Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.591
  • SUN95,67 0,14%
  • EMAS659.000 0,30%

Perancis ajak Jerman beraliansi hadapi tantangan masa depan

Rabu, 21 November 2018 / 08:15 WIB

Perancis ajak Jerman beraliansi hadapi tantangan masa depan
ILUSTRASI. Presiden Prancis dan Kanselir Jerman

KONTAN.CO.ID - DW. Presiden Perancis Emmanuel Macron mendapat kehormatan berpidato di parlemen Jerman memperingati berakhirnya Perang Dunia I (PD I). Sebelumnya, Macron juga turut menghormati para serdadu Jerman Jerman yang tewas dalam dan meletakkan karangan bunga. Inilah untuk pertama kalinya seorang Presiden Perancis mendapat kehormatan itu.

Selama PD I Perancis dan Jerman berhadap-hadapan dan terlibat dalam perang mematikan. Jutaan serdadu Jerman dan Perancis serta sekutunya tewas dalam perang brutal itu. PD I diakhiri dengan penandatanganan perjanjian gencatan senjata antara Jerman dan Perancis, 11 November dekat Paris. Hari itu dijadikan upacara peringatan di banyak negara sekutu. Di Jerman, upacara peringatan korban PD I sejak 1952 dilaksanakan pada Volkstrauertag (Hari Berkabung Nasional), hari peringatan yang selalu jatuh pada hari Minggu, enam minggu sebelum perayaan natal.

Di parlemen Jerman Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan aliansi baru Perancis-Jerman untuk menyiapkan Eropa menghadapi tantangan masa depan. Aliansi ini berkewajiban membangun Eropa yang modern, efisien, demokratis dan damai, katanya.

Emmanuel Macron dalam pidatonya mengatakan, Jerman dan Perancis telah berhasil "mengatasi 200 tahun perang habis-habisan" demi membangun "perdamaian yang langgeng".

Menghadapi gejala nasionalisme picik yang kini bangkit di berbagai negara, Perancis dan Jerman harus berdiri di garis depan. Karena itu, "hari ini kita harus membuka bab baru," kata Macron.

"Eropa, dan di dalamnya aliansi Perancis-Jerman, memiliki kewajiban..  untuk merintis jalan menuju perdamaian," tandasnya. Dia menambahkan, tantangan ke depan termasuk juga perang dagang dan ancaman perubahan iklim.

Puji cara Jerman kelola sejarah gelap

Presiden Emmanuel Macron mendesak Jerman dan Perancis mengambil alih lebih banyak tanggung jawab untuk pertahanan dan keamanannya. Eropa tidak boleh "menjadi mainan kekuatan besar," katanya.

Menyinggung sistem demokrasi yang dibangun di Jerman setelah kehancuran pada akhir Perang Dunia II di bawah rejim NazI Hitler, Macron mengatakan bahwa "tidak ada negara lain yang meneliti sejarahnya dengan sangat tulus, dan mencoba untuk belajar dari pengalamannya".

"Anda memutuskan untuk tidak pernah berhenti mencoba mengatasi sengketa nafsu primitif berperang, dan bekerja tanpa lelah demi perdamaian."

Aliansi Jerman-Perancis motor reformasi Uni Eropa

Sebelumnya, bersama Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Frank-Walter Steinmeier, Emmanuel Macron mengambil bagian dalam upacara peletakan karangan bunga di Monumen Peringatan korban perang "Neue Wache".

Setelah itu, Macron mengadakan pembicaraan dengan kanselir Merkel mengenai pembaruan Uni Eropa. Jerman dan Perancis hari Jumat lalu (16/11) menyetujui proposal tentang anggaran bersama negara-negara anggota zona euro untuk membuat kawasan euro lebih tahan terhadap krisis keuangan dan ekonomi.

Merkel dan Macron juga membahas lebih lanjut rencana pembentukan Tentara Eropa, sebuah gagasan yang minggu lalu disampaikan Presiden Macron dan sempat menyulut kemarahan Presiden AS Donald Trump. Kanselir Angela Merkel mengatakan, Jerman mendukung rencana tersebut.

Sumber : DW.com
Editor: Sri Sayekti

Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0476 || diagnostic_web = 0.3887

Close [X]
×