Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Insiden peretasan yang menimpa Binance, bursa aset kripto terbesar di dunia, memicu kekhawatiran investor terhadap keamanan aset digital dan likuiditas pasar kripto.
Sejumlah analis menilai dampak insiden yang diperkirakan mencapai US$ 6,3 miliar tersebut berpotensi meluas, terutama jika aktivitas setoran dan penarikan di Binance terganggu dalam waktu lama.
Binance menyatakan telah bekerja sama dengan sejumlah mitra untuk membekukan aset yang terdampak. Hingga saat ini, sekitar US$ 3 miliar aset telah berhasil ditemukan dan dibekukan.
Baca Juga: Binance Dibobol, Aset Kripto US$ 6,3 Miliar Terdampak dan Bitcoin Anjlok
Namun, perusahaan belum memberikan pembaruan mengenai sisa aset senilai US$ 3,3 miliar.
Sementara itu, perusahaan analitik blockchain Chainalysis mengonfirmasi sedikitnya US$ 5,912 miliar aset telah dicuri hingga pukul 20.30 waktu AS atau 00.30 GMT.
Dana tersebut diketahui bergerak melalui sejumlah jaringan blockchain, termasuk Bitcoin, Ethereum, Tron, Ripple, serta beberapa jaringan Layer 2.
Kepala Riset Chainalysis Eric Jardine mengatakan, penyelidikan masih berlangsung sehingga penyebab pasti peretasan belum dapat dikonfirmasi.
Menurut dia, transparansi blockchain dan koordinasi antarperusahaan di industri kripto membantu menghambat perpindahan aset hasil pencurian.
Di pasar, dampak insiden tersebut langsung terlihat melalui penurunan harga sejumlah aset kripto.
Bitcoin sempat menyentuh level terendah dalam enam pekan dan terakhir tercatat turun 3% ke US$ 76.469,82. Ethereum juga melemah lebih dari 3% ke US$ 2.185,83.
Baca Juga: Kasus PHK di Singapura Tembus 4.800 Orang, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19
Tekanan turut menjalar ke saham perusahaan terkait industri kripto. Saham Coinbase Global turun 4,8%, sementara saham Strategy, perusahaan yang dikenal sebagai salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar, merosot hampir 6% dalam perdagangan lanjutan di AS.
Chief Investment Officer ChainUp Investment Singapura Amanda He mengatakan, tekanan awal terhadap harga kripto kemungkinan dipicu oleh aksi jual aset oleh peretas. Namun, kepanikan investor semakin meluas ketika perdagangan sesi Asia dimulai.
He menyebut Binance masih menjadi bursa terbesar berdasarkan volume perdagangan sehingga insiden tersebut memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas pasar.
Pihaknya bahkan telah menjual seluruh aset yang tersimpan di Binance untuk sementara waktu dan memindahkan dana yang bisa ditarik ke aset yang dinilai lebih aman, seperti stablecoin.
Baca Juga: Ringgit dan Won Pimpin Penguatan Mata Uang Asia, Rupiah Naik 0,11%
Likuiditas dan Kepercayaan Investor Jadi Sorotan
Peneliti senior HashKey Group Tim Sun menilai dampak peretasan Binance tidak hanya berkaitan dengan potensi kehilangan aset.
Gangguan terhadap aktivitas setoran dan penarikan juga berisiko memengaruhi kemampuan pelaku pasar memindahkan modal antarbursa.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat mengganggu likuiditas pasar, terutama bagi para market maker yang membutuhkan fleksibilitas untuk mengelola modal di berbagai platform perdagangan.
Kekhawatiran serupa disampaikan pendiri 1Token Damon Xu. Ia memperkirakan strategi perdagangan lintas bursa akan berkurang dan penggunaan leverage berpotensi menyusut.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Brent Tembus US$ 115 per Barel Imbas Serangan Houthi
Pasalnya, pembatasan akses dana dapat membuat trader kesulitan memenuhi kebutuhan margin di satu platform meskipun masih memiliki keuntungan di bursa lain. Situasi tersebut berisiko memicu likuidasi paksa.
Xu menambahkan, bursa terdesentralisasi atau decentralized exchange (DEX) berpotensi memperoleh keuntungan dari perpindahan sebagian modal dan aktivitas perdagangan ke jaringan blockchain.
Ia menyoroti kinerja Hyperliquid yang dinilai cukup kuat selama periode gejolak tersebut.
