Penjualan Ritel Australia Turun Karena Kenaikan Inflasi dan Suku Bunga

Senin, 28 November 2022 | 11:17 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Penjualan Ritel Australia Turun Karena Kenaikan Inflasi dan Suku Bunga

ILUSTRASI. Kawasan bisnis di Sidney. REUTERS/Steven Saphore/File Photo


KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Dampak inflasi dan kenaikan suku bunga mulai terasa bagi rumah tangga di Australia. Sebab, penjualan ritel negara kangguru tersebut turun untuk pertama kalinya tahun ini di Oktober 2022.

Data Biro Statistik Australia (ABS) menunjukkan penjualan turun 0,2% dari September dan meleset dari perkiraan ekonom untuk kenaikan 0,5%. Memang, tidak ada ekonom yang memperkirakan penurunan dan hanya Commonwealth Bank of Australia saja yang perkiraannya paling dekat yaitu tidak ada perubahan.

Ben Dorber, kepala statistik ritel di ABS, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penurunan untuk omset ritel mengakhiri sembilan kenaikan bulanan berturut-turut dan menunjukkan peningkatan tekanan biaya hidup termasuk kenaikan suku bunga telah mulai membebani belanja konsumen.

“Omzet turun di semua industri pada bulan Oktober kecuali ritel makanan.” ujar Ben seperti dikutip dari Bloomberg (28/11).

Baca Juga: Kim Jong Un Targetkan Korea Utara Miliki Kekuatan Nuklir Terkuat di Dunia

Kombinasi dari kebijakan moneter yang lebih ketat dan kenaikan harga telah menghancurkan sentimen konsumen. Ditambah, munculnya kembali fenomena perjalanan ke luar negeri yang mengancam untuk mengalihkan pengeluaran ke luar negeri. 

Bloomberg Economics memperkirakan pelemahan lebih lanjut hingga akhir tahun ini dan hingga 2023 karena dampak penuh dari kenaikan suku bunga melewati anggaran rumah tangga.

Pengeluaran konsumen yang tangguh adalah salah satu alasan Reserve Bank yakin dengan keputusannya untuk terus menaikkan biaya pinjaman, dengan kenaikan seperempat poin diharapkan minggu depan yang akan membawa suku bunga menjadi 3,1%. 

Pasar uang menyiratkan tingkat puncak 3,8% tahun depan sementara para ekonom memperkirakan bank sentral akan berhenti di 3,6%.

Angka hari ini akan diawasi ketat oleh para pembuat kebijakan yang telah berulang kali mengatakan risiko utama prospek adalah tanggapan rumah tangga terhadap kenaikan cepat biaya pinjaman.

Pengeluaran rumah tangga menyumbang sekitar 60% dari produk domestik bruto. RBA bersiap untuk perlambatan, dengan perkiraannya sendiri menunjukkan pertumbuhan konsumsi melambat menjadi 1,3% pada akhir 2023 dari perkiraan 6,6% pada bulan Desember.

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru