CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.006,12   -9,89   -0.97%
  • EMAS973.000 0,21%
  • RD.SAHAM -1.86%
  • RD.CAMPURAN -0.70%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

OPEC dan Rusia bakal genjot produksi minyak pada Januari, meski ada penurunan harga


Jumat, 03 Desember 2021 / 15:04 WIB
OPEC dan Rusia bakal genjot produksi minyak pada Januari, meski ada penurunan harga
ILUSTRASI.


Sumber: CNN | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - Rusia, bersama negara-negara produsen minyak lain di OPEC, sepakat untuk tetap meningkatkan pasokan minyak pada Januari 2022. Keputusan ini diambil di tengah penurunan harga.

CNN melaporkan, kesepakatan tersebut dicapai pada pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, OPEC+ pada Kamis (2/12). Pertemuan ini juga menyoroti turunnya harga minyak lebih dari 20% sejak akhir Oktober.

Sejak awal tahun, sebenarnya harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga  70%. Sayangnya, harga mulai anjlok pada November, atau setelah AS dan negara-negara konsumen minyak utama lainnya sepakat untuk melepaskan jutaan barel dari cadangan strategis mereka.

Dalam pernyataan resminya, OPEC+ mengatakan, akan terus mempertimbangkan kondisi pandemi, memantau pasar minyak, dan siap melakukan penyesuaian dengan cepat jika diperlukan. 

Pertemuan OPEC+ berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 4 Januari 2022, yang akan mengkaji kembali rencana peningkatan produksi minyaknya.

Baca Juga: Harga minyak naik karena OPEC+ tetap pada peningkatan produksi regulernya

Dikutip dari CNN, analis memperkirakan, OPEC+ akan menghentikan kenaikan produksi 400.000 barel per hari yang dijadwalkan untuk Januari. Hal ini didorong oleh penurunan harga dan ketidakpastian atas pandemi dan permintaan minyak.

Pasca pengumuman tersebut disampaikan, harga minyak mentah Brent yang naik pada Kamis pagi sempat turun. Namun, harganya kembali pulih sekitar 1% lebih tinggi, masing-masing sekitar US$ 69 dan US$ 66 per barel.

Badan Energi Internasional memperkirakan, OPEC dan Rusia bisa menyumbang 58% dari pasokan minyak global pada 2050. Angka tersebut naik dari perkiraan tahun lalu yang hanya 46,5%. 

Kenaikan tersebut dipicu oleh minimnya investasi oleh banyak negara, termasuk AS, dalam eksplorasi dan produksi karena  pemegang saham menuntut disiplin keuangan yang lebih besar.

Belakangan, para investor juga mulai menyoroti kebijakan-kebijakan terkait pengurangan emisi karbon serta mengatasi krisis iklim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×