Sementara itu, Kepala Riset Aset Digital Standard Chartered Geoffrey Kendrick memperkirakan tekanan harga kripto masih berpotensi berlanjut.
Menurut dia, pasar baru dapat menemukan level keseimbangan baru setelah aset yang dibekukan mulai dapat diakses kembali dan informasi mengenai peretasan semakin jelas.
Kepala Bisnis Systematic OTC GSR Aravind Srinivasan juga menyoroti penurunan likuiditas di Binance. Ia mengatakan, selisih harga beli dan jual atau bid-ask spread Bitcoin di pasar spot sempat melebar hingga lima kali lipat dari kondisi normal. Sementara itu, spread Ethereum meningkat sekitar 2,5 kali lipat.
Baca Juga: Kekhawatiran Saham AI Picu Perburuan US Treasury, Dolar AS Melemah
Risiko Bursa Terpusat Kembali Dipertanyakan
Direktur Private Wealth Management UOB Kay Hian Kenneth Goh menilai, insiden ini berpotensi mengubah cara investor memandang keamanan aset yang disimpan di bursa kripto terpusat.
Menurut dia, kasus pencurian aset di bursa kripto bukan hal baru. Mt. Gox kolaps pada 2014 setelah kehilangan Bitcoin senilai hampir US$ 500 juta, sedangkan Bybit kehilangan aset sekitar US$ 1,5 miliar pada tahun lalu.
Namun, peretasan yang melibatkan Binance menjadi perhatian tersendiri karena perusahaan tersebut merupakan bursa terbesar di dunia. Investor kini berpotensi lebih mencermati lokasi penyimpanan aset serta pihak yang bertanggung jawab apabila terjadi insiden keamanan.
Baca Juga: Ekspor Vietnam Melonjak 27,4%, Nilainya Diperkirakan Tembus US$ 499 Miliar
Analis pasar Bitbank Yuya Hasegawa mengatakan, besarnya nilai aset yang terdampak memang mengkhawatirkan. Namun, risiko terbesar bukan semata-mata nilai aset yang dicuri, melainkan kemungkinan hilangnya kepercayaan terhadap bursa terpusat.
Jika kepercayaan tersebut terganggu, investor dapat menarik dana secara besar-besaran sehingga memicu tekanan likuiditas dan aksi jual paksa.
Meski demikian, Hasegawa menilai dampak pasar berpotensi berlangsung relatif singkat apabila Binance mampu membuktikan aset pelanggan tetap aman, menanggung kerugian, dan segera memulihkan operasional secara normal. Ia menambahkan, fundamental Bitcoin tidak terdampak secara langsung oleh insiden tersebut.
Chief Analyst ViaBTC Jeff Ko memiliki pandangan bahwa Bitcoin hasil pencurian belum tentu langsung menambah tekanan jual secara signifikan. Menurut dia, transaksi Bitcoin dapat ditelusuri melalui jaringan blockchain sehingga aset hasil pencurian berpotensi sulit dicairkan dalam waktu dekat.
Namun, ia menilai Ethereum menghadapi risiko berbeda karena mekanisme pencucian aset melalui layanan tertentu dinilai lebih mudah. Kondisi ini berpotensi membuat Ethereum menghadapi tekanan jual lebih besar dibandingkan Bitcoin.
Baca Juga: Berkat OpenAI, Microsoft Raup Rp181,7 Triliun dalam Tiga Bulan
Ko juga menegaskan bahwa insiden tersebut tampaknya berkaitan dengan proses penandatanganan dan otorisasi transaksi, bukan eksploitasi terhadap smart contract.
Mantan Kepala Mt. Gox yang kini menjabat CEO Karpeles Lab, Mark Karpeles, menduga pelaku berhasil memperoleh otorisasi yang valid untuk mengakses alamat Binance 14 dan Binance 16.
Ia menilai hal tersebut mengindikasikan kemungkinan kebocoran kunci privat yang digunakan oleh kedua alamat tersebut.
Di sisi lain, Wakil Ketua Hong Kong Web3 Association Joshua Chu menilai kasus ini menegaskan pentingnya koordinasi antara regulator, aparat penegak hukum, lembaga peradilan, dan pelaku industri untuk mencegah aset hasil pencurian berpindah melalui ekosistem kripto.














