Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pengembang asal China menutup akses kode sumber (closed-source) perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI), ARTEX, setelah perusahaan keamanan siber mengidentifikasi perangkat tersebut sebagai salah satu alat yang digunakan dalam serangan siber terhadap sejumlah bank di Korea Selatan.
Pengembang ARTEX yang menggunakan nama akun GitHub "Autumn-27" menyatakan proyek tersebut tidak akan lagi diperbarui dan tidak ada versi baru yang dirilis ke publik. Dukungan pemeliharaan perangkat lunak tersebut juga dihentikan.
"Mengingat penyalahgunaan alat ini, proyek ARTEX tidak akan lagi diperbarui dan akan diubah menjadi kode sumber tertutup. Tidak ada versi lebih lanjut yang akan dirilis ke publik dan tidak akan ada dukungan pemeliharaan," kata pengembang tersebut melalui platform GitHub pada Kamis (8/10/2026).
Baca Juga: Belajar dari 2015 dan 2019, Ini Rencana F1 Singapura Hadapi Kabut Asap
Pengembang itu menyebut ARTEX pada awalnya dirancang untuk membantu perusahaan dan organisasi melakukan pengujian risiko keamanan serta meningkatkan kemampuan pertahanan siber.
Meski tidak secara langsung menanggapi serangan terhadap bank Korea Selatan, pengembang tersebut menyatakan menentang penggunaan perangkat lunak untuk aktivitas ilegal.
Berdasarkan penelusuran Reuters, halaman ARTEX di GitHub juga telah dihapus.
Perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat, CrowdStrike, pada Rabu (7/10/2026) menyebut pelaku yang diduga berada di balik serangkaian serangan siber terhadap bank Korea Selatan kemungkinan merupakan warga China berusia 26 tahun.
Pelaku tersebut diduga menggunakan agen AI ARTEX dan Claude Code milik Anthropic untuk menjalankan aksinya.
Baca Juga: SpaceX Akuisisi Spektrum 800 MHz, Siap Tantang Operator Seluler AS
ARTEX dirilis melalui GitHub pada tahun ini sebagai agen AI sumber terbuka (open-source) yang dirancang untuk mengotomatisasi pengujian penetrasi atau penetration testing.
Perangkat ini bukan model bahasa besar (LLM) mandiri, melainkan terhubung dengan model AI eksternal, seperti ChatGPT, Claude, dan DeepSeek, untuk membantu organisasi menguji kerentanan jaringan mereka.
Sementara itu, sedikitnya sembilan bank Korea Selatan telah mengungkapkan atau dilaporkan media lokal menjadi sasaran serangan siber sejak akhir September 2026. Serangan tersebut mendorong kepolisian setempat memulai penyelidikan pada pekan ini.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga menyerukan langkah penanganan yang tegas terhadap serangan tersebut.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan pihaknya belum mengetahui secara terperinci kasus tersebut.
Dalam konferensi pers rutin pada Kamis, Mao menegaskan bahwa China secara konsisten menentang dan memerangi aktivitas peretasan.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Jepang Turun, Ikuti Reli Treasury AS














