kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Proyek Tambang Bitcoin Tether di Uruguay Kandas, Investasi Diperkirakan US$120 Juta


Jumat, 21 Agustus 2026 / 20:58 WIB
Proyek Tambang Bitcoin Tether di Uruguay Kandas, Investasi Diperkirakan US$120 Juta
ILUSTRASI. Kripto - Bitcoin (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Rencana perusahaan kripto Tether untuk mengembangkan operasi penambangan Bitcoin di Uruguay akhirnya kandas.

Proyek tersebut terhenti setelah terjadi perselisihan terkait pasokan listrik dengan perusahaan utilitas negara Uruguay, UTE.

Reuters melaporkan, Tether pada 2023 mengumumkan rencana membangun dua lokasi penambangan Bitcoin di Uruguay.

Baca Juga: Kembali Menguat, PMI Manufaktur Jerman Cetak Rekor Tertinggi 51 Bulan

Perusahaan penerbit stablecoin tersebut saat itu menilai Uruguay sebagai lokasi ideal karena memiliki pasokan energi terbarukan yang melimpah, jaringan listrik yang kuat, stabilitas politik, serta kondisi perpajakan yang mendukung.

Namun, proyek tersebut kemudian ditinggalkan setelah Tether dan UTE berselisih mengenai jumlah listrik yang dapat dipasok untuk fasilitas penambangan Bitcoin.

Berdasarkan penelusuran Reuters terhadap sejumlah dokumen dan wawancara dengan beberapa pihak yang mengetahui proyek tersebut, pembangunan dua lokasi tambang Bitcoin di Departemen Florida akhirnya tidak berlanjut.

Seorang mantan kontraktor Tether yang berbicara secara anonim memperkirakan perusahaan telah menginvestasikan sekitar US$120 juta atau sekitar Rp2 triliun, dengan asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS, untuk kedua lokasi tersebut.

Tether sendiri tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

Baca Juga: 11 Produsen Mobil Listrik di China Lakukan Recall Besar-Besaran, Apa yang Bermasalah?

Terbentur pasokan listrik

Pada awalnya, operasi fasilitas penambangan Bitcoin Tether di Uruguay berjalan dengan baik dan menghasilkan pendapatan.

Namun, proyek mulai menghadapi masalah ketika terjadi perbedaan pandangan mengenai kontrak pasokan listrik dengan UTE.

Menurut salah satu mantan kontraktor Tether dan sumber di UTE, Tether menilai salah satu klausul kontrak memberikan batas minimum pasokan listrik yang masih dapat ditingkatkan.

Baca Juga: Wabah Ebola di Kongo Makin Parah, Korban Tewas Tembus 2.500 Orang

Sebaliknya, UTE menafsirkan jumlah tersebut sebagai batas maksimum alokasi listrik yang tidak dapat dilampaui.

Perselisihan mengenai pasokan listrik tersebut telah muncul setidaknya sejak November 2024, berdasarkan dokumen internal UTE yang disusun pada 2025 dan ditinjau Reuters.

Keterbatasan pasokan listrik menjadi persoalan serius bagi operasi penambangan. Seiring meningkatnya kebutuhan energi fasilitas, lokasi tambang Tether beberapa kali kekurangan listrik hingga tidak mendapatkan pasokan yang cukup selama berhari-hari.

Situasi tersebut semakin rumit setelah terjadi perubahan pemerintahan Uruguay pada Maret 2025. Pemerintahan baru yang berhaluan kiri menunjuk jajaran direksi baru di UTE dan mengambil sikap lebih tegas terhadap permintaan Tether untuk mengubah kontrak pasokan listrik.

Pada Mei 2025, dua bulan setelah pemerintahan baru mulai bekerja, entitas lokal Tether, Microfin, menghentikan pembayaran tagihan listrik. Pada Juni 2025, Microfin kemudian memberitahukan UTE bahwa perusahaan akan mengakhiri kontraknya.

Kedua pihak sempat berupaya menyelamatkan proyek melalui perjanjian baru. Dewan UTE bahkan menyetujui nota kesepahaman dan rancangan kontrak baru. Namun, perwakilan Tether tidak hadir dalam penandatanganan.

Baca Juga: Dolar AS Loyo, Mata Uang Emerging Market Cetak Rekor Tertinggi

Karena nota kesepahaman tidak ditandatangani dan masih terdapat tagihan yang belum dibayar, UTE akhirnya memutus pasokan listrik ke lokasi penambangan pada 25 Juli 2025.

Pada November 2025, Tether memberitahukan otoritas ketenagakerjaan Uruguay bahwa perusahaan akan menghentikan operasinya dan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sebagian besar karyawan. Microfin kemudian menyelesaikan kewajiban utangnya kepada UTE pada Desember 2025.

Ambisi tambang Bitcoin Tether

Kegagalan proyek Uruguay menjadi gambaran mengenai tantangan yang dihadapi Tether dalam memperluas bisnis penambangan Bitcoin.

Perusahaan yang berbasis di El Salvador tersebut memiliki hanya beberapa ratus karyawan, tetapi mengendalikan stablecoin senilai sekitar US$183 miliar.

Baca Juga: Steadfast Group Terima Tawaran Akuisisi Senilai A$ 7,7 Miliar dari Konsorsium AS

Tether sebelumnya menyatakan akan menginvestasikan sebagian keuntungannya ke berbagai sektor, termasuk produksi energi dan penambangan Bitcoin.

CEO Tether Paolo Ardoino bahkan mengatakan perusahaan telah menginvestasikan lebih dari US$2 miliar dalam produksi energi dan penambangan Bitcoin.

Mantan kontraktor Tether mengatakan Uruguay awalnya diproyeksikan sebagai langkah pertama perusahaan untuk mengembangkan operasi penambangan Bitcoin di Amerika Selatan.

Setelah itu, Tether berencana memperluas operasi ke pasar yang lebih besar seperti Brasil, Paraguay dan Argentina.

Tether kemudian memang mengumumkan investasi di sektor penambangan Bitcoin dan platform terkait di Brasil.

Namun, prospek bisnis penambangan Bitcoin semakin menghadapi tekanan. Profitabilitas industri tersebut terdampak oleh peristiwa halving Bitcoin pada April 2024 yang memangkas imbalan penambangan, serta perubahan harga Bitcoin.

Analis senior Talos Tanay Ved mengatakan, perusahaan penambangan Bitcoin kini berupaya bertahan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan perangkat yang lebih efisien, mencari sumber energi yang lebih murah, serta mengalihkan kapasitas komputasi ke kecerdasan buatan (AI) dan high-performance computing.

Menurut pakar penambangan kripto Nicolas Ribeiro, industri tersebut sangat dinamis karena operator dapat membuka, menutup, dan memindahkan fasilitas secara relatif cepat.

Baca Juga: Arus Masuk Dana Ekuitas Global Capai Level Tertinggi dalam Tiga Pekan

Uruguay memiliki jaringan listrik yang andal dan konektivitas internet yang kuat. Namun, menurut Ribeiro, karakteristik tersebut lebih cocok untuk pengembangan pusat data AI dibandingkan penambangan Bitcoin.

Pasalnya, profitabilitas penambangan Bitcoin sangat bergantung pada akses terhadap listrik murah. Meski Uruguay merupakan salah satu negara dengan penggunaan energi terbarukan yang tinggi, biaya listrik di negara tersebut relatif mahal.

“Uruguay tidak layak untuk penambangan (Bitcoin). Itulah kenyataannya,” ujar Ribeiro.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×