kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45974,33   -17,61   -1.78%
  • EMAS991.000 0,71%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Output Pabrik Jepang Bulan Desember Turun 1%, Lebih Lemah Dari yang Diharapkan


Senin, 31 Januari 2022 / 07:53 WIB
Output Pabrik Jepang Bulan Desember Turun 1%, Lebih Lemah Dari yang Diharapkan
ILUSTRASI. Pabrik kendaraan di Jepang


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Output pabrik Jepang di bulan Desember menyusut untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Sentimen datang karena penurunan mesin melebihi kenaikan kecil dalam produksi mobil, yang menutupi kekuatan pemulihan ekonomi.

Di sisi lain, penjualan ritel di bulan Desember membukukan kenaikan tahunan untuk tiga bulan berturut-turut setelah kasus virus corona yang rendah mendorong pembelian.

Namun, rekor infeksi virus corona akibat varian Omicron yang terjadi di bulan ini, diperkirakan telah memukul sentimen konsumen.

Berdasarkan data Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang, produksi pabrik di Desember 2021 turun 1,0% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Penurunan terjadi karena adanya penurunan output mesin produksi dan keperluan umum, termasuk peralatan pembuat chip.

Itu berarti bahwa output, yang lebih lemah dari perkiraan penurunan 0,8% dalam jajak pendapat ekonom Reuters, turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.

Data yang sama juga menunjukkan, pertumbuhan output mobil dan kendaraan lain melambat menjadi 1,5% dari bulan sebelumnya di Desember. Realisasi ini jauh lebih tambah dari lonjakan 43,7% yang dicetak pada bulan November dan kenaikan 15,9% pada Oktober.

Baca Juga: IMF Prediksi Ekonomi Jepang Bisa Cepat Pulih dari Pandemi Covid-19, Ini Faktornya

Katalis utama datang karena produsen mobil besar Jepang masih berjuang dengan kekurangan chip.

Bulan ini, Toyota Motor Co, penjual mobil terbesar di dunia, memperkirakan produksi akan turun dari target tahunan 9 juta kendaraan, untuk tahun bisnis saat ini yang berjalan hingga akhir Maret, karena hambatan dari kekurangan chip.

Produsen yang disurvei oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) memperkirakan output tumbuh 5,2% pada Januari dan 2,2% pada Februari.

Pemerintah mempertahankan penilaian output industri tidak berubah, mengatakan itu menunjukkan tanda-tanda meningkat.

Data terpisah menunjukkan penjualan ritel lebih lemah dari yang diharapkan, naik 1,4% pada Desember dari tahun sebelumnya. Dalam survei median pasar, penjualan ritel diperkirakan naik 2,7%.

Itu menandai kenaikan bulan ketiga berturut-turut untuk penjualan ritel, yang terangkat oleh permintaan yang lebih kuat untuk barang dagangan umum dan makanan dan minuman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×