Putin: Sanksi Lebih Lanjut atas Rusia Bisa Menyebabkan Bencana di Pasar Energi Global

Sabtu, 09 Juli 2022 | 11:22 WIB   Reporter: SS. Kurniawan
Putin: Sanksi Lebih Lanjut atas Rusia Bisa Menyebabkan Bencana di Pasar Energi Global

ILUSTRASI. Presiden Vladimir Putin mengatakan, sanksi lanjutan terhadap Rusia berisiko memicu bencana kenaikan harga energi. Sputnik/Mikhail Metzel/Kremlin via REUTERS.


KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Presiden Vladimir Putin pada Jumat (8/7) mengatakan, sanksi lanjutan terhadap Rusia atas perang di Ukraina berisiko memicu bencana kenaikan harga energi bagi konsumen di seluruh dunia.

Berbicara kepada para pemimpin industri minyak dan gas Rusia, Putin menyatakan, seruan Barat untuk mengurangi ketergantungan pada energi negeri beruang merah telah membuat pasar global “bergejolak” dengan lonjakan minyak dan gas.

Pelanggan Uni Eropa mengungkapkan, mereka ingin menghentikan pasokan gas dari Rusia. Sementara para pemimpin negara maju Kelompok Tujuh (G7) mengatakan bulan lalu, mereka ingin mengeksplorasi "batas harga" pada bahan bakar fosil Rusia, termasuk minyak.

Baca Juga: Putin: Barat Ingin Kalahkan Rusia di Medan Perang? Biarkan Mereka Mencoba

"Pembatasan sanksi terhadap Rusia menyebabkan lebih banyak kerusakan pada negara-negara yang memberlakukannya," kata Putin kepada tokoh industri termasuk CEO Rosneft Igor Sechin dan Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak.

"Penggunaan sanksi lebih lanjut bisa menyebabkan konsekuensi yang lebih parah, tanpa berlebihan, bahkan bencana, di pasar energi global," tegasnya, seperti dikutip Al Jazeera.

"Kami tahu bahwa Eropa sedang mencoba untuk menggantikan sumber energi Rusia," ujar Putin. "Namun, kami berharap, hasil dari tindakan tersebut adalah kenaikan harga gas di pasar spot dan peningkatan biaya sumber daya energi untuk konsumen akhir".

Baca Juga: Ukraina Desak Kanada Tidak Menyerahkan Turbin Gas ke Rusia

Dalam beberapa bulan terakhir, Rusia telah memutus aliran gas ke Bulgaria, Polandia, Finlandia, serta perusahaan Denmark Orsted, perusahaan Belanda Gasterra dan Shell untuk kontrak dengan Jerman.

Langkah Rusia itu setelah negara-negara dan perusahaan-perusahaan itu menolak permintaan untuk beralih ke pembayaran dalam rubel sebagai tanggapan atas sanksi Eropa.

Putin mengungkapkan, “blitzkrieg” ekonomi Barat telah gagal tetapi mengakui kerusakan telah terjadi pada ekonomi senilai US$ 1,8 triliun.

"Kita harus merasa percaya diri, tapi Anda harus melihat risikonya, risikonya masih ada," ungkap Putin.

Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru