kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.531.000   5.000   0,20%
  • USD/IDR 18.153   -6,00   -0,03%
  • IDX 5.097   39,78   0,79%
  • KOMPAS100 657   5,57   0,85%
  • LQ45 518   2,72   0,53%
  • ISSI 170   0,84   0,50%
  • IDX30 291   1,43   0,49%
  • IDXHIDIV20 391   -0,27   -0,07%
  • IDX80 76   0,57   0,76%
  • IDXV30 109   -0,28   -0,25%
  • IDXQ30 97   -0,51   -0,52%

Negosiasi Iran-AS Berlanjut, Proposal Baru Pembukaan Selat Hormuz Disiapkan


Senin, 02 November 2026 / 16:50 WIB
Negosiasi Iran-AS Berlanjut, Proposal Baru Pembukaan Selat Hormuz Disiapkan
ILUSTRASI. Negosiasi Iran-AS berlanjut melalui mediasi Qatar. Proposal baru disiapkan untuk membuka Selat Hormuz dan mengakhiri blokade laut AS. (REUTERS/Khaled Abdullah)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik kedua negara masih berlanjut melalui mediasi Qatar. Meski delegasi Iran telah meninggalkan Doha, sebuah rancangan proposal baru disebut tengah diedarkan sebagai dasar pembahasan lanjutan.

Seorang pejabat yang mengetahui jalannya perundingan mengatakan, para negosiator Iran meninggalkan Qatar pada Minggu (1/11/2026). Namun, kepergian tersebut bukan disebabkan oleh adanya kendala dalam proses negosiasi.

Pejabat tersebut juga menyebutkan bahwa rancangan proposal tengah diedarkan dan kemungkinan akan ada pertemuan lanjutan. Meski demikian, belum ada penjelasan lebih terperinci mengenai isi proposal tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa pembahasan saat ini mengacu pada rencana tujuh langkah yang disusun Teheran pada September lalu. Rencana tersebut bertujuan membuka kembali Selat Hormuz sekaligus mengakhiri blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran.

Iran kini mengusulkan agar rencana tersebut dapat diterapkan dalam waktu lebih singkat melalui kesepakatan kedua negara.

Baca Juga: Manufaktur Asia Melambat, Tekanan Biaya Meningkat

Baghaei menjelaskan, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi telah berada di Doha untuk memfasilitasi pertukaran pesan antara Teheran dan Washington melalui perantara Qatar.

" Tuntutan kami telah disampaikan dengan sangat jelas dan transparan. Tuntutan ini masuk akal dan logis: tidak ada kesepakatan akhir yang dapat dimulai, Selat Hormuz tidak dapat dibuka kembali atau dijamin keamanannya, kecuali blokade laut AS diakhiri, tuntutan Iran dihormati, dan kebutuhan sah Iran dipenuhi," kata Baghaei.

Sebelumnya, pada Sabtu (31/10/2026), stasiun televisi Qatar, Al Jazeera, mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi yang menyebut Selat Hormuz berpotensi dibuka kembali dalam waktu dua hari apabila kesepakatan tercapai.

Jangka waktu tersebut lebih cepat dibandingkan proposal awal Iran yang memperkirakan pembukaan jalur pelayaran strategis itu membutuhkan waktu tujuh hari.

Namun, proposal awal Iran sebelumnya telah ditolak oleh Presiden AS Donald Trump.

Negosiasi Iran-AS di tengah Pemilu Paruh Waktu AS

Perkembangan diplomasi terbaru ini berlangsung di tengah kekhawatiran meningkatnya kembali eskalasi konflik setelah pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat pada Selasa (3/11/2026).

Baca Juga: Binance Dibobol US$ 6,3 Miliar, Picu Kekhawatiran Investor Kripto

Ketika ditanya mengenai pandangan Teheran terhadap pemilu tersebut, Baghaei mengatakan Iran tidak memperkirakan hasil pemilihan akan membawa perubahan mendasar dalam pemerintahan Amerika Serikat.

"Kami tidak mengharapkan pemilu tersebut akan melahirkan Amerika Serikat yang baru," ujar Baghaei.

Sementara itu, Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan melancarkan serangan baru terhadap Iran sebelum pemungutan suara berlangsung. Ia juga menyebut pembicaraan dengan Teheran telah menunjukkan perkembangan yang produktif.

Meski demikian, Trump belum sepenuhnya menutup kemungkinan dilakukannya tindakan militer lanjutan terhadap Iran.




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×