Sumber: Reuters | Editor: Titis Nurdiana
KONTAN.CO.ID -WASHINGTON. Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana melarang maskapai penerbangan Tiongkok terbang ke Amerika Serikat mulai pertengahan Juni. Ini demi menekan Beijing agar mengizinkan maskapai penerbangan AS untuk melanjutkan penerbangan,
Tiga pejabat A.S dan maskapai penerbangan kepada Reuters, Rabu (3/6) waktu setempat mengatakan, keputusan ini akan diumumkan pada hari Rabu atau Kamis waktu Indonesia.
Keputusan ini untuk menghukum Tiongkok setelah Beijing gagal mematuhi perjanjian tentang penerbangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Hubungan antara kedua negara juga memburuk dalam beberapa bulan terakhir di tengah meningkatnya ketegangan yang terpicu pandemi corona.
Larangan terbang itu diperkirakan mulai berlaku pada 16 Juni. “Hanya kepastian tanggalnya bisa diubah Trump bisa lebih cepat,” sumber Reuters yang minta namanya tak disebutkan, Rabu (3/6).
Delta Air Lines (N: DAL) dan United Airlines (O: UAL) telah meminta izin untuk melanjutkan penerbangan ke Cina bulan ini, bahkan ketika maskapai penerbangan China melanjutkan penerbangan A.S. selama pandemi.
Permintaan izin terbang ini, kata sumber Reuters, untuk Air China, China Eastern Airlines (NYSE: CEA) Corp, China Southern Airlines Co dan Hainan Airlines Holding Co.
Gedung Putih dan Departemen Transportasi menolak mengomentari masalah ini. Pun, kedutaan Cina di Washington juga tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Pemerintahan Trump pada 22 Mei menuduh pemerintah China telah melarang maskapai penerbangan AS untuk melanjutkan layanan ke Cina dan memerintahkan empat maskapai penerbangan China untuk mengajukan jadwal penerbangan dengan pemerintah AS.
Pemerintah AS juga menghalangi penerbangan charter maskapai penumpang Tiongkok dan akan memperingatkan operator untuk tidak mengharapkan persetujuan terbang. Padahal, sebelumnya, pejabat AS menyarankan penerbangan charter digunakan untuk menghindari batasan pemerintah Cina dalam penerbangan.
Pada 31 Januari, pemerintah AS melarang masuknya sebagian besar warga non-AS yang telah berada di China selama 14 hari karena krisis corona, tetapi tidak memberlakukan pembatasan apa pun pada penerbangan China.
Operator-operator utama penerbangan AS. secara sukarela memutuskan untuk menghentikan semua penerbangan penumpang ke Cina pada bulan Februari