Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Kejatuhan tajam pada saham teknologi pada Jumat (6/11/2026), merembet ke seluruh pasar saham global, di tengah kekhawatiran bahwa kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) Amerika Serikat (AS) akan meningkatkan pengawasan regulasi terhadap AI dan memperlambat pembangunan pusat data (data center).
Kondisi ini mendorong para investor beralih ke obligasi yang dianggap lebih aman.
Jumat (6/11/2026), indeks Nikkei Jepang sempat merosot 6%, penurunan harian terdalam sejak April 2025. Indeks acuan saham di Korea Selatan dan Taiwan juga terjun lebih dari 8% setelah pembukaan perdagangan, sebelum akhirnya memangkas kerugian seiring upaya otoritas setempat untuk membendung aksi jual.
Indeks volatilitas Wall Street—yang sering disebut sebagai "indikator ketakutan" (fear gauge)—melonjak tajam. Indeks Nasdaq anjlok 5,5%, dan nilai pasar perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 terpangkas sebesar $3 triliun. Investor khawatir Partai Demokrat, yang mendominasi pemilihan umum paruh waktu minggu ini, akan mengerem laju pertumbuhan AI.
"Ini benar-benar sebuah bencana. (Klien kami) memiliki posisi beli (long) pada indeks maupun saham, dan semuanya terkena dampak buruk," ujar Christopher Forbes, kepala wilayah Asia dan Timur Tengah di CMC Markets seperti dilansir Reuters.
Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Anjlok 6% Hari Ini (6/11), Catat Pekan Terburuk Sejak 2020
Gejolak politik ini menghantam sektor kecerdasan buatan (AI) yang memang sudah berada dalam posisi rentan akibat kekhawatiran mengenai imbal hasil dari pengeluaran masif untuk infrastruktur terkait AI.
Kejatuhan pasar ini memicu margin call serta membuat investor ritel maupun dana lindung nilai (hedge fund) merasa cemas. "Aksi jual ini menunjukkan bahwa harga saham perusahaan AI selama ini dibangun di atas ilusi indah mengenai masa depan, dan kini ilusi tersebut telah sirna," ujar Dong Baozhen, ketua manajer aset Lingtong Shengtai.
Ia bilang, pasar saham AS telah menjadi tolok ukur sekaligus tulang punggung bagi lonjakan harga saham AI secara global. Kini, tulang punggung tersebut telah patah. "Mampukah pasar saham AI di wilayah lain bertahan dengan kekuatannya sendiri?," ujarnya
Otoritas Berupaya Meredakan Kepanikan
Menjelang sore hari di Asia, Jumat (6/11/2026), penurunan harga saham mulai berkurang seiring upaya otoritas untuk meredakan kepanikan. Menteri Keuangan Korea Selatan, Lee Hyoung-il, melonggarkan sementara aturan terkait investasi dengan dana pinjaman (leverage) bagi investor ritel.
Beberapa sumber mengungkapkan kepada Reuters bahwa Kementerian Keuangan Taiwan telah menghubungi para eksekutif senior di bank-bank milik negara pada pagi hari, dengan instruksi untuk memberikan dukungan terhadap pasar.
Indeks saham Taiwan ditutup turun 4,5%, setelah sempat anjlok lebih dalam pada pagi harinya. Berdasarkan data LSEG, indeks tersebut mencatat penurunan mingguan sebesar 12,2%—penurunan terbesar sejak tahun 1991.
Kontrak berjangka (futures) Nasdaq naik 0,8%, sementara kontrak berjangka saham Eropa turun 1%, yang mengindikasikan bahwa sentimen pasar masih rapuh.
Produsen cip AI asal Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing mencatat penurunan hampir 6% dan 9,4%, setelah sempat mengalami koreksi yang jauh lebih dalam sebelumnya. Di Taiwan, saham TSMC sempat anjlok hingga 8,5% sebelum akhirnya ditutup turun 4,7%.
