Penurunan Kasus Covid-19 Dunia Bikin WHO Cemas, Ini Alasannya

Jumat, 25 Februari 2022 | 04:53 WIB Sumber: Reuters
Penurunan Kasus Covid-19 Dunia Bikin WHO Cemas, Ini Alasannya

ILUSTRASI. Penurunan angka kasus Covid-19 dunia di sepanjang pekan lalu tak membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lega. REUTERS/Denis Balibouse

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Penurunan angka kasus Covid-19 dunia di sepanjang pekan lalu tak membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lega. Sebaliknya, hal tersebut membuat WHO cemas. Apa alasannya? 

Melansir Reuters, menurut pemimpin teknis Organisasi Kesehatan Dunia untuk COVID-19 Maria Van Kerkhove pada  Rabu (16/2/2022), penurunan kasus COVID-19 dunia kemungkinan dipicu oleh penurunan tingkat pengujian COVID-19. Dia menambahkan, turunnya angka COVID-19 terjadi bahkan ketika angka kematian meningkat.

"Kekhawatiran yang lebih besar saat ini, menurut saya, adalah masih meningkatnya jumlah kematian," kata Van Kerkhove dalam diskusi panel virtual yang disiarkan langsung di Twitter, Facebook, dan YouTube.

Menurut Van Kerkhove, dalam seminggu terakhir saja, hampir 75.000 orang meninggal dilaporkan kepada WHO. 

Baca Juga: Ciri-ciri Gejala Omicron Siluman dan Siapa yang Rentan Terinfeksi, Wajib Tahu!

"Dan kami tahu itu angka terlalu rendah," katanya.

Hal yang sama diungkapkan oleh kepala kedaruratan WHO Mike Ryan. Ryan mengatakan, negara-negara yang mengklaim bahwa penularan mereka telah turun pada dua hingga enam minggu lalu, kemungkinan telah mengalami penurunan tingkat pengujian.

WHO awal pekan ini mendesak pemerintah untuk meningkatkan tingkat vaksinasi dan pengujian cepat karena infeksi telah meningkat akibat varian Omicron virus corona, terutama di Eropa timur.

Yang mencemaskan, beberapa negara telah mengumumkan rencana untuk melonggarkan pembatasan COVID-19 dalam beberapa minggu mendatang jika jumlah infeksi harian terus turun. 

Baca Juga: Varian Omicron Tidak Boleh Dianggap Enteng, Ini Gejala dan Jenis Variannya

"Sekarang bukan waktunya bagi negara untuk mengubah persyaratan isolasi bagi orang yang dites positif dalam tes antigen cepat atau PCR," tambah Ryan. 

Sebelumnya diberitakan, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bermaksud untuk menghapus persyaratan isolasi diri bagi orang yang terinfeksi COVID-19. Rencananya, kebijakan ini akan diberlakukan minggu depan.

Reuters memberitakan, Inggris akan menjadi negara besar Eropa pertama yang mengizinkan orang yang mengetahui bahwa mereka terinfeksi COVID-19 untuk bebas mengunjungi toko-toko, transportasi umum, dan pergi bekerja. Suatu langkah kebijakan yang menurut banyak penasihat kesehatannya sangat berisiko.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru