kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

OECD pangkas prediksi pertumbuhan AS dan Eropa


Selasa, 16 September 2014 / 08:37 WIB
OECD pangkas prediksi pertumbuhan AS dan Eropa
ILUSTRASI. Simak Kurs Dollar-Rupiah di Bank Mandiri Hari Ini, Kamis 30 Maret 2023./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/02/03/2023.


Sumber: CNBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

NEW YORK. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengatakan, pemulihan ekonomi AS yang gagap dan kerentanan perekonomian di zona Eropa berarti ada risiko aset-aset memiliki nilai yang salah (mispriced).

Dalam laporan Interim Economic Assessment, organisasi yang berbasis di Paris ini mengingatkan akan risiko tiba-tiba terjadinya koreksi pada pasar finansial. OECD menekankan bahwa kenaikan pada pasar saham beberapa waktu belakangan ini terlihat "janggal" dengan beberapa risiko yang meningkat secara signifikan.

Terkait hal itu, OECD memprediksi pertumbuhan ekonomi AS hanya sebesar 2,1% pada tahun ini. Prediksi itu turun dari proyeksi yang dibuat pada Mei lalu yakni sebesar 2,6%. Untuk tahun 2015, OECD meramal pertumbuhan ekonomi AS akan tumbuh 3,1%, lebih rendah dari prediksi sebelumnya yakni 3,5%.

OECD juga memangkas prediksi pertumbuhan zona Eropa dari 1,2% pada Mei menjadi 0,8% pada tahun ini dan 1,1% pada tahun depan.

"Pemulihan pada ekonomi Eropa masih mengecewakan, khususnya pada negara-negara yang besar seperti Jerman, Prancis, dan Italia. Kepercayaan konsumen melemah, dan permintaan domestik menurun akibat inflasi," papar OECD.

Menurut OECD, Inggris menjadi satu-satunya negara yang pertumbuhannya bisa melampaui dengan prediksi sebelumnya yakni 2,8%. Adapun prediksi sebelumnya adalah pertumbuhan sebesar 2,7%.

Di luar Eropa, Jepang dinilai harus melakukan quantitative easing di tengah pelaksanaan kebijakan kenaikan pajak konsumsi tahun depan.




TERBARU

[X]
×