kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.905   -4,00   -0,02%
  • IDX 5.974   48,31   0,82%
  • KOMPAS100 775   9,14   1,19%
  • LQ45 597   7,33   1,24%
  • ISSI 207   1,62   0,79%
  • IDX30 332   3,92   1,19%
  • IDXHIDIV20 426   4,50   1,07%
  • IDX80 89   1,06   1,22%
  • IDXV30 117   1,15   0,99%
  • IDXQ30 109   1,02   0,95%

Paus Leo XIV Idap Kanker Paru-Paru, Ini Kondisi Terbarunya Setelah Operasi


Rabu, 14 Oktober 2026 / 11:19 WIB
Paus Leo XIV Idap Kanker Paru-Paru, Ini Kondisi Terbarunya Setelah Operasi
ILUSTRASI. Paus Leo XIV (REUTERS/Remo Casilli)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – ROMA. Paus Leo XIV didiagnosis menderita kanker paru-paru setelah menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-paru kanannya pada Selasa (13/10/2026). Informasi tersebut disampaikan Vatikan melalui buletin medis, menandai perkembangan serius dalam kondisi kesehatan pemimpin Gereja Katolik berusia 71 tahun itu.

Dalam buletin tersebut, Vatikan menyebut Leo XIV menderita adenokarsinoma paru-paru, salah satu jenis kanker paru-paru yang umum ditemukan. Pemeriksaan jaringan yang dilakukan selama operasi mengonfirmasi dugaan dokter berdasarkan hasil pemeriksaan awal.

Paus Leo XIV sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Gemelli di Roma untuk menjalani operasi pengangkatan pertumbuhan jaringan abnormal yang ditemukan dokter saat pemeriksaan kesehatan rutin baru-baru ini.

Dokter bedah utama Paus, Stefano Margaritora, bersama dokter pribadinya, Luigi Carbone, menyatakan bahwa operasi berlangsung sekitar 90 menit dan berjalan sukses tanpa komplikasi.

“Untuk memastikan prosedur ini bersifat kuratif, lobus bawah paru-paru kanan diangkat menggunakan teknik berbantuan video,” demikian pernyataan kedua dokter tersebut. Prosedur itu bertujuan menghilangkan seluruh jaringan kanker.

Baca Juga: Ekspor China Melonjak 36,3% pada September 2026, Surplus Dagang Dekati US$ 1 Triliun

Sebagai informasi, paru-paru manusia terdiri atas lima lobus, yakni tiga lobus di paru-paru kanan dan dua lobus di paru-paru kiri.

Stadium kanker Paus Leo XIV belum diketahui

Meski diagnosis kanker telah dikonfirmasi, tingkat keparahan penyakit yang diderita Paus Leo XIV belum dapat dipastikan. Menurut seorang pakar medis, informasi mengenai ukuran tumor dan kemungkinan penyebaran kanker ke kelenjar getah bening diperlukan untuk menilai kondisi pasien serta menentukan prognosis dan penanganan selanjutnya.

Stephen Liu, pakar kanker paru-paru sekaligus Kepala Divisi Hematologi-Onkologi di MedStar Georgetown University Hospital, Washington, mengatakan bahwa penentuan stadium kanker menjadi faktor penting dalam memperkirakan perkembangan penyakit.

“Diagnosisnya sudah diketahui, tetapi stadium kanker belum diketahui. Hal ini sangat penting untuk menentukan prognosis dan pengobatan,” kata Liu kepada Reuters.

Ia menjelaskan, apabila kanker berukuran kecil dan belum melibatkan kelenjar getah bening, operasi berpotensi menjadi pengobatan yang menyembuhkan.

“Namun, jika analisis akhir menunjukkan bahwa keterlibatan kanker lebih luas, hal ini mengindikasikan prognosis yang lebih buruk,” ujarnya.

Hingga laporan tersebut disusun, Vatikan belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai ukuran tumor maupun kemungkinan penyebaran kanker pada Paus Leo XIV.

Paus Leo XIV menjalani pemulihan di rumah sakit

Setelah operasi, Paus Leo XIV dilaporkan kembali sadar secara normal dan kembali ke kamar perawatannya untuk beristirahat.

