Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI), memperketat aturan transaksi lindung nilai atau hedging untuk meredam tekanan terhadap rupee.
Kebijakan ini diperkirakan meningkatkan biaya hedging korporasi sekaligus menahan lonjakan permintaan dolar yang selama ini turut menekan mata uang India.
Mengutip Reuters, Senin (12/10/2026), enam bankir mengatakan kebijakan terbaru RBI akan meningkatkan biaya perlindungan terhadap pelemahan rupee sekitar 80 basis poin hingga 150 basis poin, bergantung pada besarnya biaya tambahan yang diteruskan bank kepada nasabah.
Baca Juga: Harga Emas Spot Stabil di US$ 4.200 Senin (12/10), Menanti Data Inflasi AS Pekan Ini
Rupee menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia, dengan pelemahan hampir 7% sepanjang tahun ini.
Tekanan terhadap rupee terutama berasal dari lonjakan harga minyak dan derasnya arus dana asing keluar dari pasar saham domestik India.
Pekan lalu, rupee mendekati level terendah sepanjang sejarah di 96,96 per dollar AS. Kondisi ini terjadi meskipun India telah menghimpun dana sekitar US$ 140 miliar melalui skema simpanan dolar khusus dan menaikkan suku bunga.
Situasi tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi RBI untuk menstabilkan nilai tukar rupee.
Untuk meredam tekanan, RBI meminta bank menyediakan cadangan terhadap transaksi hedging dalam jumlah besar.
Bank sentral juga membatasi praktik pembatalan dan pemesanan ulang kontrak derivatif terkait rupee yang selama ini lazim dilakukan pelaku pasar.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Hati-hati Senin (12/10), Waspadai Laporan Keuangan dan Inflasi AS
Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi aktivitas spekulatif dengan mempersulit perusahaan membatalkan dan membuka kembali posisi transaksi secara berulang. Selain itu, persyaratan kepatuhan untuk transaksi hedging juga diperketat.
Sebelumnya, bank biasanya membebankan margin tetap dalam satuan paisa kepada importir untuk transaksi semacam ini.
Biaya tersebut relatif kecil bagi perusahaan menengah dan besar, meskipun cenderung lebih tinggi bagi perusahaan berukuran kecil.
Namun, salah satu bankir mengatakan skema biaya tersebut kini sulit dipertahankan setelah aturan baru diberlakukan.
Data lembaga kliring menunjukkan, pembelian kontrak dolar berjangka oleh korporasi mencapai rekor US$ 77 miliar pada September 2026, meningkat 80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, penjualan kontrak dolar berjangka relatif terbatas, yakni US$ 41 miliar.
Lonjakan pembelian kontrak dolar berjangka mencerminkan meningkatnya kebutuhan perusahaan untuk melindungi diri dari risiko pelemahan rupee. Namun, permintaan hedging yang tinggi juga menambah tekanan terhadap mata uang tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Senin (12/10), Cermati Gencatan Senjata Energi Rusia-Ukraina
RBI bidik permintaan dolar importir dan perusahaan minyak
Kebijakan terbaru RBI mengejutkan pelaku pasar dan memicu serangkaian komunikasi serta pertemuan antara pejabat treasury perbankan dan nasabah korporasi sepanjang akhir pekan.
Seorang tenaga penjualan valuta asing di bank global besar mengatakan timnya bekerja hingga larut malam untuk menyiapkan prosedur, menjawab pertanyaan nasabah, dan menelaah ketentuan regulasi agar sistem siap digunakan pada perdagangan Senin.
Langkah RBI turut memicu penguatan rupee pada perdagangan di New York. Penguatan tersebut diperkirakan berlanjut ketika pasar domestik India dibuka pada Senin pukul 09.00 waktu setempat.
Baca Juga: PM Inggris Terseret Kasus Manchester City, Kerja Sama Masa Lalu Jadi Sorotan
Di tengah penguatan rupee, premi kontrak dolar-rupee berjangka diperkirakan turun.
Selain memperketat permintaan dolar dari korporasi, RBI juga berupaya mengurangi tekanan nilai tukar dengan mengizinkan perusahaan pemasaran minyak membeli dolar secara langsung dari bank sentral melalui fasilitas khusus.
Wakil Presiden Mecklai Financial Kunal Kurani mengatakan, RBI secara langsung menyasar dua sumber utama permintaan dolar harian, yakni perusahaan minyak dan importir.
Meski demikian, Kurani mengingatkan bahwa kebijakan semacam ini berpotensi hanya memberikan dampak sementara jika tekanan fundamental terhadap rupee belum mereda.














