Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - LONDON. Mata uang pasar berkembang (emerging markets) naik ke rekor tertinggi baru pada Jumat (21/8/2026) dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kedelapan berturut-turut.
Investor mengabaikan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan kenaikan harga minyak. Sementara dolar tetap berada di dekat level terendah dalam beberapa bulan.
Indeks mata uang pasar berkembang MSCI naik 0,3% pada Jumat (21/8/2026), melanjutkan tren rekor tertinggi sepanjang masa di bulan ini karena pelemahan dolar AS secara luas terus mendukung aset-aset yang sensitif terhadap risiko.
Imbal hasil US Treasury kembali naik setelah intervensi tak terduga oleh Departemen Keuangan pada Rabu lalu, hanya memberikan jeda singkat dari tekanan jual.
Baca Juga: Harga Emas Spot Melonjak ke Level Tertinggi dalam Tiga Bulan
Kenaikan ini terjadi meskipun Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah AS dapat meningkatkan pembelian kembali (buyback) US Treasury dan memunculkan kemungkinan konsolidasi fiskal.
Dolar diperkirakan akan mencatat penurunan mingguan di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan utang AS dan ketidakpastian kebijakan dapat menggerus daya beli mata uang tersebut.
"Anda bisa melakukan pembelian kembali sementara ini untuk menstabilkan situasi di pasar obligasi. Namun, menurut saya, cepat atau lambat faktor fundamental akan kembali berperan," kata Juan Orts, ekonom wilayah CEEMEA di Societe Generale seperti dikutip Reuters.
"Saya tidak melihat pasar akan mulai menjual dolar hanya karena hal ini. Dolar seharusnya tetap kuat dalam beberapa bulan mendatang," imbuhnya.
Harga minyak naik ke level tertinggi dalam satu bulan karena kebuntuan diplomatik di kawasan Teluk membuat risiko inflasi tetap menjadi sorotan. Meski demikian, aset-aset pasar berkembang sebagian besar tidak terpengaruh oleh kekhawatiran tersebut, dengan indeks saham pasar berkembang MSCI naik 1,2%.
Di Asia, indeks KOSPI Korea Selatan dan saham-saham Taiwan bergerak naik tipis, meskipun keduanya tetap mencatatkan penurunan mingguan hampir 1%.
Won Korea Selatan menguat 0,9% ke level tertinggi dalam 11 bulan dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan lebih dari 2%. Sementara dolar Taiwan naik 0,7%.
Yuan Tiongkok bergerak di dekat level tertinggi dalam 3,5 tahun. Indeks Shanghai Composite tidak banyak berubah, sedangkan indeks saham unggulan (blue-chip) CSI 300 naik 0,6%.
Di kawasan Eropa negara berkembang, mata uang koruna Ceko turun 0,4% terhadap euro, sementara saham-saham Ceko naik 0,4%. Kementerian Keuangan negara tersebut menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonominya pada hari Kamis. Lalu, Zloty Polandia melemah 0,1%, sedangkan pasar saham naik 0,9%.
Baca Juga: Arus Masuk Dana Ekuitas Global Capai Level Tertinggi dalam Tiga Pekan
Di tempat lain, saham-saham Turki naik 0,9% dan mata uang lira menguat 2% setelah tingkat kepercayaan bisnis di kalangan manufaktur meningkat menjadi 102,8 poin pada bulan Agustus. Angka di atas 100 menunjukkan optimisme.
Rand Afrika Selatan menguat 0,7% seiring kenaikan tipis harga emas, dan mata uang ini tetap berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut.
Para investor akan menantikan simposium Jackson Hole pekan depan, di mana pernyataan dari Ketua Federal Reserve dapat memberikan petunjuk baru mengenai prospek suku bunga AS.














