kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45862,44   -0,26   -0.03%
  • EMAS918.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.15%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Picu gelombang protes, WhatsApp tunda pembaruan kebijakan privasi


Sabtu, 16 Januari 2021 / 06:08 WIB
Picu gelombang protes, WhatsApp tunda pembaruan kebijakan privasi
ILUSTRASI. WhatsApp, aplikasi perpesanan milik Facebook Inc. menunda pembaruan kebijakan privasi setelah banyak yang beralih ke pesaing.

Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. WhatsApp, aplikasi perpesanan milik Facebook Inc. menunda pembaruan kebijakan privasi yang bertujuan untuk meningkatkan transaksi bisnis di platform tersebut. Penundaan ini setelah badai kekhawatiran dari pengguna yang khawatir bahwa WhatsApp akan melonggarkan kebijakan privasinya dalam proses tersebut.

Pengguna WhatsApp menerima pemberitahuan bulan ini bahwa WhatsApp sedang mempersiapkan kebijakan dan ketentuan privasi baru, dan berhak membagikan beberapa data pengguna dengan aplikasi Facebook.

Kebijakan WhatsApp itu memicu protes global dan banyak pengguna beralih ke aplikasi perpesanan pribadi pesaing WhatsApp seperti Telegram dan Signal.

Jumat (15/1), WhatsApp menyatakan akan menunda peluncuran kebijakan privasi terbaru hingga Mei mulai Februari. Mereka menyebut, pembaruan difokuskan untuk memungkinkan pengguna mengirim pesan dengan bisnis, dan bahwa pembaruan tidak memengaruhi percakapan pribadi, yang akan terus memiliki enkripsi end to end.

Baca Juga: Membandingkan WhatsApp, Telegram, Signal, mana yang lebih aman dan unggul?

"Pembaruan ini tidak memperluas kemampuan kami untuk berbagi data dengan Facebook," sebut WhatsApp dalam sebuah pernyataan.

“Meskipun tidak semua orang berbelanja dengan bisnis di WhatsApp saat ini, kami pikir lebih banyak orang akan memilih untuk melakukannya di masa depan dan penting orang-orang mengetahui layanan ini,” imbuh WhatsApp.

Facebook telah meluncurkan alat bisnis di WhatsApp selama setahun terakhir untuk meningkatkan pendapatan dari unit yang tumbuh lebih tinggi seperti WhatsApp dan Instagram sambil merajut infrastruktur e-commerce di seluruh perusahaan.

Facebook mengakuisisi WhatsApp seharga US$ 19 miliar pada tahun 2014 tetapi lambat dalam menghasilkan uang.

Aplikasi sudah membagikan kategori data pribadi tertentu, termasuk nomor telepon dan alamat IP pengguna, dengan Facebook.

“Kami tidak menyimpan catatan tentang siapa yang mengirim pesan atau menelepon semua orang. Kami juga tidak dapat melihat lokasi yang Anda bagikan dan kami tidak membagikan kontak Anda dengan Facebook," tulis WhatsApp.

WhatsApp mengatakan pada bulan Oktober tahun lalu bahwa mereka akan mulai menawarkan pembelian dalam aplikasi melalui Toko Facebook dan akan menawarkan perusahaan yang menggunakan alat perpesanan layanan pelanggannya kemampuan untuk menyimpan pesan-pesan itu di server Facebook.

WhatsApp menyatakan pada saat itu bahwa obrolan dengan bisnis menggunakan layanan hosting baru tidak akan dilindungi oleh enkripsi end to end.

 

Selanjutnya: Terdorong isu kebijakan privacy WhatsApp, pengguna Signal dan Telegram melonjak

 




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Virtual Selling: How to win sales remotely Optimasi alur Pembelian hingga pembayaran

[X]
×