kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.854   52,00   0,31%
  • IDX 8.249   -41,83   -0,50%
  • KOMPAS100 1.165   -6,34   -0,54%
  • LQ45 837   -4,61   -0,55%
  • ISSI 296   -0,63   -0,21%
  • IDX30 435   -0,60   -0,14%
  • IDXHIDIV20 521   0,64   0,12%
  • IDX80 130   -0,65   -0,50%
  • IDXV30 143   0,93   0,65%
  • IDXQ30 141   -0,18   -0,12%

Harga Bitcoin Anjlok: Trump Picu Volatilitas, Investor Wajib Waspada!


Minggu, 08 Februari 2026 / 12:51 WIB
Harga Bitcoin Anjlok: Trump Picu Volatilitas, Investor Wajib Waspada!
ILUSTRASI. Bitcoin (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga bitcoin berpotensi kembali melemah setelah menghapus seluruh kenaikan yang terjadi sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Kondisi ini dipicu oleh likuiditas pasar yang diperkirakan tetap tipis dalam waktu dekat.

Penurunan bitcoin bersama aset kripto lain terjadi seiring kekhawatiran investor terhadap valuasi saham teknologi yang dinilai terlalu tinggi serta ketidakpastian arah pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

“Kontraksi ini telah berlangsung selama beberapa bulan dan masih berlanjut, yang menunjukkan kemungkinan akan bertahan untuk beberapa waktu,” kata Thomas Probst, analis riset di penyedia data kripto Kaiko.

“Likuiditas yang berkurang berarti pergerakan harga menjadi lebih tajam dan tidak menentu,” tambahnya.

Baca Juga: JPMorgan Revisi Proyeksi Bitcoin Usai Crash, Target Bisa Tembus US$ 266.000

Logam mulia dan mata uang kripto mengalami aksi jual besar pada 30 Januari setelah Presiden Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya.

Penunjukan ini memicu ekspektasi bahwa neraca The Fed akan diperkecil, sehingga mengurangi permintaan terhadap bitcoin. Harga aset digital sejak itu berfluktuasi tajam, sempat turun hingga 20% pada Kamis sebelum kembali menguat pada Jumat.

Pergerakan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai prospek bitcoin dan kripto lainnya sepanjang tahun ini. Pada Oktober lalu, pasar kripto juga mengalami likuidasi terbesar dalam sejarah setelah Trump mengumumkan tarif baru terhadap impor dari China, yang menguras likuiditas pasar dan hingga kini belum sepenuhnya pulih.

“Kejatuhan mendadak pada musim gugur lalu seperti jarum yang meletuskan gelembung leverage,” ujar Denny Galindo, ahli strategi investasi di Morgan Stanley Wealth Management.

Sikap pemerintahan Trump yang ramah terhadap kripto sempat mendorong bitcoin mencapai rekor tertinggi di atas US$125.000 pada Oktober tahun lalu. Namun, kebijakan pro-kripto yang diperkenalkan pada 2025 belum mampu menahan penurunan harga terbaru.

Bitcoin sempat turun di bawah US$61.000 pada Kamis, level terendah sejak sebulan sebelum pemilihan presiden AS.

Meski demikian, sejumlah analis menilai tekanan terburuk mungkin sudah berlalu.

“Ada beberapa indikator yang menunjukkan kita sangat dekat dengan titik dasar harga, jika belum mencapainya,” kata James Butterfill, Kepala Riset di manajer aset kripto CoinShares. Ia menambahkan bahwa sebagian investor kemungkinan memanfaatkan kondisi ini untuk membeli saat harga turun. Penjualan oleh kelompok “whales” — pemegang 10.000 bitcoin atau lebih — mulai melambat.

“Saya pikir banyak investor melihat ini sebagai peluang, bukan alasan untuk panik,” ujarnya.

Baca Juga: Analisis Bitcoin: Ini Penyebab Utama Anjloknya Harga Kripto Pekan Ini

Likuiditas Pasar Makin Tipis

Kedalaman pasar rata-rata 1% bitcoin — ukuran kemampuan pasar menyerap transaksi tanpa mengganggu harga secara signifikan — tercatat lebih dari US$8 juta pada 2025. Namun, angka tersebut turun menjadi sekitar US$6 juta setelah 10 Oktober, dan kini hanya sekitar US$5 juta, menurut Probst.

Artinya, jumlah bitcoin yang tersedia untuk diperdagangkan di sekitar harga pasar saat ini semakin menyusut, sehingga order relatif kecil kini dapat memicu pergerakan harga yang jauh lebih besar dibanding sebelum kejatuhan Oktober.

“Tren likuiditas inilah yang sebenarnya mengkhawatirkan,” kata Probst.

Pelaku pasar memperkirakan volatilitas masih akan tinggi dalam waktu dekat, ujar Andrew Moss, Kepala Riset Aset Digital di Jefferies.

“Kami melihat sedikit indikator bullish yang menunjukkan pasar mendekati titik dasar,” katanya.

Meski kripto masih merupakan bagian kecil dari pasar global, keterkaitan antara dunia kripto dan keuangan arus utama semakin kuat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk melalui cadangan stablecoin, saham terkait kripto, dan eksposur perbankan terhadap kripto.

Bitcoin kini semakin berkorelasi dengan saham, terutama saat pasar mengalami tekanan, sehingga lebih sensitif terhadap perkembangan makroekonomi dan geopolitik, kata Probst.

Indeks saham global naik pada Jumat ketika investor mulai kembali masuk ke saham teknologi AS setelah aksi jual besar dalam tiga sesi sebelumnya yang dipicu kekhawatiran terhadap belanja kecerdasan buatan. Seiring itu, bitcoin naik lebih dari 10% dan kembali menembus level penting US$70.000.

Efek Trump terhadap Pasar Kripto

Bitcoin melonjak tajam setelah Trump memenangkan pemilu pada November 2024, didorong ekspektasi bahwa pemerintahannya akan merombak kebijakan aset digital, termasuk janji kampanye untuk membentuk cadangan bitcoin strategis.

Baca Juga: Bitcoin Anjlok, Mendorong Penurunan Nilai Pasar Kripto hingga US$ 2 Triliun

Trump sendiri terlibat dalam berbagai proyek kripto, termasuk meme coin atas namanya dan usaha bernama World Liberty Financial yang dipimpin keluarganya.

Pemerintah AS bergerak cepat dengan merombak kebijakan di Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) serta mengesahkan undang-undang yang mengatur token kripto yang dipatok terhadap dolar AS. Namun, belum jelas kebijakan pro-kripto apa lagi yang akan diterapkan.

Khusus untuk bitcoin, janji kampanye Trump terkait pembentukan cadangan nasional sempat menjadi katalis utama. Meski Trump telah menandatangani perintah eksekutif untuk membentuk cadangan bitcoin dari aset kripto yang disita pemerintah, hingga kini pemerintah belum melakukan pembelian besar-besaran bitcoin di pasar.

“Cadangan itu memang dibentuk, tetapi mungkin tidak menjadi momen besar seperti yang diharapkan sebagian pelaku pasar sebelum pelantikan,” kata Galindo.

Selanjutnya: Bareskrim Polri Panggil 3 Tersangka Kasus DSI untuk Pemeriksaan Senin (9/2)

Menarik Dibaca: 7 Manfaat Buah Kersen: Sejumlah Penyakit Kronis Ini Bisa Anda Hindari




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×