kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Rupiah Diproyeksi Masih Melebah, Geopolitik Timur Tengah dan Dolar AS Jadi Pemicu


Minggu, 29 Maret 2026 / 21:45 WIB
Rupiah Diproyeksi Masih Melebah, Geopolitik Timur Tengah dan Dolar AS Jadi Pemicu
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah tajam menjadi Rp 16.980 per dolar AS. Ketegangan geopolitik Timur Tengah menjadi pemicu utama (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (27/3/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot tercatat melemah 0,45% secara harian menjadi Rp 16.980 per dolar AS.

Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah 0,32% ke level Rp 16.957 per dolar AS.

Tekanan Geopolitik dan Kebijakan AS

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen eskalasi konflik di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump mengklaim telah melakukan pembicaraan untuk mengakhiri perang dengan Iran, termasuk penghentian serangan terhadap infrastruktur energi negara itu selama 10 hari.

Baca Juga: Harga Gas Kian Mahal, Pedagang Makanan dan Warga Miskin New Delhi Makin Susah

Meski demikian, AS tetap mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah, dengan kemungkinan penggunaan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.

“Seorang pejabat Iran mengatakan bahwa proposal AS yang terdiri dari 15 poin, yang disampaikan Teheran melalui Pakistan, adalah sepihak dan tidak adil,” ujar Ibrahim, Jumat (27/3/2026).

Ibrahim memperkirakan rupiah pada Senin (30/3) akan bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 16.980 – Rp 17.030 per dolar AS.

Faktor Eksternal Dominan

Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX, mengatakan bahwa tekanan terhadap rupiah masih didominasi faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS dan meningkatnya sentimen risk-off di pasar global. Potensi pelemahan hingga menembus level Rp 17.000 tetap terbuka jika sentimen negatif berlanjut.

“Meski demikian, langkah intervensi dan stabilisasi dari Bank Indonesia diharapkan mampu meredam tekanan agar depresiasi rupiah tidak terlalu dalam,” kata Amru.

Amru menambahkan, pergerakan rupiah pada Senin (30/3) akan dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong aliran dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan memicu sentimen risk-off.

Harga minyak yang tetap tinggi juga menjadi tekanan bagi Indonesia sebagai negara net importir energi. Selain itu, tingginya imbal hasil US Treasury serta kebijakan moneter hawkish dari Federal Reserve turut menopang penguatan dolar.

Baca Juga: Perang Iran Bayangi Warisan Trump, Vance dan Rubio Berebut Posisi 2028

Faktor Domestik dan Inflasi

Dari sisi domestik, perhatian pasar akan tertuju pada prospek inflasi Indonesia, yang sebelumnya tercatat sebesar 4,76%, serta menantikan rilis data inflasi terbaru pada bulan depan.

“Pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran Rp 16.900 – Rp 17.050 per dolar AS,” ujar Amru.

Dengan kombinasi tekanan global dan domestik tersebut, pelaku pasar dianjurkan untuk mencermati perkembangan geopolitik serta data ekonomi dalam menentukan strategi hedging maupun transaksi valuta asing.


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×