Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas menguat tipis pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Melandainya data inflasi Amerika Serikat (AS) yang di luar perkiraan meredam spekulasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve pada Oktober mendatang.
Kini, perhatian investor tertuju pada rilis data tenaga kerja AS akhir pekan ini.
Mengutip Reuters, harga emas spot menguat 0,2% ke level US$ 4.165,29 per ons troi pada pukul 14.08 EDT (18.08 GMT).
Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 0,4% ke posisi US$ 4.202,30 per ons troi. Sebagai catatan, sepanjang September lalu harga sang logam mulia sempat merosot lebih dari 6%.
Baca Juga: Arab Saudi Sebut Houthi Serang Pembangkit Listrik di Madinah
Data ekonomi yang dirilis Rabu menunjukkan inflasi AS periode Agustus tumbuh lebih rendah dari ekspektasi pasar, seiring revisi turun pada tekanan harga bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Pasar kini hanya memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 31%, merosot dibandingkan 45% sebelum rilis data dan 69% pada pekan lalu.
"Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga inilah yang menjadi penopang utama pasar logam mulia," ujar David Meger, Director of Metals Trading High Ridge Futures.
Meski demikian, penguatan harga emas masih tertahan oleh lonjakan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang menyentuh level tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Tingginya imbal hasil obligasi meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, penguatan dollar AS turut membuat harga emas relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Baca Juga: Dolar AS Kian Perkasa Terdongkrak Aksi Jual Obligasi Global
Di saat bersamaan, harga minyak mentah juga melonjak dan memicu kembali kekhawatiran inflasi setelah China menangguhkan ekspor produk minyaknya. Langkah Beijing berpotensi memperketat pasokan bahan bakar global yang sebelumnya sudah bergejolak.
"Segala hal yang meningkatkan potensi kenaikan suku bunga The Fed dipastikan akan menekan sentimen pasar emas. Kenaikan tajam harga energi maupun eskalasi konflik di Timur Tengah berisiko memberikan dampak serupa," tambah Meger.
Kini pelaku pasar menantikan rilis data tenaga kerja non-pertanian (non-farm payrolls) AS periode September pada Jumat untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
"Melemahnya selera risiko pasar dan menurunnya taruhan kenaikan suku bunga The Fed menyokong emas, namun tren jangka pendek masih cenderung bearish. Uji ulang ke level US$ 4.000 per ons troi masih terbuka lebar, terutama jika data non-farm payrolls besok tampil mengejutkan di atas perkiraan," tulis Achilleas Georgolopoulos, Senior Market Analyst XM Trading dalam risetnya.
Baca Juga: Khawatir Diserang Negara lain, Negara Ini Ingin Bikin Senjata Nuklir
Di sisi lain, HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk tahun 2026 dan 2027 masing-masing menjadi US$ 4.490 per ons troi dan US$ 4.825 per ons troi.
HSBC menilai emas masih berpotensi menghadapi tekanan jangka pendek, meski posisinya diperkirakan mulai mendekati titik terendah (bottoming).
HSBC turut memproyeksikan bank-bank sentral akan kembali melanjutkan aksi borong emas memanfaatkan penurunan harga saat ini, khususnya jika harga mendekati atau berada di bawah level US$ 4.000 per ons troi.
Adapun untuk pergerakan logam mulia lainnya, harga perak spot tercatat naik 0,2% ke US$ 60,51 per ons troi dan platina menguat 0,1% ke level US$ 1.707,56 per ons troi. Sebaliknya, harga paladium melemah 2,2% ke posisi US$ 1.178,57 per ons troi.














