kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Ekspor China Kehilangan Tenaga, Sinyal Risiko Ekonomi


Rabu, 15 April 2026 / 04:00 WIB
Ekspor China Kehilangan Tenaga, Sinyal Risiko Ekonomi
ILUSTRASI. PMI Manufaktur China (REUTERS/CHINA DAILY)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - ​BEIJING. Kinerja ekspor China mulai kehilangan tenaga. Setelah melesat tinggi di awal tahun, pertumbuhan ekspor Negeri Tirai Bambu ini melambat tajam pada Maret 2026, menandakan tekanan baru dari gejolak global kian terasa.

Data terbaru menunjukkan ekspor China hanya tumbuh 2,5% secara tahunan (yoy), jauh di bawah capaian Februari yang hampir menyentuh 40% yoy. Angka ini juga meleset dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 8,6%. Di sisi lain, impor justru melonjak 28% yoy, membuat surplus perdagangan menyusut menjadi US$ 51 miliar, terendah dalam lebih dari setahun.

Melansir Bloomberg (14/4), perlambatan ini tak lepas dari guncangan besar di pasar energi global akibat konflik Iran. Penutupan efektif Selat Hormuz jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia telah mendorong lonjakan biaya bahan baku industri. Dampaknya langsung terasa pada margin pabrik-pabrik China, terutama yang berorientasi ekspor.

Tekanan biaya ini menjadi alarm bagi daya tahan sektor manufaktur China. Kenaikan harga energi dan bahan baku berisiko menggerus daya saing produk, di tengah permintaan global yang mulai goyah.

Namun, tidak semua sentimen berwarna gelap. Lonjakan investasi global di sektor kecerdasan buatan (AI) menjadi bantalan penting. Permintaan terhadap komponen teknologi, khususnya cip memori, mendorong ekspor negara-negara Asia. Di China sendiri, ekspor sirkuit terpadu melonjak hampir 70% dalam dua bulan pertama tahun ini, sementara peralatan listrik tumbuh lebih dari 50%.

Faktor eksternal lain yang turut menopang adalah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan tarif era Donald Trump. Kebijakan tersebut sempat membuat tarif terhadap produk China melonjak hingga 145%. Koreksi tarif ini memberi ruang napas bagi eksportir China, meski efeknya belum sepenuhnya tercermin pada data Maret.

Baca Juga: China Kecam Amerika Serikat Soal Blokade Iran, Sebut Picu Ketegangan Baru

“Faktor-faktor yang saling bertolak belakang membuat arah ekspor China sulit ditebak dalam jangka pendek,” tulis analis Bloomberg dalam catatannya. Rentang proyeksi pertumbuhan ekspor Maret pun sangat lebar, dari kontraksi 10% hingga ekspansi 24% mencerminkan tingginya ketidakpastian global.

Meski demikian, indikator domestik menunjukkan ekonomi China masih cukup tangguh. Data pelabuhan mencatat arus barang tetap tinggi, bahkan melampaui rekor tahun lalu. Sementara itu, pesanan ekspor dalam indeks PMI manufaktur resmi naik ke level tertinggi sejak April 2024.

Ekonom sebelumnya memang telah memperkirakan normalisasi setelah lonjakan tajam pada Januari–Februari, di mana ekspor dan impor sama-sama tumbuh sekitar 20% yoy. Selain itu, faktor kalender seperti libur Tahun Baru Imlek yang lebih lambat pada 2026 turut mengurangi hari kerja di Maret.

Ke depan, arah ekspor China masih diliputi tanda tanya besar. Konflik Iran berpotensi membuka peluang baru, seperti peningkatan permintaan global terhadap produk energi hijau China, termasuk panel surya dan kendaraan listrik.

Data terbaru bahkan menunjukkan ekspor kendaraan listrik dan hybrid China melonjak dua kali lipat pada Maret. Produsen China juga mulai menyalip dominasi Jepang di pasar Australia serta memperluas pangsa di Inggris.

Namun, risiko tetap membayangi. Lonjakan harga minyak berpotensi memicu pengetatan kebijakan moneter di berbagai negara dan menekan konsumsi global. Jika daya beli melemah, maka permintaan terhadap produk manufaktur termasuk dari China akan ikut tergerus.

Dengan lanskap global yang semakin tidak pasti, perlambatan ekspor Maret bisa menjadi sinyal awal bahwa mesin pertumbuhan eksternal China mulai menghadapi batasnya.

Baca Juga: Impor Minyak China Turun pada Maret, Perang Iran Bayangi Pasokan April


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×