Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Saham produsen kendaraan listrik (EV) raksasa Tiongkok BYD kembali melemah tajam, menandai kekhawatiran investor terhadap prospek keuntungan sektor EV domestik. Penurunan ini dipicu melemahnya permintaan dalam negeri sekaligus melonjaknya biaya bahan baku, yang memaksa pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi dengan cepat.
Dalam sepekan terakhir, saham BYD yang tercatat di Hong Kong jatuh sekitar 7%, memperpanjang tekanan jual yang telah memangkas lebih dari US$ 60 miliar nilai pasar sejak Mei 2025. Pelemahan ini juga menular ke perusahaan EV lain, di tengah pasar saham yang sedang diguncang kekhawatiran pajak dan potensi gangguan bisnis akibat kecerdasan buatan (AI).
Investor sebenarnya sudah bersiap menghadapi pertumbuhan EV yang melambat tahun ini akibat penurunan subsidi pemerintah. Namun, laju penurunan permintaan domestik mengejutkan banyak pihak. Biaya baterai dan cip memori yang terus melambung diperkirakan semakin menekan margin produsen mobil.
“Sentimen investor sangat negatif. Kekhawatiran utama adalah kemungkinan pemotongan laba besar-besaran tahun ini, yang mempertanyakan kemampuan jangka panjang produsen EV menghasilkan keuntungan di pasar domestik,” kata Xiao Feng, kepala bersama riset industri Tiongkok di CLSA Hong Kong dalam laporan Bloomberg (6/2).
Data Januari menunjukkan tekanan nyata, pengiriman domestik BYD turun setengahnya menjadi 109.569 unit dibandingkan tahun lalu, sementara XPeng yang unggul pada 2025, mencatat penurunan pengiriman lebih dari 30%. Morgan Stanley memproyeksikan volume kuartal pertama banyak produsen lokal turun 30%–40% dari kuartal Desember.
Baca Juga: Penjualan Kendaraan BYD Turun 30,1% Secara Tahunan di Januari
Investor juga khawatir dengan dampak biaya bahan baku yang melonjak. Harga lithium untuk baterai EV lebih dari dua kali lipat dalam tiga bulan terakhir, sementara tembaga dan aluminium ikut meroket. Kekurangan pasokan chip memori membuat komponen mobil pintar lebih mahal.
“Inflasi biaya adalah risiko utama. Pertanyaannya, apakah produsen bisa meneruskan kenaikan biaya ke konsumen di tengah persaingan yang ketat?” ujar Joanne Cheng, manajer investasi ekuitas Tiongkok di Aberdeen Investments.
Perkiraan pasar menunjukkan biaya tambahan per kendaraan bisa mencapai US$ 1.000 atau lebih untuk beberapa model premium. Merek pasar massal seperti Xpeng, Li Auto, dan Nio lebih rentan, sementara BYD relatif lebih aman berkat pasokan suku cadang internal.
Meski ekspor menjadi titik terang dan peluang datang dari teknologi baru seperti AI, humanoid, dan robotaxi, tekanan domestik membuat saham EV jadi incaran short seller. Posisi bearish di Hang Seng Tech Index melonjak sejak November, menyimpang dari acuan Hang Seng secara umum.
Baca Juga: China Ubah Subsidi Tukar Mobil Tua, Penjualan BYD dan Produsen Lain Terancam













