kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Arab Saudi Cegat Drone dan Rudal di Riyadh, Konflik dengan Houthi Memanas


Minggu, 25 Oktober 2026 / 17:31 WIB
Arab Saudi Cegat Drone dan Rudal di Riyadh, Konflik dengan Houthi Memanas
ILUSTRASI. Arab Saudi mencegat drone dan rudal yang mengarah ke Riyadh dan wilayah selatan saat konflik dengan Houthi kembali memanas. (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Arab Saudi mencegat sejumlah drone dan rudal yang mengarah ke ibu kota Riyadh serta wilayah selatan negara tersebut pada Minggu (25/10/2026). Insiden ini terjadi ketika pertempuran dengan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terus berlanjut di tengah meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menyatakan, serangan tersebut mencakup dua drone dan satu rudal balistik yang diarahkan ke Riyadh, serta satu rudal jelajah menuju Khamis Mushait, kota di wilayah selatan Arab Saudi.

Koalisi kemudian melaporkan bahwa pihaknya berhasil mencegat 10 rudal balistik yang ditembakkan ke wilayah selatan negara itu.

Sebelum pengumuman pencegatan tersebut, otoritas pertahanan sipil Arab Saudi mengeluarkan peringatan darurat untuk Riyadh, Abha, dan Khamis Mushait. Namun, beberapa menit kemudian, otoritas menyatakan bahwa ancaman telah berlalu.

Baca Juga: Rusia Klaim Serang Kapal Kargo dan Pusat Logistik Ukraina Semalam

Konflik ini semakin memperbesar tekanan terhadap Arab Saudi, yang merupakan sekutu Amerika Serikat (AS), seiring meningkatnya eskalasi perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Houthi Ancam Bandara Internasional Riyadh

Kelompok Houthi memperingatkan bahwa mereka dapat kembali menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Bandara tersebut mulai mengoperasikan kembali dua terminal pada Minggu setelah sebelumnya ditutup akibat serangan mematikan pada awal bulan ini.

Pada Sabtu (24/10/2026), Houthi mengklaim telah menyerang bandara tersebut dan sejumlah fasilitas minyak Arab Saudi. Namun, otoritas Arab Saudi tidak memberikan komentar langsung terkait pernyataan kelompok tersebut.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa bandara itu masih menjadi "target militer". Ia juga memperingatkan seluruh maskapai penerbangan, petugas bandara, dan penumpang agar tidak menggunakan fasilitas tersebut.

Pada Sabtu malam, pengelola bandara mengumumkan bahwa Terminal 1 akan digunakan untuk penerbangan domestik, sedangkan Terminal 2 diperuntukkan bagi penerbangan internasional yang dioperasikan oleh maskapai nasional mulai Minggu.

Bandara Internasional King Khalid menghentikan operasional pada 10 Oktober setelah serangan yang diklaim dilakukan oleh Houthi menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Insiden tersebut menjadi serangan paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.

Baca Juga: Militer AS Larang Mobil Listrik BYD Masuk Pangkalan Udara di Jepang, Ada Apa?

Arab Saudi Tingkatkan Serangan terhadap Houthi

Arab Saudi meningkatkan serangan terhadap kelompok Houthi setelah kelompok tersebut merebut wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah pada bulan lalu.

Penguasaan wilayah itu membuat Houthi semakin mendekati Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi salah satu titik penting bagi perdagangan maritim global.

Selat Bab el-Mandeb memiliki arti penting bagi negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk karena menjadi jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Letaknya berada di sisi berlawanan Semenanjung Arab dari Selat Hormuz, yang juga merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia.

Meningkatnya kembali pertempuran di Yaman turut menghancurkan gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebagian besar bertahan sejak 2022.

Arab Saudi mulai terlibat langsung dalam perang saudara Yaman pada 2015 dengan memimpin koalisi yang mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Intervensi tersebut dilakukan setelah kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×