Baca Juga: Harga Emas Melemah Imbas Kekhawatiran Inflasi, Pasar Menanti Data Ketenagakerjaan AS
Di Jepang, saham Kioxia terjun 11%, sementara SoftBank Group—perusahaan yang berinvestasi di sektor AI—turun 11%. Bersamaan dengan itu, biaya untuk asuransi gagal bayar utang (credit default swap) perusahaan Jepang tersebut melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
"Setelah mengalami guncangan seperti ini, sulit untuk membayangkan bahwa pasar bisa langsung bangkit begitu saja," kata Steve Sosnick, kepala strategi di Interactive Brokers.
"Mungkin secara jangka pendek pasar sudah mengalami aksi jual berlebihan (oversold), namun berbagai pertanyaan dan penyebab mendasar di baliknya tidak bisa begitu saja dihilangkan."
Kekhawatiran investor juga tertuju pada kemungkinan terhambatnya ekspansi infrastruktur AI, yang dapat merugikan perusahaan-perusahaan berskala lebih kecil—perusahaan yang kapasitasnya untuk menggalang dana memang sudah terbatas akibat suku bunga yang lebih tinggi dan kondisi keuangan yang lebih ketat.
Penyedia layanan komputasi awan (cloud computing) untuk kecerdasan buatan (AI), CoreWeave—yang telah menjadi tolok ukur kecemasan investor terkait besarnya pengeluaran dan utang untuk sektor AI—mengalami penurunan nilai sebesar 10%. Pada saat yang sama, selisih (spread) credit default swap (CDS) tenor 5 tahun perusahaan tersebut melebar hingga mencapai rekor tertinggi.
Aksi jual ini menunjukkan bahwa para investor mulai memperhitungkan meningkatnya penentangan dari masyarakat setempat terhadap pembangunan pusat data.
Menurut para analis, pasar belum sepenuhnya mempertimbangkan dampak biaya yang ditimbulkan oleh pembangunan fasilitas semacam itu terhadap komunitas di sekitarnya.
Pada hari Kamis, Gina Hinojosa—yang terpilih sebagai Gubernur Texas—menyatakan bahwa negara bagian tersebut akan memperkenalkan undang-undang untuk melindungi penduduk terkait keberadaan pusat data, dengan menyoroti dampaknya terhadap komunitas di wilayah pedesaan.
Meski demikian, sejumlah analis berpendapat, aksi jual ini sudah berlebihan dan titik terendah pasar mungkin tidak lama lagi akan tercapai.
"Hari ini kita kemungkinan akan melihat likuidasi lebih lanjut pada akun-akun yang menggunakan margin, yang mengindikasikan bahwa kita mungkin berada di tahap akhir dari fase penyerahan diri pasar," ujar Allen Huang, wakil presiden departemen perdagangan ekuitas di Mega Financial Holding.
Baca Juga: Korea Selatan Siapkan Aturan Pajak Kripto, Berlaku Mulai 2029
Beralih ke Obligasi
Obligasi menguat di Asia, dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) serta obligasi pemerintah Jepang dan Tiongkok mengalami kenaikan. Dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss menarik aliran dana yang mencari aset aman (safe haven).
Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun berada di angka 4,838%, mendekati level terendah sejak 9 September. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun turun hingga 9 basis poin (bps) menjadi 1,795%, level terendah sejak 30 Juni.
"Obligasi kini kembali berperilaku layaknya obligasi; pendapatan (imbal hasil) kembali menjadi pendorong utama keuntungan, sekaligus memulihkan manfaat diversifikasi tradisional yang dimilikinya," ujar Masahiko Loo, kepala strategi pendapatan tetap (fixed income) di State Street Investment Management.
"Situasi ini lebih mencerminkan penilaian ulang terhadap risiko kebijakan terkait kecerdasan buatan (AI), alih-alih penilaian ulang terhadap siklus AI itu sendiri."













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
