Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Tesla berencana untuk memperluas jaringannya di Jepang menjadi setidaknya 60 toko karena berupaya menjadi merek mobil impor terbesar di negara itu paling cepat tahun depan.
Mengutip Reuters, Jumat (3/4/2026), Manajer Tesla di Jepang Richi Hashimoto mengatakan perluasan jangkauan toko dan pusat layanan serta investasi dalam pelatihan selama dua tahun terakhir telah membantu mendorong pertumbuhan penjualan Tesla di Jepang, meskipun adopsi kendaraan listrik di negara tersebut masih rendah.
Ekspansi perusahaan yang dipimpin Elon Musk di Jepang terjadi ketika penjualan mobil bertenaga baterai telah melambat drastis di AS dan pasar utama lainnya secara global, meningkatkan pentingnya wilayah di mana penetrasi kendaraan listrik masih rendah.
Baca Juga: IPO SpaceX Bidik Valuasi di Atas US$2 Triliun, Berpotensi Terbesar Sepanjang Sejarah
"Kami ingin menargetkan untuk menjadi merek mobil impor nomor satu, mungkin paling cepat tahun depan," kata Hashimoto pada acara peluncuran Model Y L di Jepang, menguraikan tujuan jangka menengah hingga panjang perusahaan di negara tersebut.
Produsen kendaraan listrik AS itu mulai menerima pesanan pada hari Jumat di Jepang untuk Model Y L, kendaraan enam tempat duduk yang ditujukan untuk keluarga, karena berupaya memperluas daya tariknya di luar para "pengguna awal".
Kembangkan Jaringan Toko dan Layanan
Saat ini, Tesla memiliki 35 toko dan 14 pusat layanan di negara itu dan berencana untuk melipatgandakan jaringan layanannya menjadi sekitar 30 lokasi, kata Hashimoto.
Toko-toko Tesla dirancang untuk menawarkan uji coba berkendara, sebuah strategi yang bertujuan untuk mengurangi kekhawatiran pengemudi - terutama di antara mereka yang terbiasa mengendarai mobil berbahan bakar bensin - tentang beralih ke kendaraan listrik.
"Hanya dengan meningkatkan jumlah toko untuk menjual mobil tidak membuat pelanggan membeli," kata Hashimoto, menambahkan bahwa kekhawatiran pengemudi "seringkali teratasi segera setelah mereka mengendarai kendaraan."
Penjualan mobil impor di Jepang telah lama didominasi oleh merek-merek mewah Jerman, menurut data dari Asosiasi Importir Mobil Jepang.
Baca Juga: Jepang Peringatkan Naiknya Tekanan di Pasar Valas Seiring Meningkatnya Volatilitas
Mercedes-Benz menjadi merek impor terlaris pada tahun 2025 dengan hampir 51.000 kendaraan terjual, diikuti oleh BMW, Volkswagen, dan Audi.
Meskipun ada peluncuran mobil listrik oleh produsen otomotif termasuk Toyota, Suzuki, Nissan, dan BYD dari Tiongkok, Jepang tetap menjadi salah satu pasar utama yang paling lambat mengadopsi mobil listrik sepenuhnya, dengan konsumen lebih menyukai mobil hibrida.
Beberapa analis percaya bahwa kekhawatiran atas harga bahan bakar, yang meningkat akibat perang di Timur Tengah, dapat mendorong lebih banyak konsumen di Jepang untuk beralih ke mobil listrik dari kendaraan bensin dan diesel.
Tesla Jepang telah sangat fokus pada peningkatan kualitas staf, termasuk pelatihan untuk penasihat penjualan, sekitar 70% di antaranya telah berada di posisi mereka kurang dari enam bulan, kata Hashimoto.
Hal itu telah membantu mengurangi waktu yang dibutuhkan karyawan baru untuk melakukan penjualan pertama mereka, tambahnya.
Selama kuartal pertama tahun ini, "Tesla menjual sekitar setengah dari total volume tahun lalu di Jepang," katanya.













