Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.591
  • SUN95,67 0,14%
  • EMAS659.000 0,30%

Petani kedelai AS gagal mengantongi kontrak ekspor akibat perang dagang

Kamis, 30 Agustus 2018 / 08:18 WIB

Petani kedelai AS gagal mengantongi kontrak ekspor akibat perang dagang
ILUSTRASI. Kedelai impor

KONTAN.CO.ID - KANSAS CITY. Konferensi tahunan eksportir kedelai Amerika Serikat (AS) yang ditutup Rabu (29/8) sepi akibat perang dagang. Kontrak miliaran dollar AS dari pembeli China yang terjadi tahun lalu tidak terulang di tahun ini.

Perang dagang AS-China menghambat perdagangan bilateral kedelai. Para petani kedelai AS khawatir permintaan ekspor komoditas ini akan turun ketika musim pengiriman yang biasa terjadi musim gugur sekitar kuartal ketiga-keempat. Padahal, pada periode ini para petani memperkirakan rekor panen kedelai.


Beberapa perwakilan dagang, misalnya dari Meksiko sebenarnya memesan kedelai dalam jumlah besar. Tapi, volume ini masih lebih kecil ketimbang pembelian China.

Tahun lalu, importir besar China membeli lebih dari US$ 12 miliar kedelai, atau sekitar 60% ekspor kedelai AS. Rekor ini tak tampak pada konferensi kedelai tahunan.

Memang, delegasi importir kedelai China menghadiri US Soybean Export Council's (USSEC) Annual Global Trade Exchange di Kansas City. Beberapa delegasi ini berasal dari perusahaan pemrosesan kedelai seperti COFCO dan Yihay Kerry. Perwakilan China dari Cargill Inc dan Bunge Ltd pun bertemu dengan para petani, perwakilan industri dan pedagang kedelai.

Tapi, pesanan yang membeludak tahun lalu tak tampak. China menerapkan tarif impor 25% untuk seluruh pengiriman dari AS sejak 6 Juli lalu sebagai balasan atas tarif impor produk China ke AS.

Kedelai menjadi korban pertanian terbesar ats perang dagang kedua negara.

Mu Yan Kui, COO Yihai Kerry mengatakan, impor kedelai China untuk musim 2018/2019 dari seluruh negara bisa turun menjadi 86 juta ton dari 96 juta ton di musin ini jika perang dagang terus berlangsung. "Jika perang dagang tidak bisa diatasi dengan cepat dan efektif, pasar global akan berubah," kata dia seperti dikutip Reuters, kemarin.

Dia mengatakan, perusahaan pakan unggas dan babik bisa memangkas permintaan kedelai dan beralih ke persediaan dari pemerintah. Para peternak pun bisa mengubah rasio pakan dengan mengurangi penggunaan kedelai dan menggunakan alternatif pakan.

Meski tertahan perang dagang, eksportir AS belum menyerah untuk menjual komoditas ke China. "Kami terus melanjutkan promosi. Salah satunya adalah dengan membawa delegasi ke sini," kata Jim Sutter, CEO USSEC.

Industri kedelai AS dan China biasanya menggelar event serupa tiga kali per tahun. Tapi, konferensi ini baru digelar sekarang setelah konferensi terakhir pada November lalu di Beijing.

Pada konferensi Juli 2017, penjualan kedelai AS ke China mencapai 12,5 juta ton. Ini adalah kontrak terbesar kedua AS dalam satu perhelatan.

Sumber : Reuters
Editor: Wahyu Rahmawati

Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0627 || diagnostic_web = 0.3763

Close [X]
×