Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - OPEC dan sekutunya diperkirakan akan kehilangan sebagian kekuatan dalam mengendalikan pasar minyak setelah Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari kelompok itu pada 1 Mei. Namun, aliansi produsen lainnya kemungkinan tetap solid dan terus berkoordinasi dalam kebijakan pasokan minyak, kata para delegasi OPEC+ dan analis pada Selasa (28/4/2026).
Reuters melaporkan, UEA merupakan produsen terbesar keempat dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan pada Selasa menyatakan akan meninggalkan OPEC setelah hampir 60 tahun menjadi anggota. Keputusan ini membebaskan Abu Dhabi dari target produksi minyak yang selama ini ditetapkan OPEC dan sekutunya untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan.
Lima sumber OPEC+ menyebut keluarnya UEA ini mengejutkan. Mereka meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak diizinkan berbicara kepada media.
Empat dari lima sumber tersebut mengatakan keluarnya UEA akan mempersulit upaya OPEC+ dalam menyeimbangkan pasar melalui penyesuaian pasokan, karena aliansi itu akan mengendalikan porsi produksi global yang lebih kecil.
UEA akan menjadi produsen minyak terbesar yang pernah keluar dari OPEC, sebuah pukulan berat bagi organisasi tersebut dan pemimpin de facto-nya, Arab Saudi. Abu Dhabi memompa sekitar 3,4 juta barel per hari (bpd) atau sekitar 3% pasokan minyak mentah dunia sebelum perang AS-Israel melawan Iran memaksa UEA dan produsen Teluk lainnya mengurangi pengiriman serta menutup sebagian produksi.
OPEC dan kantor komunikasi pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Baca Juga: OPEC+ Bahas Kenaikan Produksi di Tengah Gangguan Pasokan Akibat Perang Iran
Setelah keluar dari OPEC, UEA akan bergabung dengan jajaran produsen minyak independen yang bisa memproduksi sesuai keinginan, seperti Amerika Serikat dan Brasil.
Namun untuk saat ini, UEA tidak bisa banyak meningkatkan produksi atau ekspor karena jalur pelayaran melalui Selat Hormuz secara efektif masih tertutup. Jika dan ketika pelayaran kembali normal seperti sebelum perang, UEA dapat meningkatkan produksi hingga kapasitas negara itu sebesar 5 juta bpd minyak mentah dan cairan minyak lainnya.
Selama ini terdapat ketegangan antara UEA dan Arab Saudi terkait kuota produksi UEA yang saat ini berada di angka 3,5 juta bpd. UEA meminta kuota lebih besar karena mereka telah memperluas kapasitas produksi melalui program investasi senilai US$ 150 miliar.
“Selama bertahun-tahun Abu Dhabi ingin memonetisasi investasinya dalam ekspansi kapasitas,” kata Helima Croft dari RBC Capital Markets. Namun perang AS-Israel melawan Iran akan memperlambat rencana tersebut setelah drone dan roket merusak fasilitas produksi UEA, ujarnya.
Perang ini memicu gangguan pasokan energi global terbesar dalam sejarah jika dilihat dari total produksi minyak harian yang terdampak, menurut International Energy Agency (IEA). Konflik tersebut juga memperlihatkan ketidakharmonisan di antara negara-negara Teluk, termasuk antara UEA dan Arab Saudi.
Rumor keluarnya UEA dari OPEC+ telah beredar selama bertahun-tahun seiring memburuknya hubungan dengan Riyadh terkait konflik di Sudan, Somalia, dan Yaman. UEA juga semakin dekat dengan Amerika Serikat dan Israel.
Baca Juga: Panel OPEC+ Sesalkan Serangan ke Infrastruktur Energi di Perang Iran












