kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   18.000   0,66%
  • USD/IDR 17.696   -122,00   -0,68%
  • IDX 6.310   302,08   5,03%
  • KOMPAS100 841   47,38   5,97%
  • LQ45 630   32,88   5,50%
  • ISSI 216   9,69   4,70%
  • IDX30 356   17,25   5,09%
  • IDXHIDIV20 436   18,32   4,39%
  • IDX80 95   5,28   5,88%
  • IDXV30 117   3,85   3,41%
  • IDXQ30 114   4,97   4,55%

Pasar Saham Asia Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai Rencana Damai AS–Iran


Senin, 15 Juni 2026 / 10:57 WIB
Pasar Saham Asia Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai Rencana Damai AS–Iran
ILUSTRASI. Pasar keuangan global mengawali perdagangan Senin dengan penguatan signifikan di Asia, seiring turunnya harga minyak dunia (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Pasar keuangan global mengawali perdagangan Senin dengan penguatan signifikan di Asia, seiring turunnya harga minyak dunia dan melemahnya dolar AS.

Sentimen positif ini dipicu oleh kabar kesepakatan awal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi meredakan tekanan inflasi global serta mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral.

Di sisi lain, harga minyak mentah mengalami penurunan tajam karena ekspektasi meredanya risiko gangguan pasokan, khususnya terkait kawasan strategis Selat Hormuz.

Saham Asia Melonjak, Investor Sambut Sentimen Risiko

Pasar saham di kawasan Asia mencatat reli kuat. Indeks utama di Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok semuanya menguat tajam, mencerminkan meningkatnya selera risiko investor.

Baca Juga: Harga Emas Melonjak 2% Menyusul Kesepakatan Pendamaian AS-Iran, Harga Minyak Merosot

Penguatan ini terjadi setelah kabar bahwa kesepakatan awal antara AS dan Iran berpotensi membuka kembali jalur perdagangan energi global yang lebih stabil.

Seorang analis FX senior ITC Markets, Sean Callow, mengatakan: “Kurangnya rincian terutama terkait kebebasan pelayaran memang menjadi kekhawatiran, tetapi tidak sampai membatasi pasar hari ini karena meningkatnya selera risiko sedang berlangsung.”

Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 4%

Pasar minyak menjadi sektor yang paling terdampak. Harga minyak Brent turun 4,7% menjadi sekitar USD 83,24 per barel, jauh di bawah puncak Mei yang sempat mencapai USD 126,41.

Sementara itu, minyak mentah AS turun lebih dalam sebesar 5,5% ke level USD 80,16 per barel.

Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi bahwa jalur penting perdagangan energi global, termasuk Selat Hormuz, tidak akan kembali ditutup.

Menurut Vivek Dhar, analis energi dari CBA: “Kami memperkirakan harga berjangka Brent turun ke USD 80 pada akhir tahun dengan asumsi selat tersebut tidak kembali ditutup.”

Ia menambahkan bahwa proyeksi tersebut masih mengandung ketidakpastian, terutama terkait potensi kerusakan infrastruktur energi di kawasan konflik.

Dampak ke Inflasi dan Kebijakan Bank Sentral

Turunnya harga energi menjadi faktor penting bagi bank sentral global yang tengah bersiap menggelar serangkaian pertemuan kebijakan moneter pekan ini.

Penurunan harga minyak dipandang dapat meredakan tekanan inflasi, sehingga mengurangi kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Analis menilai kondisi ini dapat mengubah arah kebijakan moneter global, terutama di tengah kekhawatiran inflasi berbasis energi.

Baca Juga: IPO SpaceX di Nasdaq Lancar, Wall Street Siap Sambut IPO OpenAI dan Anthropic

Pasar Global Kompak Menguat

Selain Asia, pasar Eropa dan Amerika Serikat juga menunjukkan penguatan:

  • Futures EUROSTOXX 50 dan DAX naik 1,7%

  • Futures FTSE naik 0,7%

  • Futures S&P 500 naik 1,1%

  • Nasdaq futures melonjak 1,8%

Sementara itu, indeks saham Asia Pasifik di luar Jepang juga naik sekitar 1,5%.

Di kawasan Asia, penguatan paling menonjol terjadi di Jepang dan Korea Selatan, seiring prospek turunnya biaya energi bagi negara pengimpor seperti Jepang.

Pergerakan Mata Uang dan Obligasi

Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama. Euro naik 0,4% ke USD 1,1608, sementara poundsterling menguat 0,3% ke USD 1,3446.

Namun dolar masih relatif kuat terhadap yen Jepang di level 160,13, meskipun Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1%.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 2 tahun turun 6 basis poin ke 4,02%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi pelonggaran tekanan inflasi.

Baca Juga: Starbucks Korea Tutup Operasional Lebih Awal 22 Juni, Ada Apa?

Bank Sentral Dunia Fokus Pantau Risiko Inflasi

Sejumlah bank sentral utama dunia, termasuk di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Australia, Swiss, Swedia, Norwegia, hingga Rusia, dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan minggu ini.

Pasar menantikan sinyal arah kebijakan suku bunga, terutama dari The Federal Reserve yang diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% dalam pertemuan terbarunya.

Investor juga mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan pada tahun ini, seiring meredanya tekanan inflasi.

Di pasar komoditas, emas yang tidak memberikan imbal hasil justru diuntungkan oleh turunnya yield obligasi. Harga emas naik 2,5% menjadi USD 4.322 per ons, mencerminkan meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah perubahan arah pasar global.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×