Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - DAKAR. Kelompok militan yang terkait dengan Al Qaeda, Jama'at Nusrat al-Islam wal Muslimin (JNIM), dilaporkan menewaskan lebih dari 100 tentara Mali dalam serangan di wilayah tengah negara itu pada September 2026.
Serangan tersebut semakin menekan pemerintahan militer Mali yang hingga kini masih menghadapi ancaman kelompok bersenjata.
Serangan terjadi pada 10 September di kota Dioura. Seorang sumber keamanan mengatakan sekitar 130 tentara tewas dan lebih dari 100 lainnya ditawan.
Baca Juga: China Pecat Dua Jenderal Senior Jelang Pertemuan Xi Jinping-Trump
Sementara itu, sumber diplomatik memperkirakan jumlah korban tewas mencapai sekitar 120 tentara.
JNIM mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyebut sekitar 150 tentara Mali tewas. Klaim kelompok tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Militer Mali mengakui adanya korban dalam operasi tersebut, tetapi tidak menyebutkan jumlahnya.
Dalam pernyataan pada Sabtu (19/9), militer mengatakan pasukannya telah dievakuasi dari kamp yang diserang dan kemudian melancarkan operasi balasan selama lebih dari sepekan terhadap posisi kelompok bersenjata.
"Dalam operasi ini, sejumlah prajurit kami gugur, sementara kerugian besar berhasil ditimbulkan kepada penyerang," kata militer Mali dalam pernyataannya.
Baca Juga: Houthi Kuasai Wilayah Strategis Yaman, Ekspor Minyak Saudi Terancam Terganggu
Serangan di Dioura menjadi bagian dari rangkaian aksi JNIM yang meningkatkan tekanan terhadap penguasa militer Mali. Kelompok tersebut sebelumnya juga menyerang sejumlah sasaran penting, termasuk fasilitas militer dan bandara.
Pada April lalu, JNIM bersama kelompok separatis yang dipimpin suku Tuareg, FLA, melancarkan serangkaian serangan di berbagai wilayah Mali. Aksi tersebut menewaskan Menteri Pertahanan Mali dan menyasar bandara utama negara tersebut.
Tekanan terhadap militer Mali berlanjut di Sevare. JNIM pada Minggu (20/9) mengklaim menyerang sistem pertahanan udara di bandara Sevare, fasilitas yang digunakan untuk menampung pesawat militer dan drone.
Kelompok tersebut juga mengklaim menewaskan 33 pasukan pro-pemerintah di Sevare dan Konna, yang sama-sama berada di wilayah tengah Mali. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Seorang warga Sevare mengatakan kepada Reuters bahwa bandara tersebut telah mengalami serangan mortir selama enam malam berturut-turut hingga Senin (21/9).
Baca Juga: Perang Iran Dorong Pembeli LNG Asia Cari Pasokan Alternatif, Indonesia Dilirik
Warga tersebut juga mengaku melihat sekitar 40 tentara Mali dan personel Rusia yang terluka di rumah sakit setempat.
Kelompok paramiliter Rusia Africa Corps diketahui mendukung militer Mali dalam operasi melawan kelompok bersenjata di wilayah tersebut. Namun, warga itu mengatakan personel Rusia tidak lagi terlihat di Sevare pada Senin.
Di kota Konna, sekitar 55 kilometer dari Sevare, dua warga mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok JNIM dengan sepeda motor terlihat mengepung kamp militer.
Rangkaian serangan tersebut menunjukkan bahwa kelompok bersenjata masih mampu memberikan tekanan terhadap militer Mali, meski pemerintah telah meningkatkan operasi keamanan dengan dukungan pasukan asing.














