kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.905   -4,00   -0,02%
  • IDX 5.974   48,31   0,82%
  • KOMPAS100 775   9,14   1,19%
  • LQ45 597   7,33   1,24%
  • ISSI 207   1,62   0,79%
  • IDX30 332   3,92   1,19%
  • IDXHIDIV20 426   4,50   1,07%
  • IDX80 89   1,06   1,22%
  • IDXV30 117   1,15   0,99%
  • IDXQ30 109   1,02   0,95%

Ekspor China Melonjak 36,3% pada September 2026, Surplus Dagang Dekati US$ 1 Triliun


Rabu, 14 Oktober 2026 / 10:59 WIB
Ekspor China Melonjak 36,3% pada September 2026, Surplus Dagang Dekati US$ 1 Triliun
ILUSTRASI. Ekspor China melonjak 36,3% pada September 2026, melampaui perkiraan pasar. Surplus dagang mencapai US$ 938,11 miliar, mendekati US$ 1 triliun. (AFP/CN-STR)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Kinerja perdagangan China menunjukkan penguatan pada September 2026. Pertumbuhan ekspor negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu melampaui ekspektasi pasar, ditopang permintaan luar negeri yang kuat di tengah lemahnya konsumsi domestik.

Data kepabeanan China yang dirilis pada Rabu (14/10/2026) menunjukkan, ekspor China melonjak 36,3% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 25% pada Agustus 2026 dan jauh melampaui perkiraan ekonom sebesar 25,5%.

Pertumbuhan ekspor pada September tersebut menjadi yang tercepat sejak Februari 2026, ketika pengiriman barang ke luar negeri meningkat 39,6%.

Sementara itu, impor China tumbuh 31% secara tahunan pada September 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 28,2% pada Agustus 2026 dan melampaui perkiraan ekonom sebesar 24,5%.

Kuatnya kinerja perdagangan luar negeri membantu China mengimbangi lemahnya belanja konsumen dan meredakan tekanan terhadap pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Stabil, Menanti Data Inflasi AS dan Keputusan The Fed

Ketahanan ekspor barang China juga bertahan selama dua tahun berturut-turut, meskipun negara-negara Barat terus menekan Beijing agar menyeimbangkan hubungan perdagangan. Permintaan dari pasar global membuat aktivitas manufaktur tetap bergairah dan menopang pertumbuhan ekonomi di tengah lesunya permintaan domestik serta investasi.

Surplus dagang China mendekati US$ 1 triliun

Penguatan ekspor turut memperbesar surplus perdagangan China. Sepanjang Januari-September 2026, surplus perdagangan negara tersebut mencapai US$ 938,11 miliar.

Dengan capaian tersebut, China berpeluang mencatat surplus perdagangan lebih dari US$ 1 triliun lebih cepat dibandingkan tahun lalu, kecuali terjadi perlambatan ekspor yang tajam pada kuartal IV-2026.

Namun, hingga saat ini, kemungkinan perlambatan ekspor secara signifikan dinilai masih terbatas.

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan berasal dari kesepakatan China dan Uni Eropa (UE) untuk membatasi ekspor kendaraan hibrida China ke kawasan tersebut. Kesepakatan yang diumumkan pada awal Oktober 2026 itu berpotensi menekan perdagangan otomotif China yang tengah berkembang pesat.

Meski demikian, penerapan langkah-langkah perdagangan tersebut diperkirakan baru akan dirinci pada Desember 2026. Kondisi ini membuka peluang bagi eksportir China untuk mempercepat pengiriman kendaraan sebelum tenggat waktu berlaku.

Di sisi lain, hubungan perdagangan China dan Amerika Serikat (AS) menunjukkan perkembangan yang dapat membantu menjaga arus perdagangan.

Pertemuan tingkat tinggi Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Washington pada September 2026 menghasilkan perpanjangan gencatan tarif kedua negara. Keduanya juga menyepakati pemangkasan tarif atas barang senilai US$ 30 miliar dari masing-masing negara.

Baca Juga: Nikkei Jepang Rebound 0,61% Rabu (14/10), Saham Chip Kembali Menguat

Kesepakatan tersebut memberikan ruang bagi perdagangan bilateral untuk tetap berjalan di tengah ketegangan ekonomi antara kedua kekuatan besar dunia tersebut.

Permintaan teknologi dan semikonduktor menopang ekspor

Selain faktor hubungan dagang, permintaan global terhadap produk teknologi China juga diperkirakan tetap kuat.

Pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di berbagai negara terus berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Kondisi ini menopang prospek permintaan produk teknologi buatan China, termasuk semikonduktor.

Permintaan tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi menjaga kinerja ekspor China di tengah meningkatnya tekanan perdagangan internasional.

Data ekonomi lainnya menunjukkan pemulihan China masih berlangsung tidak merata. Harga di tingkat produsen atau factory-gate prices pada September 2026 meningkat dengan laju tercepat dalam lebih dari empat tahun.

Sementara itu, inflasi konsumen turut naik, tetapi masih berada di bawah perkiraan pasar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perbaikan di sisi industri belum sepenuhnya diikuti penguatan permintaan masyarakat.

Meski demikian, kinerja ekspor yang solid memberikan ruang bagi pemerintah China untuk mencapai target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahunan sebesar 4,5%-5% dengan dukungan kebijakan yang moderat.

China menghadapi risiko pembatasan perdagangan

China juga bersiap menghadapi potensi pembatasan ekspor dari negara-negara mitra dagang. Risiko tersebut muncul seiring kritik dari Washington dan Brussels terhadap kebijakan industri serta moneter Beijing yang dinilai turut berkontribusi terhadap besarnya surplus perdagangan China.

Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Melemah Rabu (14/10), Bagaimana Nasib Rupiah?

Pada pekan lalu, bank sentral China menanggapi kritik terhadap kebijakan nilai tukar yuan melalui pernyataan kebijakan yang panjang.

Bank sentral menegaskan bahwa China tidak pernah mengejar pelemahan yuan secara kompetitif untuk memperoleh keuntungan perdagangan. Pernyataan tersebut sekaligus membantah tudingan bahwa Beijing sengaja mempertahankan nilai tukar yuan pada level yang terlalu lemah demi meningkatkan daya saing ekspor.

Di tengah dinamika tersebut, China juga akan menggelar Canton Fair, pameran perdagangan terbesar di negara itu, mulai Kamis (15/10/2026). Ajang tersebut menjadi kesempatan bagi produsen China untuk memamerkan beragam produk kepada pembeli asing.

Ke depan, ketergantungan terhadap ekspor menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian China. Apabila sektor tersebut mengalami tekanan besar akibat pembatasan perdagangan atau melemahnya permintaan global, pemerintah berpotensi meningkatkan stimulus untuk menopang pertumbuhan.

Langkah tersebut diperlukan untuk mengatasi lemahnya permintaan domestik dan penurunan berkepanjangan di pasar properti yang masih membebani pemulihan ekonomi China.




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×