meningkatnya permusuhan mencekik pasokan minyak dan mengancam akan meletus menjadi konflik yang lebih besar.
Koalisi pimpinan Saudi di Yaman sebelumnya mengatakan telah menghancurkan dua peluncur rudal balistik di ibu kota Sanaa, termasuk satu yang digunakan untuk menembakkan rudal ke arah Riyadh yang menurut koalisi telah dicegat.
Belum ada konfirmasi langsung dari Saudi mengenai serangan Houthi.
Baca Juga: Arab Saudi Cegat Drone dan Rudal di Riyadh, Konflik dengan Houthi Memanas
Kelompok Houthi telah menembakkan rudal balistik dan drone ke bandara, pelabuhan, dan instalasi minyak Saudi, menjadikan sekutu AS, Arab Saudi, sebagai titik tekanan dalam perang yang lebih luas.
Senin (26/10/2026), Kelompok Houthi juga mengatakan telah menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, yang kembali beroperasi di dua terminal pada hari Minggu (25/10/2026) setelah serangan yang diklaim oleh kelompok tersebut awal bulan ini menewaskan 13 orang, serangan paling mematikan di kerajaan itu dalam lebih dari satu dekade.
Para pejabat tinggi dari negara-negara Pakta Mekah, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dijadwalkan bertemu dengan pejabat Iran di Teheran pada hari Senin untuk membahas koordinasi regional, kata dua orang yang mengetahui masalah tersebut.
Pembicaraan yang direncanakan akan menjadi kontak tingkat tinggi pertama antara Iran dan semua anggota blok tiga negara sejak Arab Saudi mengalami peningkatan serangan dari Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran.
SERANGAN DI DALAM YAMAN
Arab Saudi untuk sementara menutup pipa minyak East-West sepanjang 1.200 km (746 mil) pada bulan September sebagai tindakan pencegahan setelah serangan drone yang menurut Riyadh dan Baghdad berasal dari Irak. Pipa tersebut telah berfungsi sebagai jalur utama untuk ekspor minyak Timur Tengah sementara Selat Hormuz sebagian besar ditutup oleh perang.
Houthi juga mengatakan pada hari Sabtu (24/10/2026) telah menargetkan pipa minyak East-West, stasiun pemompaan minyak mentah, fasilitas Aramco di Yanbu, dan kilang Rabigh. Tidak ada konfirmasi dari Arab Saudi atas klaim tersebut.
Koalisi Saudi mengatakan pada hari ini bahwa mereka juga telah melakukan operasi militer terhadap target Houthi di Yaman, menghancurkan lima terowongan yang digunakan untuk menyimpan rudal balistik, empat peluncur rudal balistik, dan fasilitas penyimpanan rudal.
Baca Juga: Harga Emas Naik Seiring Pelemahan Harga Minyak, Pasar Cermati Keputusan The Fed
Operasi tersebut juga menargetkan jalur pasokan Houthi, para pejuang, dan peralatan militer di sepanjang garis depan di Yaman, kata juru bicara koalisi Turki al-Maliki, seraya berjanji untuk terus melanjutkan "langkah-langkah operasional pencegahan" untuk melindungi warga sipil.
Arab Saudi telah mengintensifkan serangannya terhadap Houthi sejak kelompok tersebut merebut wilayah-wilayah strategis di sepanjang pantai Laut Merah Yaman bulan lalu, maju menuju Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran global utama bagi produsen minyak Teluk di sisi lain Semenanjung Arab dari Selat Hormuz.
Pertempuran terbaru ini secara efektif mengakhiri gencatan senjata yang dimediasi PBB yang sebagian besar telah bertahan sejak 2022. Arab Saudi memimpin koalisi ke dalam perang saudara Yaman pada tahun 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional, setahun setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa.














