kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.909   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.926   -10,17   -0,17%
  • KOMPAS100 765   -0,18   -0,02%
  • LQ45 589   -1,71   -0,29%
  • ISSI 206   -0,73   -0,35%
  • IDX30 328   -1,45   -0,44%
  • IDXHIDIV20 422   -0,98   -0,23%
  • IDX80 87   -0,08   -0,10%
  • IDXV30 116   -0,04   -0,04%
  • IDXQ30 108   -0,46   -0,42%

ASEAN Butuh Investasi Energi US$ 14,1 Triliun hingga 2060, Ini Pendorongnya


Selasa, 13 Oktober 2026 / 16:07 WIB
ASEAN Butuh Investasi Energi US$ 14,1 Triliun hingga 2060, Ini Pendorongnya
ILUSTRASI. ASEAN Ministers on Energy Meeting (AMEM) ke-44 (REUTERS/Lisa Marie David)


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

​KONTAN.CO.ID. ASEAN membutuhkan investasi kumulatif sekitar US$ 14,1 triliun hingga 2060 untuk mempercepat transisi energi dan memperkuat ketahanan energi kawasan.

Kebutuhan investasi tersebut mencakup pengembangan energi terbarukan, perluasan jaringan listrik, elektrifikasi, serta peningkatan efisiensi energi di berbagai sektor.

Hal tersebut tertuang dalam laporan 9th ASEAN Energy Outlook (AEO9) yang diluncurkan ASEAN Centre for Energy (ACE).

Laporan ini menyoroti pentingnya pengelolaan permintaan energi, integrasi infrastruktur lintas negara, serta mobilisasi investasi untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi di Asia Tenggara.

Baca Juga: Jaksa Filipina Cabut Tiga Dakwaan Pemakzulan terhadap Wapres Sara Duterte

Dalam skenario dasar atau Baseline Scenario (BAS), konsumsi energi final ASEAN diperkirakan meningkat dari sekitar 485 juta ton setara minyak (million tonnes of oil equivalent/Mtoe) pada 2025 menjadi 2.047 Mtoe pada 2060.

Lonjakan permintaan tersebut didorong oleh pertumbuhan industri, transportasi barang, kebutuhan pendinginan rumah tangga, urbanisasi, serta perkembangan layanan digital.

Di sisi lain, posisi perdagangan bahan bakar fosil ASEAN diperkirakan semakin kurang menguntungkan. Ketergantungan terhadap impor minyak meningkat, sementara daya saing ekspor bahan bakar fosil lainnya melemah.

Kondisi ini membuat kawasan lebih rentan terhadap gangguan pasokan global yang dapat meningkatkan biaya produksi dan menekan perekonomian.

Direktur Eksekutif ACE Dato’ Ir. Ts. Razib Dawood mengatakan, ketahanan energi kawasan tidak hanya bergantung pada kemampuan memproduksi atau mengimpor energi, tetapi juga pada efisiensi penggunaan dan integrasi sistem energi antarnegara.

“Koordinasi regional kini menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan energi tetap terjangkau, andal, dan berketahanan seiring meningkatnya permintaan,” ujar Razib dalam keterangan laporan AEO9 Selasa (13/10/2026).

Baca Juga: Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi 18 Bulan, Pasar Cermati Arah The Fed

Efisiensi Energi Tekan Konsumsi

AEO9 membandingkan tiga skenario transisi energi, yakni BAS, AMS Target Scenario (ATS), dan ASEAN Coordinated Transition Scenario (ACTS).

Ketiganya merupakan gambaran kemungkinan perkembangan sistem energi berdasarkan perbedaan tingkat implementasi kebijakan, pencapaian target, pemanfaatan teknologi, investasi, dan kerja sama regional, bukan prediksi pasti.

Dalam skenario ATS, yang memperhitungkan kebijakan dan target nasional negara anggota ASEAN, konsumsi energi final pada 2060 diperkirakan mencapai 1.482 Mtoe.

Sementara itu, skenario ACTS yang mengandalkan percepatan efisiensi energi, elektrifikasi, peralihan bahan bakar, dan koordinasi regional dapat menekan konsumsi energi final menjadi 1.073 Mtoe. Angka ini hampir separuh dari konsumsi yang diperkirakan dalam skenario dasar.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak harus selalu diikuti kenaikan konsumsi energi dalam skala yang sama.

Efisiensi dan perubahan teknologi dapat menekan kebutuhan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor.

