Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (12/10/2026) di tengah harapan bertambahnya pasokan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Rusia dan Ukraina sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman mendatang turun US$ 1,37 atau 1,31% menjadi US$ 103,35 per barel pada pukul 00.37 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,30 atau 1,42% menjadi US$ 90,55 per barel.
Baca Juga: PM Inggris Terseret Kasus Manchester City, Kerja Sama Masa Lalu Jadi Sorotan
Trump pada Minggu (11/10/2026) mengumumkan kesepakatan gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina.
Pengumuman tersebut menyusul kesepakatan pasokan diesel Rusia ke pasar global yang disampaikan Trump pada Jumat (9/10/2026).
Meski demikian, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan masih menunggu rincian kesepakatan tersebut. Rusia juga belum memberikan komentar terkait pengumuman itu.
Analis utama KCM Trade Tim Waterer mengatakan, pengumuman tersebut meredakan sebagian tekanan pasokan minyak dalam jangka pendek. Namun, pasar masih mempertanyakan validitas dan keberlangsungan gencatan senjata tersebut.
"Pertanyaan masih muncul mengenai validitas dan keberlangsungan gencatan senjata tersebut. Tanpa bukti yang lebih jelas bahwa kesepakatan itu benar-benar bertahan, ruang penurunan harga kemungkinan tetap terbatas," ujarnya.
Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Energi Antara Ukraina dengan Rusia
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor penopang harga minyak Brent di atas US$ 100 per barel. Risiko gangguan pasokan meningkat seiring berlanjutnya serangan di kawasan tersebut, termasuk terhadap jalur distribusi energi.
Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu (10/10/2026) di bandara internasional Riyadh, Arab Saudi, yang menurut laporan Reuters menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Otoritas Arab Saudi juga melaporkan adanya korban luka dalam serangan baru terhadap bandara tersebut pada Minggu.
Trump sebelumnya mengatakan AS tengah mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan serangan Arab Saudi terhadap Houthi.
Konflik tersebut merupakan bagian dari meluasnya perang dengan Iran yang dilancarkan AS dan Israel pada Februari 2026.
Ancaman terhadap distribusi minyak juga datang dari meningkatnya serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker terkena serangan drone di sekitar area labuh Sohar, Oman. Kapal tanker lainnya mengalami kerusakan akibat proyektil yang belum diketahui saat melintasi Selat Hormuz.
Gangguan tersebut berpotensi menghambat pemulihan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah yang terlihat pada September lalu.
Dengan demikian, harapan bertambahnya pasokan dari Rusia masih berhadapan dengan risiko gangguan pengiriman di Timur Tengah.
Baca Juga: Elon Musk Janji Starlink Terjangkau di India, Tantang Perusahaan Milik Mukesh Ambani
Goldman Sachs naikkan proyeksi harga Brent
Di tengah perkembangan tersebut, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent pada Desember 2026 menjadi US$ 90 per barel, dari perkiraan sebelumnya US$ 85 per barel.
Analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven menyatakan, penyesuaian pasokan dari Timur Tengah pada akhirnya berpotensi menurunkan harga minyak mentah. Namun, eskalasi konflik kembali tetap menjadi risiko kenaikan harga yang signifikan.
Goldman Sachs memperkirakan premi risiko geopolitik dalam harga minyak saat ini mencapai sedikit di atas US$ 20 per barel.
Bank investasi tersebut juga memperkirakan harga WTI rata-rata mencapai US$ 81 per barel pada Desember 2026 dan US$ 73 per barel pada 2027.
Baca Juga: Paus Leo XIV Akan Menjalani Operasi Pengangkatan Nodul di Paru-paru
Harga WTI yang relatif lebih rendah dibandingkan Brent antara lain dipengaruhi tingginya biaya pengiriman minyak dari AS ke Eropa.
Sementara itu, di Teluk Meksiko, perusahaan energi Shell, Chevron, dan BP berupaya mengerahkan kembali personel serta memulihkan produksi di anjungan mereka setelah Badai Isaias mendarat pada Sabtu (10/10/2026).
Pemulihan produksi tersebut turut menjadi faktor yang dicermati pasar dalam menilai prospek pasokan minyak global.














