Sumber: The Street | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Bitcoin (BTC) saat ini diperdagangkan di sekitar US$ 65.000, melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung sejak pertengahan Januari.
Sejak saat itu, Bitcoin masih berada di kisaran US$ 75.000. Kemudian, penurunannya terjadi secara perlahan namun konsisten: turun ke US$ 72.000, lalu US$ 70.000, US$ 68.000, dan kini US$ 65.000.
Penurunan perlahan seperti ini sering kali terasa lebih mengkhawatirkan dibanding crash mendadak. Tidak ada satu berita besar yang bisa disalahkan, tidak ada kepanikan besar dalam satu hari, hanya tekanan jual yang terus menggerus kepercayaan pasar.
Berbeda dengan masa lalu saat kejatuhan kripto dipicu oleh kasus besar seperti FTX atau Luna, kali ini tidak ada satu penyebab utama yang jelas.
Mengutip The Street, sejumlah analis bahkan mulai terbuka menyebut kemungkinan Bitcoin turun di bawah US$ 60.000, bahkan ada skenario ekstrem yang menyebut potensi kembali ke US$ 40.000 jika minat terhadap aset berisiko terus melemah.
Sentimen pasar kripto saat ini memang sedang lemah. Arus dana ETF negatif, minat risiko menurun, dan bahkan emas serta perak (yang biasanya dianggap safe haven) juga bergerak volatil.
Namun di tengah tekanan itu, proyeksi terbaru dari JPMorgan justru terdengar kontras.
Baca Juga: Bukan Militer: Ray Dalio Peringatkan Perang Global Jenis Baru
JPMorgan Justru Makin Bullish
Dalam laporan terbaru, analis JPMorgan yang dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou menyatakan bahwa Bitcoin kini terlihat lebih menarik dibanding emas, jika dilihat dari sisi volatilitas yang disesuaikan dengan risiko.
Rasio volatilitas Bitcoin terhadap emas kini turun ke sekitar 1,5, level terendah sepanjang sejarah. Artinya, secara historis, Bitcoin tidak lagi jauh lebih bergejolak dibanding emas.
Menurut JPMorgan, lonjakan harga emas sejak Oktober lalu, ditambah meningkatnya volatilitas emas, justru membuat Bitcoin terlihat lebih menarik dalam jangka panjang.
Dengan menggunakan kerangka ini, JPMorgan menghitung bahwa kapitalisasi pasar Bitcoin bisa meningkat hingga menyiratkan harga sekitar US$ 266.000 per BTC, jika Bitcoin mampu menyamai ukuran investasi emas sektor swasta, yang diperkirakan sekitar US$ 8 triliun (di luar cadangan bank sentral).
Namun, JPMorgan menegaskan bahwa target tersebut tidak realistis untuk tahun ini. Target itu dinilai lebih masuk akal dalam jangka panjang, jika sentimen negatif mereda dan Bitcoin kembali dipandang sebagai lindung nilai terhadap skenario ekonomi ekstrem.
Baca Juga: Harta Kekayaan Kevin Warsh: Calon Ketua The Fed Pilihan Trump
Tekanan Jangka Pendek Masih Nyata
Meski bullish dalam jangka panjang, JPMorgan tidak menutup mata terhadap tekanan pasar saat ini.
Bank tersebut mencatat bahwa pasar kripto tertekan seiring melemahnya saham teknologi, aksi jual aset berisiko, serta menurunnya kepercayaan investor. Tekanan juga diperparah oleh peretasan platform DeFi berbasis Solana, Step Finance, senilai sekitar US$29 juta.
Selain itu, harga Bitcoin kini berada di bawah estimasi biaya produksi, yang oleh JPMorgan diperkirakan sekitar US$87.000. Secara historis, biaya produksi sering menjadi “batas bawah lunak” harga Bitcoin.
Jika harga tetap berada di bawah level tersebut, penambang yang tidak lagi menguntungkan bisa keluar dari pasar. Hal ini berpotensi menekan biaya produksi. Bahkan dalam beberapa kasus, juga menekan harga lebih lanjut.
Meski begitu, JPMorgan menilai likuidasi sejauh ini masih relatif terbatas dibandingkan crash sebelumnya. Tekanan di pasar futures dan aksi jual institusional juga belum separah kejatuhan besar pada Oktober 2025.













