kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

PLTN Barakah UEA Diserang Drone, Ketegangan Baru di Timur Tengah Kembali Memanas


Minggu, 17 Mei 2026 / 22:53 WIB
PLTN Barakah UEA Diserang Drone, Ketegangan Baru di Timur Tengah Kembali Memanas
ILUSTRASI. IRAN-CRISIS/DAILY LIFE (REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - DUBAI. Otoritas Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan sebuah serangan drone menyebabkan kebakaran di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah di wilayah Abu Dhabi pada Minggu. Kejadian ini  meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang juga berdampak pada jalur pelayaran di Teluk.

Pihak berwenang menyatakan sedang menyelidiki sumber serangan tersebut dan menegaskan bahwa Uni Emirat Arab memiliki hak penuh untuk merespons apa yang mereka sebut sebagai serangan teroris. UEA sebelumnya menuduh Iran melakukan serangan terhadap fasilitas energi mereka dalam eskalasi konflik regional.

Menurut Kantor Media Abu Dhabi, drone tersebut menghantam generator listrik di luar perimeter dalam Barakah Nuclear Power Plant. Tidak ada korban luka, dan tingkat radiasi dilaporkan tetap aman.

Baca Juga: Prudential Akuisisi 75% Bharti Life, Perkuat Bisnis Asuransi di India

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa generator diesel darurat telah memasok listrik untuk unit 3 di fasilitas tersebut. IAEA juga menyerukan pengekangan militer maksimal di sekitar fasilitas nuklir dan mengatakan pihaknya terus memantau situasi secara ketat.

Kementerian Pertahanan UEA menyebut dua drone lain berhasil dicegat, dengan dugaan bahwa peluncuran berasal dari perbatasan barat, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Dalam konflik yang disebut dimulai pada 28 Februari, Iran dilaporkan beberapa kali menargetkan UEA dan negara Teluk lain yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat, termasuk infrastruktur sipil dan energi.

Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan misi angkatan laut untuk membuka kembali Selat Hormuz, sebelum kemudian menghentikannya dalam waktu 48 jam.

Iran kemudian meningkatkan serangan terhadap UEA, sementara kedua pihak terus saling menuduh dalam konflik yang juga melibatkan Israel.

Sementara itu, Israel dan Lebanon menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 45 hari, meski bentrokan di lapangan masih terus terjadi.

Di sisi diplomatik, Amerika Serikat dan Iran masih memiliki perbedaan tajam terkait program nuklir Teheran, pembukaan jalur pelayaran, serta tuntutan ganti rugi perang, sehingga upaya perdamaian dinilai masih menemui jalan buntu.

Baca Juga: Kecelakaan Kereta dan Bus di Bangkok, Polisi Tetapkan Masinis Jadi Tersangka




TERBARU

[X]
×