Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak permintaan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk melancarkan serangan militer terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Menurut laporan Axios yang mengutip dua pejabat AS, Mohammed bin Salman dua kali menelepon Trump pada Kamis (10/9/2026) untuk meminta AS melakukan serangan terhadap Houthi. Namun, Trump menolak permintaan tersebut.
Pejabat AS mengatakan pemerintahan Trump saat ini tidak berniat mengambil tindakan militer langsung terhadap Houthi.
Sikap tersebut mencerminkan upaya Washington menghindari keterlibatan langsung dalam konflik Yaman yang kembali meningkat. Di sisi lain, AS disebut meningkatkan dukungan kepada Arab Saudi untuk menghadapi eskalasi konflik.
Baca Juga: Arab Saudi Akan Fokuskan Dana Investasi US$ 925 Miliar untuk Ekonomi Domestik
Axios melaporkan AS semakin khawatir terhadap memburuknya situasi di Yaman. Komandan U.S. Central Command, Laksamana Brad Cooper, bahkan melakukan perjalanan ke Arab Saudi pada Kamis untuk menggelar pembicaraan koordinasi mendesak.
Pejabat militer dan sipil AS dalam beberapa pekan terakhir juga telah menyampaikan kepada pihak Saudi bahwa arahan Trump adalah memusatkan kekuatan militer AS pada Iran dan menjaga keamanan Selat Hormuz.
Washington ingin menghindari pembukaan front militer baru dengan terlibat langsung dalam konflik melawan Houthi.
Reuters belum dapat memverifikasi secara independen laporan Axios tersebut. Gedung Putih dan Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters di luar jam kerja.
Baca Juga: Trump Tolak Proposal Iran, Sebut Respons Teheran “Totally Unacceptable”
Sebelumnya, Reuters melaporkan pada Juli bahwa Arab Saudi tengah berupaya membangun koalisi internasional untuk melindungi pelayaran di Laut Merah dari serangan Houthi.
Ketegangan terbaru di kawasan tersebut meningkat sejak awal Juli. Saat itu, Houthi mengklaim pasukannya menghadapi pesawat tempur Saudi yang berupaya mencegah pesawat sipil Iran mendarat di Bandara Internasional Sanaa, Yaman.