Vatikan sebelumnya menyampaikan bahwa Paus diperkirakan akan menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar satu pekan. Seluruh agenda publiknya juga telah dibatalkan hingga 20 Oktober 2026.

Sebelum menjalani operasi, Leo XIV meninggalkan Vatikan sesaat sebelum pukul 13.00 waktu setempat. Ia terlihat melambaikan tangan dari bagian belakang mobil sport utility vehicle (SUV) berwarna hitam ketika iring-iringan kendaraannya menempuh perjalanan sekitar sembilan kilometer menuju Rumah Sakit Gemelli.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Stabil, Menanti Data Inflasi AS dan Keputusan The Fed

Setibanya di rumah sakit, Paus berjabat tangan dengan sejumlah pejabat dan berjalan melewati kerumunan warga yang menunggunya. Beberapa orang meneriakkan kata “Auguri”, yang berarti harapan baik atau semoga lekas pulih, sebelum ia memasuki gedung melalui pintu utama.

Leo XIV terpilih sebagai Paus pada Mei 2025 melalui pemilihan oleh para kardinal Gereja Katolik. Pada usia 71 tahun, ia tergolong relatif muda dibandingkan sejumlah pemimpin Gereja Katolik sebelumnya.

Ia dikenal menyukai olahraga, termasuk tenis, serta tidak diketahui memiliki kebiasaan merokok atau mengalami masalah kesehatan serius dalam waktu dekat sebelum diagnosis tersebut.

Pendahulunya, Paus Fransiskus, beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit ketika kondisi kesehatannya melemah pada tahun-tahun terakhir kehidupannya. Paus Fransiskus meninggal dunia pada April 2025 dalam usia 88 tahun.

Agenda perjalanan Paus ke Amerika Selatan belum pasti

Sebelum menjalani operasi, Paus Leo XIV masih menjalankan aktivitas publik. Dalam penampilan publiknya pada Senin (12/10), ia berbicara dengan suara yang tegas dan jelas.

Paus juga memiliki jadwal kegiatan yang padat. Ia dijadwalkan melakukan perjalanan selama 11 hari ke Uruguay, Argentina, dan Peru pada 6–17 November 2026.

Namun, belum ada kepastian apakah perjalanan tersebut tetap akan dilaksanakan setelah ia didiagnosis kanker paru-paru dan menjalani operasi.

Sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang memiliki sekitar 1,4 miliar umat di seluruh dunia, Paus memegang otoritas utama dalam urusan Gereja. Tidak ada wakil yang secara otomatis mengambil alih seluruh kewenangannya ketika ia jatuh sakit.

Dalam kondisi Paus tidak dapat menjalankan tugas, aktivitas birokrasi Vatikan tetap berlangsung. Namun, keputusan tertentu yang membutuhkan persetujuan Paus akan ditunda hingga persetujuan tersebut dapat diberikan.

Baca Juga: Nikkei Jepang Rebound 0,61% Rabu (14/10), Saham Chip Kembali Menguat

Pernah menderita demam tifoid saat menjadi misionaris

Paus Leo XIV lahir di Chicago, Amerika Serikat, pada 1955 dengan nama Robert Prevost. Sebelum terpilih menjadi Paus, ia menghabiskan puluhan tahun sebagai misionaris dan uskup di Peru.

Pada 1985, ketika masih menjadi imam muda, ia pernah menderita demam tifoid saat berada di Chulucanas, Peru, hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Leo XIV menceritakan pengalaman tersebut dalam salah satu wawancara panjangnya sebagai Paus yang diterbitkan dalam sebuah buku oleh Penguin Peru.

Ia mengungkapkan bahwa rasa sakit yang dialaminya saat itu begitu berat hingga ia meminta Tuhan agar membiarkannya meninggal daripada terus menanggung penderitaan.

Namun, keberhasilannya bertahan hidup ia maknai sebagai tanda bahwa Tuhan masih menghendakinya untuk menjalankan tugas di dunia.

“Saya menganggap bahwa kelangsungan hidup saya merupakan tanda dari Tuhan bahwa ‘Kami membutuhkanmu di sini, di Bumi’,” kata Leo XIV, sebagaimana dikutip Reuters.

“Saya tidak pernah menoleh ke belakang,” ujarnya.




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×