kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.943.000   -53.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.009   44,00   0,26%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Korea Zinc Bidik Pinjaman Jumbo Bangun Smelter AS


Kamis, 19 Maret 2026 / 12:48 WIB
Korea Zinc Bidik Pinjaman Jumbo Bangun Smelter AS
ILUSTRASI. Bendera Korea Selatan (Carlos Barria/REUTERS)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Korea Zinc Co. tengah memburu pinjaman jumbo senilai US$ 2,35 miliar untuk membiayai pembangunan smelter di Amerika Serikat. Langkah ini mencerminkan besarnya kebutuhan dana untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis di tengah dorongan kebijakan industrialisasi Washington.

Mengutip Bloomberg (19/3), fasilitas pinjaman tersebut akan berjangka lima tahun dan ditangani oleh JPMorgan Chase & Co. sebagai mandated lead arranger sekaligus underwriter tunggal. Sumber yang mengetahui proses ini menyebutkan, pembicaraan dengan sejumlah bank masih berlangsung sehingga struktur dan ketentuan pinjaman berpotensi berubah.

Manajemen Korea Zinc memastikan proses penggalangan dana berjalan sesuai rencana. Proyek ini dinilai akan mempererat kerja sama ekonomi dan keamanan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat, sekaligus membantu diversifikasi rantai pasok global yang selama ini sangat bergantung pada negara tertentu.

Ekspansi Korea Zinc menegaskan tren meningkatnya kebutuhan investasi besar di sektor mineral kritis. Bahan seperti rare earth, lithium, dan kobalt kini menjadi tulang punggung industri strategis, mulai dari semikonduktor hingga pertahanan. Kondisi ini sejalan dengan kebijakan “America First” yang diusung Donald Trump untuk memperkuat kapasitas produksi domestik.

Tak hanya Korea Selatan, negara Asia Pasifik lain juga mulai agresif. Jepang dan sejumlah negara kawasan dikabarkan tengah menyiapkan kesepakatan investasi hingga US$ 30 miliar dengan perusahaan AS, terutama di sektor energi nuklir dan mineral kritis.

Baca Juga: Korea Selatan Mempertimbangkan Impor Minyak dan Nafta dari Rusia

Sebelumnya, pada Desember lalu, Korea Zinc telah mengakuisisi pabrik Nyrstar di Tennessee. Fasilitas ini akan dikembangkan menjadi kompleks mineral kritis dengan nilai proyek mencapai US$ 7,4 miliar. Untuk menggarap proyek tersebut, perusahaan membentuk joint venture bernama Crucible Metals LLC bersama pemerintah AS dan investor lainnya.

Namun, di balik ekspansi ini, Korea Zinc masih menghadapi tekanan internal. Perusahaan harus mengelola konflik dengan pemegang saham utamanya, Young Poong Corp. dan MBK Partners Ltd., yang sempat melancarkan upaya akuisisi tidak diminta.

Didirikan pada 1974, Korea Zinc selama ini dikenal sebagai pemain besar di bisnis peleburan logam. Kini, perusahaan mulai memperluas portofolio melalui strategi “Troika Drive”, mencakup energi terbarukan, hidrogen hijau, hingga daur ulang sumber daya. Strategi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa persaingan di sektor mineral kritis tidak hanya soal pasokan, tetapi juga transformasi bisnis jangka panjang.

Baca Juga: Efek Nvidia: Saham Samsung Electronics Lompat 5%, Indeks KOSPI Makin Perkasa


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×