Sumber: CNA | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - NUUK, GREENLAND. “Kami tidak ingin menjadi orang Amerika," kata partai-partai politik Greenland setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyarankan penggunaan kekuatan untuk merebut wilayah otonom Denmark yang kaya mineral tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat malam (9/1/2026) setelah Trump mengulangi bahwa Washington akan melakukan sesuatu di Greenland, suka atau tidak suka.
"Kami tidak ingin menjadi orang Amerika, kami tidak ingin menjadi orang Denmark, kami ingin menjadi orang Greenland," kata para pemimpin dari lima partai di parlemen Greenland.
"Masa depan Greenland harus ditentukan oleh orang Greenland."
Denmark dan sekutu Eropa lainnya telah menyatakan keterkejutan atas ancaman Trump untuk mengambil alih Greenland, tempat Amerika Serikat sudah memiliki pangkalan militer.
Trump mengatakan mengendalikan pulau strategis tersebut sangat penting bagi keamanan nasional AS mengingat meningkatnya aktivitas militer Rusia dan China di Arktik.
Baca Juga: Netanyahu Ingin Kurangi Ketergantungan Israel pada Bantuan Militer AS dalam 10 Tahun
"Kita tidak akan membiarkan Rusia atau China menduduki Greenland. Itulah yang akan mereka lakukan jika kita tidak melakukannya. Jadi kita akan melakukan sesuatu dengan Greenland, entah dengan cara yang baik atau cara yang lebih sulit," kata presiden AS pada hari Jumat.
Baik Rusia maupun China telah meningkatkan aktivitas militer di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir, tetapi tidak satu pun dari mereka yang mengklaim pulau es yang luas itu.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen telah memperingatkan bahwa invasi ke Greenland akan mengakhiri semuanya, yang berarti pakta pertahanan NATO transatlantik dan struktur keamanan pasca-Perang Dunia II.
Trump telah meremehkan kekhawatiran Denmark, sekutu setia AS yang bergabung dengan Amerika Serikat dalam invasi Irak tahun 2003.
"Saya juga penggemar Denmark, harus saya akui. Dan Anda tahu, mereka sangat baik kepada saya," kata Trump.
"Tetapi Anda tahu, fakta bahwa mereka pernah mendarat di sana 500 tahun yang lalu tidak berarti bahwa mereka memiliki tanah itu."
Menteri Luar Negeri Marco Rubio dijadwalkan bertemu pekan depan dengan menteri luar negeri Denmark dan perwakilan dari Greenland.
Baca Juga: Korea Utara Tuding Korea Selatan Menerbangkan Drone di Perbatasan untuk Memata-Matai













