kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Minyak Brent Turun ke US$ 79 per Barel, Israel-Hezbollah Sepakat Gencatan Senjata


Jumat, 19 Juni 2026 / 21:08 WIB
Minyak Brent Turun ke US$ 79 per Barel, Israel-Hezbollah Sepakat Gencatan Senjata
ILUSTRASI. Harga Minyak (BBM) (REUTERS/Adriano Machado)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Jumat (19/6/2026) setelah Israel dan Hezbollah mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah dan meningkatkan harapan terjadinya deeskalasi konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Harga Tembaga Turun ke US$ 13.594 Jumat (19/6), Bersiap Catat Penurunan Mingguan

Melansir Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka turun 85 sen atau 1,1% menjadi US$ 79 per barel pada pukul 13.03 GMT. Secara mingguan, Brent berada di jalur penurunan sekitar 9,5%.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juli yang akan berakhir pada Senin (22/6) turun 64 sen atau 0,8% menjadi US$ 75,96 per barel. Secara mingguan, kontrak ini berpotensi mencatat penurunan hampir 10%.

Adapun kontrak WTI Agustus yang lebih aktif diperdagangkan melemah 61 sen menjadi US$ 75,24 per barel.

Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa Israel dan Hezbollah telah menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku pada Jumat pukul 16.00 waktu setempat atau 13.00 GMT.

Baca Juga: Israel dan Hezbollah Sepakati Gencatan Senjata, Berlaku Mulai Jumat Sore

"Kami memahami bahwa setelah saling serang yang terjadi hari ini, Israel dan Hezbollah kini telah memasuki masa gencatan senjata," ujar pejabat tersebut.

Analis Pasar City Index dan FOREX.com Fawad Razaqzada menilai, ruang penurunan harga minyak dari level saat ini relatif terbatas.

"Saya melihat potensi penurunan lebih lanjut cukup terbatas. Harga mungkin masih melemah sedikit, tetapi kemungkinan tidak akan kembali ke level sebelumnya karena cadangan minyak telah banyak terkuras dan perlu diisi kembali dengan pasokan baru," ujarnya.

Sebelumnya, Swiss mengumumkan bahwa perundingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membahas kesepakatan mengakhiri konflik Timur Tengah tidak jadi digelar pada Jumat setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencana perjalanannya.

Kondisi ini sempat menimbulkan ketidakpastian mengenai prospek perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut.

Analis PVM Oil Associates Tamas Varga mengatakan, proses pemulihan arus pasokan minyak melalui Selat Hormuz masih akan menghadapi berbagai tantangan.

Baca Juga: WHO: 75 Tenaga Medis di Kongo Terinfeksi Ebola, 17 Meninggal Dunia

"Hal ini menunjukkan bahwa jalan menuju pemulihan penuh dan tanpa gangguan terhadap arus minyak melalui Selat Hormuz masih cukup panjang," katanya.

Meski demikian, pasar tetap optimistis setelah sejumlah kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz.

Pada Kamis (18/6), beberapa kapal tanker, termasuk tiga kapal berbendera Arab Saudi yang membawa sekitar 6 juta barel minyak mentah, berhasil melewati jalur pelayaran strategis tersebut beberapa jam setelah Presiden AS dan Presiden Iran menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang.

Analis memperkirakan kesepakatan tersebut dapat membuka jalan bagi lebih dari 85 juta barel minyak yang selama ini tertahan di kawasan Teluk untuk kembali memasuki pasar global. Selain itu, pencabutan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran juga berpotensi menambah pasokan global.

Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia selama ini melewati Selat Hormuz. Namun, pemulihan arus perdagangan dan produksi energi diperkirakan membutuhkan waktu beberapa bulan.

Baca Juga: ASML Bantah Tuduhan Kirim Peralatan Chip Paling Canggih ke China

Citi memperkirakan skenario dasar dengan probabilitas 60% menunjukkan normalisasi pasokan akan terus berlangsung sehingga pasar minyak berpotensi mengalami surplus.

Dalam kondisi tersebut, harga minyak diperkirakan turun menuju kisaran US$ 60-US$ 65 per barel pada kuartal I 2027.

Sementara itu, Commerzbank menurunkan proyeksi harga Brent akhir tahun menjadi US$ 80 per barel dari sebelumnya US$ 85 per barel.

Meski demikian, bank tersebut masih memperkirakan harga minyak akan bertahan di atas level sebelum perang untuk sebagian besar periode tahun depan.

Dari sisi pasokan, Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed menyatakan ladang-ladang minyak negaranya siap kembali beroperasi secara normal dan produksi akan dipulihkan secara bertahap hingga mencapai tingkat sebelum konflik.

Di sisi permintaan, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam laporan World Oil Outlook 2026 memperkirakan konsumsi minyak global meningkat menjadi 113,3 juta barel per hari pada 2030, dibandingkan 105,1 juta barel per hari pada 2025.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×