Dalam skenario ACTS, porsi listrik dalam konsumsi energi final ASEAN diperkirakan meningkat menjadi 57,2% pada 2060, jauh di atas proyeksi 22,6% dalam skenario BAS.

Untuk mencapai perubahan tersebut, negara-negara ASEAN perlu memperkuat standar efisiensi, mempercepat elektrifikasi, serta mengganti teknologi yang tidak efisien.

Langkah ini juga diperlukan untuk menghindari ketergantungan jangka panjang pada infrastruktur dengan konsumsi energi tinggi.

Baca Juga: Kospi Anjlok 5,5% Selasa (13/10), Kekhawatiran Chip AI China Guncang Bursa Asia

Kapasitas Energi Terbarukan Perlu Dipercepat

Selain mengendalikan permintaan, ASEAN perlu mempercepat pengembangan energi terbarukan dan memperkuat sistem ketenagalistrikan.

AEO9 menyebut, untuk mencapai target energi terbarukan sebesar 45% dari total kapasitas pembangkit listrik terpasang pada 2030, kawasan perlu menambah kapasitas sekitar 26 gigawatt (GW) per tahun. Angka tersebut hampir empat kali lipat dari laju penambahan tahunan sebelumnya.

Tantangan lainnya adalah potensi energi terbarukan, pusat konsumsi energi, dan sumber fleksibilitas sistem yang tersebar tidak merata di antara negara anggota.

Karena itu, pengembangan pembangkit perlu berjalan seiring dengan penguatan jaringan listrik domestik, penyimpanan energi, dan fleksibilitas sistem.

Integrasi melalui ASEAN Power Grid serta perdagangan listrik lintas batas juga menjadi bagian penting untuk memanfaatkan sumber daya energi secara lebih efisien.

Interkoneksi listrik memungkinkan negara-negara anggota mengakses sumber pembangkitan dan pola permintaan yang saling melengkapi.

Selain meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi, integrasi tersebut dapat memperkuat keandalan pasokan regional.

Namun, realisasi manfaat tersebut membutuhkan perencanaan bersama, penyelarasan standar teknis, serta aturan pasar yang mendukung perdagangan listrik lintas negara.

Baca Juga: Rusia Klaim Serang Kapal Pengangkut Barang Militer ke Ukraina

Investasi Tak Cukup Hanya Bangun Pembangkit

Dalam skenario ACTS, kebutuhan investasi kumulatif hingga 2060 diperkirakan mencapai US$ 14,1 triliun, atau rata-rata sekitar US$ 405 miliar per tahun.

Investasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk pembangunan pembangkit energi terbarukan, tetapi juga mencakup perluasan jaringan listrik domestik dan lintas batas serta penggantian dan peningkatan teknologi di sektor industri, transportasi, bangunan komersial, dan rumah tangga.

ACE menilai tantangan pendanaan tidak cukup diatasi dengan menambah volume pembiayaan. ASEAN juga memerlukan proyek yang siap didanai, perencanaan infrastruktur yang terintegrasi, kontrak yang layak secara finansial, akses jaringan yang transparan, serta pembagian risiko yang adil.

Kebutuhan koordinasi menjadi semakin penting untuk proyek lintas negara, terutama dalam menentukan pembagian biaya dan skema pembiayaan di antara negara-negara yang terlibat.

Razib mengatakan, keberhasilan transisi energi ASEAN akan ditentukan oleh pelaksanaan proyek dan kesiapan infrastruktur pendukungnya.

Kawasan membutuhkan lebih banyak proyek yang layak dibiayai, jaringan listrik yang lebih kuat, serta aturan pasar yang memberikan kepastian kepada investor.

Baca Juga: Kim Jong Un Pamerkan Rudal Hwasong-20, Mampu Jangkau Amerika Serikat

AEO9 juga menempatkan target energi ASEAN 2030 sebagai tonggak percepatan implementasi, bukan akhir dari proses transisi.

Pasalnya, pembangkit, jaringan listrik, fasilitas industri, bangunan, dan kendaraan memiliki masa operasi yang panjang sehingga keputusan investasi saat ini akan memengaruhi ketahanan energi, daya saing, kebutuhan pembiayaan, dan emisi kawasan hingga beberapa dekade mendatang.

Untuk itu, ACE mendorong arah kebijakan jangka panjang yang konsisten melalui setiap siklus ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC), dengan tetap mempertimbangkan kondisi masing-masing negara.

Kepastian kebijakan, kapasitas perencanaan, regulasi, pembiayaan, dan implementasi dinilai penting untuk mendorong keterlibatan pemerintah, perusahaan utilitas, dan investor.




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×