Sumber: Reuters | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - KAIRO. Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengatakan pada hari Sabtu (17/10) bahwa Mesir akan mengambil langkah apa pun yang diperlukan untuk membela Arab Saudi jika diminta, di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap kerajaan tersebut.
Parlemen Mesir pun mengumumkan akan menggelar sidang darurat pada hari Minggu (18/10).
"Tidak mungkin kami akan membiarkan Arab Saudi, keamanan, atau stabilitasnya terganggu," ujar Sisi dalam upacara kelulusan di Akademi Militer Mesir.
Baca Juga: China Dukung IMF Perketat Pengawasan Risiko Fiskal Negara Maju
Ia menegaskan bahwa Mesir tidak berniat menyerang pihak mana pun, namun siap bertindak untuk tujuan pertahanan.
Kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran dalam beberapa hari terakhir telah menyerang bandara internasional Riyadh dan perusahaan minyak negara Saudi Aramco.
Serangan ini terjadi di tengah kembali berkecamuknya pertempuran antara kelompok Houthi dengan pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyusul runtuhnya gencatan senjata.
Sisi menyatakan bahwa Mesir akan bertindak sesuai dengan arahan Raja Arab Saudi Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Keduanya sempat menemui Sisi pada 15 September, tak lama setelah pertempuran di Yaman kembali pecah, untuk membahas berbagai isu termasuk keamanan dan navigasi di Laut Merah.
"Saya sadar hal ini memerlukan persetujuan parlemen Mesir, dan saya meminta agar sidang darurat segera digelar guna memberikan otorisasi tersebut jika nantinya kami diminta untuk bertindak," kata Sisi.
Tak lama setelah pernyataan tersebut, pihak parlemen mengumumkan akan mengadakan sidang pleno pada hari Minggu pukul 13.00 waktu setempat (1000 GMT) sebagai tanggapan atas permintaan tersebut, meskipun agenda sidang tidak diungkapkan secara rinci.
Mesir dan Arab Saudi merupakan mitra strategis dan ekonomi yang erat.
Arab Saudi beserta negara-negara Teluk kaya minyak lainnya telah memberikan bantuan, penempatan dana di bank sentral, serta investasi senilai miliaran dolar kepada Mesir, menyusul penggulingan presiden dari kelompok Islamis, Mohamed Morsi, oleh militer pada tahun 2013.
Mesir juga bergabung dengan koalisi pimpinan Arab Saudi yang melakukan intervensi pada tahun 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman dalam melawan kelompok Houthi.
Baca Juga: Zelenskiy Peringatkan Ancaman Rudal Rusia dari Belarus ke Ukraina Barat














