kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pasar saham negara berkembang terbebani


Kamis, 26 Desember 2019 / 18:51 WIB
Pasar saham negara berkembang terbebani
ILUSTRASI. MSCI logo. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memulai pertumbuhan yang mumpuni pada 2010, saham di negara berkembang nyatanya kerap terbebani oleh peristiwa seperti penjualan pasar Cina, krisis utang di Turki, dan Argentina hingga perang dagang Amerika Cina selam satu dekade terakhir.

Indeks MSCI misalnya telah naik 15% sejak 2010 lalu. Adapun indeks MSCI World telah memberikan pengembalian masif hingga 104% selama sepuluh tahun terakhir.

Baca Juga: IHSG menguat ke 6.319 pada akhir perdagangan Kamis (26/12)

Thailand, Filipna, Taiwan jadi pasar saham di negara berkembang yang paling menguntungkan dengan tingkat pengembalian lebih dari 50% selama satu dekade terakhir. Adapun Yunani, Turki, dan Republik Ceko tercatat punya kinerja paling buruk dengan pengembalian negatif.

Sepanjang satu dekade terakhir portofolio asing di pasar juga tercatat berkurang akibat investor asing menarik dana pada periode misalnya saat The Fed mulai mengerek bunga acuan guna meredam stimulus pascakrisis.

Meskipun cukup volatil, rasio price to earning (PE) tahunan MSCI menunjukkan hasil yang menawan. Akhir November lalu mencatat rasio PE sebesar 11,8. Lebih tinggi dibandingkan rata-rata Rasio PE 10 tahu sebesar 10,9. Adapun rasio PE terendah terjadi pada Oktober 2011 sebesar 8,5 smentara yang tertinggi pada Januari 2018 sebesar 13,09.

Baca Juga: Saham BBCA, BBRI, BMRI teratas, ini 10 saham penopang IHSG di Desember 2019

Adapun Cina dan Polandia jadi negara dengan tingkat penurunan rasio PE paling dalam selama 10 tahun belakangan. Sementara Thailand mencatat kenaikan tertinggi.

Sementara berdasarkan yield dividen, Rusia dan Republik Ceko mencatat hasil tertinggi. Rusia mencatat yield dividen 6,8% pada akhir November, meningkat drastis dibandingkan awal 2010 lalu sebesar 1,6%. 

Hal serupa juga terjadi di Cili yang meningkat dari 1,3% pada 2010 lalu menjadi 3,6% akhir November kemarin. Sedangkan India mencatat yield dividen paling rendah.

Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Sudah Menjual 90% Target Produksi Batubara 2020 premium

Meski demikian, dari laporan Reuters, Kamis (26/12) yang menganalisis 4402 perusahaan di negara berkembang yang tercatat di bursa mengalami perlambatan profit hingg 40% dibandingkan 2010 lalu. Ini disebabkan beberapa faktor seperti ambruknya harga komoditas, dan permintaan produk-produk teknologi yang berkurang aibat perang dagang Amerika dan Cina.

Perusahaan-perusahaan tersebut jauh tertinggal dibandingkan perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa saham negara maju. Pun, mereka tercatat juga mulai mengurangi utang dan ekspansi selama 10 tahun terakhir lantaran minimnya permintaan ekspor.

Adapun secara rata-rata, perusahaan asal Cina, Meksiko, dan Thailand mencatat pertumbuhan tertinggi di atas 10% selama satu dekade ke belakang. Sedangkan perusahaan di Hungaria, Mesir, dan Turki jadi yang paling rugi.




TERBARU

Close [X]
×