kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.909   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.926   -10,17   -0,17%
  • KOMPAS100 765   -0,18   -0,02%
  • LQ45 589   -1,71   -0,29%
  • ISSI 206   -0,73   -0,35%
  • IDX30 328   -1,45   -0,44%
  • IDXHIDIV20 422   -0,98   -0,23%
  • IDX80 87   -0,08   -0,10%
  • IDXV30 116   -0,04   -0,04%
  • IDXQ30 108   -0,46   -0,42%

Rusia Siap Dongkrak Ekspor Solar hingga 3,5 Juta Ton per Bulan


Selasa, 13 Oktober 2026 / 17:53 WIB
Rusia Siap Dongkrak Ekspor Solar hingga 3,5 Juta Ton per Bulan
ILUSTRASI. Rusia menargetkan ekspor solar hingga 3,5 juta ton per bulan pada akhir 2026 setelah kesepakatan pasokan bahan bakar dengan Donald Trump. (DOK/rp.pl )


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Rusia menyatakan siap meningkatkan ekspor bahan bakar diesel atau solar hingga 3,5 juta ton per bulan pada akhir 2026. Langkah ini menyusul kesepakatan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memasok solar ke pasar global, di tengah tekanan harga bahan bakar dan kebutuhan menjaga pasokan energi dunia.

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan, negaranya memiliki kapasitas untuk meningkatkan ekspor solar melampaui tingkat yang telah disampaikan Trump. Pernyataan tersebut disampaikan Novak melalui saluran televisi pemerintah Rossiya-24 pada Senin (12/10/2026).

"Kita akan melihat bagaimana situasi berkembang lebih lanjut, tetapi Rusia memiliki kapasitas untuk meningkatkan ekspor bahan bakar diesel," kata Novak.

Ia memperkirakan ekspor solar Rusia dapat mencapai 3 juta hingga 3,5 juta ton per bulan pada akhir tahun ini, atau kembali ke tingkat sebelum krisis.

Baca Juga: Penjualan Louis Vuitton Anjlok, Pemulihan Industri Barang Mewah Terancam

"Pada akhir tahun, ekspor dapat mencapai 3,0-3,5 juta ton metrik per bulan, kembali ke tingkat yang terlihat sebelum krisis," ujarnya.

Ekspor solar Rusia sebelumnya mengalami penurunan tajam akibat serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta pembatasan penjualan ke luar negeri yang diberlakukan Moskow sendiri. Sebelum gelombang serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang minyak Rusia pada 2024–2025, ekspor solar negara tersebut mencapai lebih dari 3 juta ton per bulan.

Rusia juga masih memasok solar ke sejumlah negara, terutama di Asia Tengah, melalui kesepakatan antarpemerintah meskipun memberlakukan larangan ekspor secara mandiri. Menurut sumber industri, ekspor solar Rusia ke kawasan Asia Tengah mencapai 427.000 ton pada September 2026.

Kesepakatan Rusia-AS Picu Kritik

Kesepakatan pasokan solar Rusia ke pasar global diumumkan Trump pada Jumat (9/10/2026). Pemerintahan AS juga untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap bahan bakar Rusia yang sebelumnya dirancang untuk membatasi pendapatan Moskow dalam membiayai perang di Ukraina.

Namun, kebijakan tersebut menuai kritik dari Ukraina dan sejumlah anggota parlemen AS. Mereka menilai pelonggaran sanksi berpotensi memberikan tambahan pendapatan kepada Rusia tanpa mengharuskan Presiden Vladimir Putin membuat konsesi untuk mengakhiri perang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy turut mengecam kesepakatan itu karena dinilai membalikkan kebijakan Barat selama bertahun-tahun yang bertujuan mengisolasi perekonomian Rusia.

Pada Senin (12/10/2026), Zelenskyy juga menyatakan bahwa serangan Rusia terhadap sedikitnya enam sasaran energi dalam gelombang serangan udara terbaru menunjukkan Moskow tidak memiliki ketertarikan terhadap gencatan senjata di sektor energi.

Baca Juga: Saham AI Berguguran, Investor Khawatir Biaya Modal Naik dan Belanja Melambat

Di sisi lain, utusan Trump dilaporkan telah menyampaikan kepada pejabat Ukraina pada Jumat bahwa kesepakatan solar tersebut merupakan bagian dari upaya membawa Rusia kembali ke meja perundingan.

Menurut tiga sumber yang mengetahui pertemuan tersebut kepada Reuters, langkah itu ditempuh setelah upaya sebelumnya untuk memulai pembicaraan berkelanjutan guna mengakhiri perang tidak berhasil.

Harga Solar AS dan Pasokan Global

Peningkatan pasokan solar Rusia juga berkaitan dengan tekanan harga bahan bakar di Amerika Serikat. Kenaikan harga solar di negara tersebut membebani perusahaan angkutan truk dan petani, sekaligus menjadi perhatian pemilih serta partai politik menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026.

Novak mengatakan, pasokan solar Rusia berdasarkan kesepakatan dengan Trump dapat membantu menyeimbangkan permintaan dan penawaran di pasar global.

"Kita sudah melihat dampak ini, termasuk di pasar solar global, di mana harga telah turun sekitar lima hingga enam persen," kata Novak.

Meski demikian, skala pasokan yang diumumkan Trump perlu dilihat dalam konteks kebutuhan energi AS. Pada Jumat, Trump menyatakan Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton solar, setara dengan sekitar 2,25 juta barel, ke pasar AS dan global.

Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi AS (EIA), sektor transportasi AS saja menggunakan sekitar 2,94 juta barel solar per hari. Dengan demikian, volume awal yang diumumkan tersebut masih lebih kecil daripada kebutuhan satu hari sektor transportasi AS.

Baca Juga: ASEAN Butuh Investasi Energi US$ 14,1 Triliun hingga 2060, Ini Pendorongnya

Trump juga menyebut Rusia akan memasok tambahan 500.000 ton pada November dan 1 juta ton lagi setelahnya.

Rusia Klaim Pasokan Energi ke Eropa Capai US$ 320,7 Miliar

Dalam pernyataan yang sama, Novak turut menanggapi angka pemerintah AS yang memperkirakan nilai sumber daya Rusia yang dijual ke Eropa mencapai US$ 250 miliar.

Menurut Novak, nilai tersebut jauh lebih rendah daripada realisasi yang diklaim Rusia.

"Angka untuk periode 2022 hingga saat ini adalah US$ 320,7 miliar," ujar Novak kepada Rossiya-24.

"Ini adalah volume sumber daya energi yang dipasok ke negara-negara Uni Eropa," tambahnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hubungan perdagangan energi Rusia dengan sejumlah negara Eropa masih menjadi bagian penting dalam dinamika pasar energi sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022.

Ke depan, kemampuan Rusia untuk meningkatkan ekspor solar akan bergantung pada kapasitas produksi, kondisi operasional kilang minyak, serta kebijakan pembatasan ekspor yang berlaku. Sementara itu, dampak kesepakatan dengan AS terhadap harga energi global dan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Ukraina masih akan menjadi perhatian pasar.




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×